Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Bincang-bincang Arda Chandra dan Syema Priskila : Soal Kepastian Masuk Surga Kristen




Tulisan ini hanyalah 'perbincangan ringan di sore hari', tidak berisi argumentasi yang penuh dengan referensi. Tujuan disampaikan agar bisa diambil manfaatnya oleh rekan-rekan Muslim bagaimana cara menjawab suatu 'sodoran' yang sering kita dapatkan dari umat Kristen, yaitu tentang ajaran mereka yang menyatakan 'pasti masuk surga'. Bahkan dalam beberapa diskusi saya menemukan pernyataan yang lebih 'bombastis' - 'sudah masuk surga', sekalipun kita sama-sama bisa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa yang berbicara masih menjalani hidup di dunia, bersusah-payah mencari nafkah, terserang penyakit, ketakutan akan mara bahaya, persis sama dengan mereka yang bukan menganut agama Kristen.

Tentu saja ketika kita membuka peluang untuk berbincang soal masuk surga, sebagai Muslim kita bisa memberikan masukan bagaimana yang terdapat dalam ajaran Islam. Namun melalui Al-Qur'an, Allah memberikan panduan jawaban yang 'menusuk ke relung hati' umat Kristen, ketika disampaikan kalimat : "Inginilah kematianmu...!!". Pernyataan ini sebenarnya tidak perlu dijawab karena alamatnya ditujukan kepada hati nurani. maka biarkanlah lawan anda tersebut merenungkannya, berbicara langsung kepada hatinya sendiri.

Saya melengkapi tulisan dengan video lagu dengan thema terkait yang saya dapatkan dari rekan saya JP Jones, namun terus-terang saya tidak begitu paham artinya secara keseluruhan karena kelihatannya berbahasa American English. Bagi anda yang mengerti bisa menyampaikan terjemahannya dalam bahasa Indonesia, dan untuk itu saya mengucapkan terima kasih sebelumnya.

Ini bincang-bincangnya :

Syema Priskila : Salam.. Teman muslim saya bilang, dia lebih baik masuk neraka asalkan tetap islam, daripada percaya Yesus adalah Juruselamat... Padahal TUHAN sendiri berkata kalau kita percaya kepada Yesus kita pasti diselamatkan dan masuk surga..... Kenapa dia tidak mau?? Saya ingat ayat Alkitab yaitu Yoh 8 : 44-45 dan Yoh 3 : 20. 

Arda Chandra : Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka INGINILAH KEMATIAN (MU), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (Al-Baqarah 94-95) 

Syema Priskila : Dipikiran muslim taunya cuma nyembah2 doang... Kalau ada perintah nyuruh nyembah maka Tuhanlah ia. Padahal iblis pun sangat terlalu suka memerintahkan manusia agar menyembah dirinya. 

Syema Priskila : Orang yang percaya dan menerima Yesus pasti selamat, siapapun dia dan agama apapun dia.... Berbeda dengan Islam yang mengklaim bahwa hanya beragama islam yang akan masuk surga.. Dalam keimanan Kristinani... Agama itu tidak menyelamatkan. 

Arda Chandra : Kristen berlagak surga sudah dijamin, tapi tidak mau segera mati untuk mendapatkannya dan masih memilih untuk meneruskan hidup di dunia dengan penuh cobaan dan kesengsaraannya. Buktikan saja dulu bahwa anda memang yakin pasti masuk surga dengan membiarkan diri dimakan penyakit tidak usah ke dokter, mau masuk surga dengan segera koq menghindar..? 

Syema Priskila : Dalam islam saya tau bahwa jaminan surga pasti jikalau seseorang mau rela terbunuh dan membunuh demi Allah swt... Makanya banyak pelaku bom bunuh diri. Sedangkan pengikut Kristus, tidak diperkenankan mati konyol demi surga.... 

Arda Chandra : Hayo buruan masuk surga, segera menjemput kematian, tidak usah banyak alasan mikirin Islam segala. Kalau nanti sudah masuk jangan lupa kirim khabar.. 

Arda Chandra : Allah mengerti betul bagaimana rapuhnya keimanan Kristen soal jaminan masuk surga ini makanya Dia yang Maha tahu isi hati orang menyampaikan tantangan-Nya : 

Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka INGINILAH KEMATIAN (MU), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (Al-Baqarah 94-95) 

Ini bukan dari saya atau dari nabi Muhammad tapi dari Allah, satu-satunya Tuhan tempat kita kembali kelak.. 

Syema Priskila : Saya kira ayat ini adalah bumerang bagi kamu bro, karena siapakah yang menganggap bahwa hany agamanya yang akan masuk surga selain islam?? Sedangkan Alkitab mencatat "supaya setiap orang yang percaya tidak binasa" artinya mau islam, hindu, budha, Kristen akan selamat jika percaya kepada Yesus Kristus. 

Arda Chandra : Iya, anda khan sudah percaya, buruan sana mengharapkan kematian segera, koq masih betah di dunia yang penuh penderitaan dan cobaan ini..? harus banting tulang cari nafkah, diancam bahaya, bencana alam, dll. Di surga khan aman sentosa..? Koq tidak anda buktikan pernyataan anda tersebut, nanti kalau sudah mati dan sudah sampai disana jangan lupa kirim khabar supaya saya bisa ikut.. 

Syema Priskila : Mengharapkan kematian?? inilah salah satu siasat iblis bahwa orang yang bersegera bom bunuh diri dijamin surga. Percayakah muslim? 

Arda Chandra : Tidak usah mikirin umat Islam, status anda khan mengajak orang untuk percaya kepada Yesus supaya pasti masuk surga. Anda buktikan dahulu, baru yang lain ikut. Ayo buruan mati dan kalau sudah sampai di surga cepat kirim khabar supaya yang lain ikut. Mati demi membuktikan keimanan bukan mati konyol toh,.. Makanya dari dulu saya bilang jangan ada yang percaya kalau Kristen menjual kepastian masuk surga, lha mereka sendiri menghindar supaya cepat masuk surga koq.., 

Arda Chandra : Ini datang dari Allah, Tuhan tempat anda kembali kelak , suka atau tidak suka : 

Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka INGINILAH KEMATIAN (MU), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (Al-Baqarah 94-95) 

Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (Faathir: 38) 

Arda Chandra : Makanya saya dari dulu tidak percaya kalau ada Kristen yang menawarkan kepastian masuk surga, lha mereka sendiri pada menghindar koq. Kalau saya sendiri yakin pasti masuk surga, sekarang juga saya bakalan bunuh diri, bukan karena putus asa tapi DEMI MEMBUKTIKAN KEYAKINAN SAYA, itulah keimanan yang setinggi-tingginya.. Makanya buang jauh-jauh jualan kepastian masuk surga, karena anda sendiri tidak meyakininya. 

Arda Chandra : Waduh..jangan-jangan si Syema Priskila benar-benar lagi mau bunuh diri nih... 

Syema Priskila : Tetap islam tapi masuk neraka untuk apa?? 

Arda Chandra : Waaah..masih mengurusin Islam, kalau ajaran Islam memang tidak memberikan iming-iming pasti masuk surga, tapi sebaliknya juga bukan dikatakan pasti masuk neraka. Jadi kami cuma berusaha sekuat tenaga selama hidup untuk selalu mengikuti perintah dan larangan dari Allah.

Sekarang ini anda yang menawarkan kepastian surga dalam status anda diatas, jadi silahkan buktikan supaya kami bisa yakin juga seperti anda. kalau anda tidak segera membuktikannya dan malah melakukan hal yang sebaliknya, berusaha untuk segera masuk surga. lalu bagaimana kami bisa percaya dengan jualan anda ? 

Arda Chandra : Sudah mau maghrib, saya cabut dulu dan kalau tidak ada argumentasi yang baru, saya sudahi saja diskusinya, silahkan kalau mau dilanjutkan dengan yang lain 

Syema Priskila : Berusaha sekuat tenaga! Yah memang itulah yang muslim yakini, bahwa kesurga itu adalah "usaha" maka dari itu muslim tidak akan ada satupun yang dapat yakin karena memang "usaha". 

(Catatan : Saya menyudahi diskusinya dan memutuskan untuk tidak melanjutkan, karena lawan diskusi malah sibuk mempermasalahkan soal ajaran Islam, bukannya malah berusaha untuk membuktikan ajaran kepastian masuk surganya)

Apakah budak wanita boleh digauli tanpa dinikahi..?

Berita : 

New York, 4/3 (ANTARA) - Pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid yang menyatakan adanya TKW di negara-negara Arab yang diperlakukan sebagai "amataun" atau budak yang bisa diperlakukan apa saja, dianggap keliru oleh seorang tokoh Islam di New York. 

M. Syamsi Ali, seorang anggota Majelis Suro Muslim Kota New York, yang menanggapi pernyataan Gus Dur mengenai persoalan TKW di negara-negara Arab, mengatakan kekeliruan pertama adalah Gus Dur masih melihat bahwa Islam membenarkan menggauli budak tanpa akad nikah. Sehingga orang-orang Saudi menggauli pembantunya, karena mereka menilai TKW itu adalah budak mereka. 

Dalam Al Qur'an, kata budak perempuan diistilahkan "amataun". Misalnya firman Allah dalam Al Baqarrah ayat 221: "Dan Budak perempuan itu lebih baik bagimu dari seorang musyrik kendati ia mena'jubkan bagimu". "Kata amataun inilah yang masih bermakna budak perempuan. Dalam ayat di atas Allah memberitahukan kepada orang-orang beriman, jika ingin kawin maka carilah pasangan yang beriman, kendati ia adalah seorang budak," ujar Syamsi yang juga Anggota Dewan Pengurus Muslim Foundation of America, Inc.  

Namun jika budak itu disebutkan dalam konteks "pergaulan suami-isteri" dan menyangkut masalah seksual, ia tidak lagi disebut "amataun", melainkan "milkul yamiin" (milik tangan kanan), yang dapat diartikan dimiliki secara sah. Penyebutan milkul yamiin selama ini secara tradisional disebut sebagai "hamba perempuan". Padahal, penafsiran ini, katanya, sangat bertentangan dengan ruh Islam, yang menghapuskan segala bentuk perbudakan dan menghalalkan hubungan seksual hanya dengan melalui proses akad nikah. 

Dengan demikian, pengertian milkul yamiin tidak bisa lagi diartikan sebagai budak perempuan, melainkan perempuan yang dimiliki secara sah karena sudah dinikahi, sekaligus diartikan sebagai bekas budak wanita yang kini telah bebas dengan pernikahan tersebut. "Sebab dengan dinikahi, berarti wanita tersebut telah terbebas dari perbudakan," ujar lulusan salah satu universitas Islam di Pakistan itu. 

Contohnya adalah Ibrahim yang menikahi Siti Hajar, seorang budak wanita yang merupakan pemberian seorang raja kepadanya. Dengan dinikahinya, Siti Hajar tidak lagi disebut sebagai budaknya melainkan isterinya. Masalah ini sampai sekarang tidak mau diakui oleh orang-orang yahudi, sehingga bagi mereka orang-orang Arab adalah keturunan budak (Ismail). 

Dengan demikian, lanjutnya, Islam tidak pernah membolehkan penganutnya menggauli budak tanpa nikah. Melainkan jika ingin menggaulinya, nikahi sehingga berupa status dari "amataun" (budak perempuan) menjadi "Milkul Yamiin" (dimiliki secara sah) sebagai isteri. Pengertian ini sekaligus menguatkan komitmen Islam untuk menghapus berbagai bentuk perbudakan di atas bumi ini. 

Al Qur'an ada 127 Ayat Yang Hilang?

Salah satu rujukan misionaris untuk menyatakan Al-Qur’an palsu adalah buku The Origins of the Koran, Classic Essays on Islam’s Holy Book karya Ibn Warraq (nama samaran). Setelah keluar dari Islam, murtadin asal Pakistan yang pernah menjadi kurir Salman Rushdie ini mendirikan Institute for the Secularisation of Islamic Society (ISIS), yang memfokuskan diri pada kritik Al-Qur’an.
Di antara amunisi Ibn Warraq untuk menggugurkan otentisitas Al-Qur’an adalah tudingan bahwa surat Al-Ahzab yang dimiliki umat Islam ini sudah tidak asli, karena menyusut 127 ayat dari Al-Qur’an asli yang diajarkan Rasulullah SAW. Berikut kutipannya:
“Variant Versions: Verses Missing, Verses Added. Almost without exceptions Muslims consider that the Quran we now possess goes back in its text and in the number and order of the chapters to the work of the commission that ‘Uthman appointed. Muslim orthodoxy holds further that ‘Uthman’s Quran contains all of the revelation delivered to the community faithfully preserved without change or variation of any kind and that the acceptance of the ‘Uthmanic Quran was all but universal from the day of its distribution. The orthodox position is motivated by dogmatic factors; it cannot be supported by the historical evidence. –Charles Adams–While modern Muslims may be committed to an impossibly conservative position, Muslim scholars of the early years of Islam were far more flexible, realizing that parts of the Koran were lost, perverted, and that there were many thousand variants which made it impossible to talk of the Koran. For example, As-Suyuti (died 1505), one of the most famous and revered of the commentators of the Koran, quotes Ibn ‘Umar al Khattab as saying: “Let no one of you say that he has acquired the entire Quran, for how does he know that it is all? Much of the Quran has been lost, thus let him say, ‘I have acquired of it what is available’” (As-Suyuti, Itqan, part 3, page 72). Aisha, the favorite wife of the Prophet, says, also according to a tradition recounted by as-Suyuti, “During the time of the Prophet, the chapter of the Parties used to be two hundred verses when read. When ‘Uthman edited the copies of the Quran, only the current (verses) were recorded” (73)” (The Origins of the Koran, Classic Essays on Islam’s Holy Book, editor Ibn Warraq, p. 5-6)
[Bermacam Versi: Ayat yang Hilang dan Ayat yang Ditambahkan. Tanpa kecuali, setiap orang Islam mengatakan bahwa Quran yang kita miliki sekarang sama persis baik dalam teks, nomor dan urutan bab dengan Al-Qur'an yang disusun oleh komisi yang ditunjuk khalifah Usman. Malah Muslim konservatif mengatakan bahwa Qurannya Usman berisi semua wahyu yang disampaikan pada masyarakat dan dijaga dengan teliti tanpa mengalami satu perubahan atau variasi macam apapun. Dikatakan pula bahwa Qurannya Usman memang universal dari hari pertama disebarkan. Tapi sikap ortodoks ini dimotivasi oleh faktor dogma yang tidak didukung bukti sejarah. (Charles Adams).
Sementara kaum cendekiawan Muslim dari tahun-tahun awal Islam jauh lebih fleksibel daripada Muslim sekarang. Mereka menyadari bahwa ada bagian-bagian Al-Qur'an yang hilang, menyimpang, dan ada banyak ribu variasi. Misalnya, As-Suyuti (wafat 1505), salah seorang pakar Al-Qur'an yang paling terkenal dan dihormati, mengutip pernyataan Ibnu Umar Al-Khatthab: "Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan bahwa ia telah mendapatkan seluruh Quran, karena bagaimana dia tahu bahwa itu memang keseluruhannya? Banyak dari Quran telah hilang. Oleh karena itu kalian harus mengatakan, "Aku telah mendapatkan bagian Al-Qur'an yang ada" (As-Suyuti, Itqan, jilid III, halaman 72). As-Suyuti juga menceritakan, Aisyah istri tersayang nabi mengatakan, “Pada masa Nabi, surat Al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Tapi setelah Usman melakukan kodifikasi, jumlahnya menyusut menjadi seperti sekarang (yakni 73 ayat)”]

Jawaban :
Tuduhan bahwa Al-Qur’an kehilangan 127 ayat itu, sampai sekarang menjadi rujukan para misionaris Kristen maupun untuk memurtadkan umat Islam. Misionaris lain yang mengungkapkan tudingan itu adalah Robert Morey dalam bukunya The Islamic Invasion.
Secara sederhana, validitas khabar yang dikutip Ibn Warraq itu patut dipertanyakan, karena tidak mencamtumkan sanad yang shahih sampai kepada shahabat Aisyah RA.
Secara ilmiah, ulama hadits Syaikh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur menyimpulkan bahwa riwayat tersebut tidak bisa dipercaya. Penulis kitab tafsir At-Tahrir Wat-Tanwir –yang lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Asyur– ini menyebut riwayat yang men­­catut nama Aisyah Ummul Mukminin itu sebagai “sanad yang paling lemah” (Tafsir At-Tahrir Wat-Tanwir X/246).
Ulama lainnya, Syaikh Muhammad Izzah Daruzah yang telah melakukan penelitian terhadap khabar itu, menyebutnya sebagai khabar yang tidak dipercaya (dhaif) dan tidak terdapat dalam kitab hadits yang shahih. Maka tawaquf (abstain) dari khabar tersebut lebih afdhal.
Selain itu, dalam mushaf Utsman RA dinukil dari mushaf yang telah disusun pada masa Abu Bakar RA, tidak mungkin terjadi penghapusan satu ayat pun, apalagi sampai ratusan ayat seperti yang dituduhkan itu. Apalagi Aisyah RA adalah wanita yang kuat hafalan baik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits nabi. Sehingga sangat tidak masuk akal jika Aisyah hanya berdiam diri saat menjumpai ada ratusan ayat yang dihapus. Kalaupun pengurangan ayat itu terjadi tidak masuk akal pula kalau dirinya tidak membantah” (At-tafsir Al-Hadits; Tafsir Suwar Murattabah Hasba Nuzul, VIII/238-239).
Secara logika, penyusutan ayat dari 200 menjadi 73, artinya hilang 127 ayat. Ini bukan suatu jumlah yang sedikit. Seandainya Utsman RA mengorupsi 127 ayat Al-Qur’an pada proses pem­bukuan, bisa dipastikan umat Islam akan heboh pada waktu itu, bahkan bisa terjadi konflik berdarah yang akan menggagalkan proses pembukuan Al-Qur’an. Jika berani mengo­rupsi ayat Al-Qur’an meskipun hanya satu ayat, pastilah Utsman akan menuai komplain dari para shahabat lainnya, karena jumlah shaha­bat yang hafal Al-Qur’an sangat banyak.
Riwayat dhaif tentang komplain Aisyah terhadap mushaf Al-Qur’an, semakin terbantah dengan adanya ijma’ (consensus) umat Islam terhadap mushaf Al-Qur’an pada waktu itu. Setelah mushaf Al-Qur’an pada masa Utsman selesai dibukukan, naskah tersebut diverifikasi dan dicek dengan mushaf dari Hafshah, lalu dibacakan kepada para shahabat di depan Utsman. Ternyata tak satupun shahabat penghafal Al-Qur’an yang mem­protes (komplain).
Jelaslah bahwa tak satu ayat pun hilang dari Al-Qur’an. Sebaliknya, jika diteliti secara objektif, justru Bibel kehilangan banyak kisah tentang masa remaja Yesus.
Bibel hanya mencatat masa kecil Yesus dari lahir hingga masa remaja berumur 12 tahun dalam Injil Lukas 1:1 sampai dengan 2:42. Selanjutnya Bibel tidak menceritakan masa remaja Yesus, tiba-tiba Injil Lukas 3:23 menceritakan masa dewasa Yesus pada usia 30 tahun. Lalu di manakah cerita perjalanan hidup Yesus dari usia 12 hingga 30 tahun? Raib!
Dengan tidak adanya kisah perjalanan hidup Yesus selama 18 tahun, berarti umat kristiani kehilangan banyak ayat, karena mereka mengimani Yesus sebagai Firman Tuhan yang hidup. (- DZ-KeajaibanIslam-)

Mendakwahi Raja Thaghut Fir'aun Saja, Allah Perintahkan Berkata Lembut..

Oleh: Badrul Tamam (voa-islam.com)

Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. 


Berlemah-lembut dan tidak berkata kasar salah satu akhlak mulia yang sangat diagungkan Islam. Ini akan membantu terciptanya suasana harmonis dalam masyarakat muslim. Apalagi bagi para dai dan pemberi nasihat, keduanya sangat membantu tugas mereka dalam mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. 

Sebaliknya sikap kasar, galak, suka mencela, dan mudah menyematkan gelar sesat terhadap objek dakwah (saudara yang akan disadarkan) malah akan menimbulkan penolakan dan perlawanan. Karenanya tepat sekali apa yang disabdakan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

 مَا كَانَ الرِّفْقُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ, وَمَا كَانَ الْعُنْفُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ 

“Tidaklah lemah lembut dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah sikap keras dalam segala sesuatu kecuali dia akan merusaknya.” (HR Muslim) 

Sikap lemah lembut, tutur kata santun, penuh adab, dan tanpa sikap kasar dan tanpa arogan merupakan hikmah dari sunnatullah dalam mencipta dan memerintah serta tuntutan dalam mengimani nama Allah Al-Rafiiq; artinya: Mahalembut, Mahabaik, dan Mahamenyertai. 

Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda, 

 إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ “

Sesungguhnya Allah Mahalembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim) 

Allah Ta’ala Mahalembut dalam perbuatan-Nya, yaitu ketika Dia menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan bertahap, sedikit demi sedikit sesuai dengan hikmah dan kelembutan-Nya. Padahal Dia mampu menciptakannya sekaligus, dalam waktu sekejap. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga Mahalembut dalam memerintah dan melarang. Dia tidak membebani hamba-Nya dengan beban-beban yang banyak secara sekaligus. Tapi, berangsur-angsur dari satu kondisi kepada kondisi yang berikutnya sehingga jiwa siap menanggungnya dan tertata emosinya. Hal itu seperti turunnya perintah puasa fardhu, pengharaman khamar, riba dan lainnya. 

Berarti bahwa orang yang melakukan sesuatu dengan kelembutan dan tenang telah mengikuti sunnatulah dalam menciptakan alam semesta dan mengikuti petunjuk Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. 

Perintah Berkata Lembut Mendakwahi Raja Thaghut ‘’Fir’aun’’ 

Al-Qur'an mengabadikan, saat Fir’aun sudah sampai pada puncak ketaghutan dengan mengatakan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi,” maka Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkannya dan mendakwahinya seraya berpesan, 

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى “

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44) 

Yakni dengan bahasa yang mudah dipahami, halus, lembut, dan penuh adab tanpan sikap kasar, arogan, dan intimidasi dalam berkata atau bertindak brutal. Semoga dengan perkataan yang lembut ini dia jadi ingat dengan sesuatu yang bermanfaat untuknya sehinga dia melaksanakannya atau takut dengan apa yang membahayakannya sehingga dia meninggalkannya. Kemudian Allah menerangkan tentang ucapannya tersebut, 

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى () وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى “

Dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?".” (QS. Al-Naazi’aat: 18-19) 

Itulah kalimat yang digunakan Musa dan Harun dalam mendakwahi Fir’aun, seorang thaghut yang kafir. Kenapa ada sebagian kaum muslimin yang mendakwahi dan menasihati kawannya dengan kalimat cela, mengkhawarijkan, menyesatkan, dan ungkapan-ungkapan buruk dan kasar lainnya? Apakah dia menginginkan mengeluarkan saudaranya dari keburukan ataukah sebaliknya, menginginkan keburukan tetap kukuh pada diri sahabatnya? 

Berkatalah seorang shalih saat mendengar ayat ini, “Mahasuci Engkau wahai Rabb, apabila seperti ini sikap baik-Mu kepada Fir’aun yang telah mengucapkan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. Al-Naazi’aat: 24) 

Maka bagaimana sikap baik-Mu kepada hamba yang mengucapkan, “Mahasuci Engkau Wahai Tuhanku yang Maha Tinggi.” 

Jika ini adalah kelemahlembutanmu kepada kepada Fir’aun yang telah mengucapkan, “Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS. Al-Qashash: 38) 

Lalu bagaimana kelemahlembutan-Mu terhadap hamba yang masih berucap Laa Ilaaha Illallaah (Tiada tuhan berhak disembah kecuali Allah)." Maka wahai para muwahhid, berlemah lembutlah dan berkatalah yang baik serta jangan gampang menyematkan gelar-gelar sesat kepada saudaramu yang tergelincir. Wallahu Ta’ala A’lam.

Diskusi Arda Chandra dan Jimmy Jeffry; Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an (Bagian 5)


Arda Chandra : Pak Jimmy Jeffry yang tidak ada itu catatan hadits atau tarikh yang menyebutkan kalimat 'hapal seluruh Al-Qur'an' atau 'hapal seluruh Al-Qur'an 30 juz sesuai susunan yang ditetapkan nabi Muhammad', yang ada itu hadits yang menyatakan para sahabat hapal Al-Qur'an', kami umat Islam memahami kata 'hapal Al-Qur'an tersebut artinya 'hapal seluruh ayat Al-Qur'an' dengan argumentasi yang saya kemukakan diatas.. 

Kelihatannya pada akhirnya diskusi kita sudah sampai kepada 'semangat untuk memberikan pukulan terakhir', seperti yang sering terjadi pada diskusi lain pada umumnya. Saya tidak berminat untuk mengulang kembali argumentasi yang sudah saya sampaikan sekalipun dengan cara untuk 'menyegarkannya' saya melakukan 'modifikasi' supaya kelihatan 'fresh', tetap saja nanti para pembaca jadi bosan. 

Jadi terkait soal hapalan, saya tidak mengajukan argumentasi baru lagi. 

Topik baru yang muncul adalah soal ayat nasikh-mansukh ketika kita mendiskusikan soal riwayat Abdullah bin Umar. Pertanyaan anda 'Terutama fokus pd kalimat "MUCH of the Qur'an has gone..". Namun kalimat berikut kurang diperhatikan dlm pembhsan link tsb "... Let him say instead, "I have got what has survived.". Terjemahan bebas ".. kami mendapatkan apa yg masih bertahan'. 

Ketika mengutip Suyuthi, maka seharusnya anda tidak mengutip sebagian, tapi harus melihat konteksnya, terkait soal apa Suyuhti mencantumkan riwayat tersebut. Kita tentu tidak bisa mengambil cuplikan kalimat lalu memaknainya berdasarkan kemauan kita sendiri, bukan melihat apa maksud si pengarangnya. Sudah jelas bahwa Suyuthi meletakkan riwayat tersebut pada bab tentang ayat naksikh-mansukh : 

As-Suyuti brings this narration in the section of his work titled as, “Section forty-seven: About the Abrogating and the Abrogated.” 

In Abu ‘Ubayd’s (d. 228 A.H.) work, from which as-Suyuti quotes this, it is the first narration in the chapter titled, “[About] what all was abrogated from the Qur’an after revelation and is not put in the Masahif.” 

Riwayat yang sama dikutip juga oleh Ibnu Hajar dan memakai kata 'abrogated' bukan 'survived' 

Most important is the narration quoted by Ibn Hajr (d. 852 A.H.) which compliments and fixes the meaning of the report we are discussing. Ibn Hajr writes: “Ibn ad-Durays has narrated a report of Ibn ‘Umar that he used to dislike the person who said, ‘I have recited the whole of the Qur’an.’ He (Ibn ‘Umar) used to say, ‘But (the reality is) a part of the Qur’an has been abrogated.’. 

Pertanyaan anda berikut saya nilai merupakan pertanyaan logis dari jawaban yang diberikan ' 

=="Seandainya kesimpulan dr link itu memang tepat, maka ada beberapa implikasi lainnya: - adanya fakta bhw ada ayat2 Quran yg telah dibatalkan ternyata masih dianggap bagian dr Quran oleh beberapa penghafal Quran - apakah kodifikasi Quran oleh Abubakr/Zaid dan Uthman termasuk melakukan pembersihan/filterisasi ayat2 Quran yg telah dibatalkan tsb?"== 

Pertanyaan tersebt akan terjawab kalau kita memahami jenis-jenis nasikh-mansukh yang ada dalam ayat Al-Quran : 

1. Ayat-ayat yang teksnya dinasakh, namun hukumnya tetap berlaku. 
2. Ayat-ayat yang hukumnya dinasakh, namun teksnya masih tetap. 
3. Ayat-ayat yang hukum dan teksnya sekaligus dinasakh. Contoh dari model pertama adalah ayat soal hukum rajam, kita tidak menemukan teksnya lagi dalam Al-Qur'an, namun hukumnya masih berlaku sekalipun bunyi ayatnya sudah hilang dan diganti dengan hukum dera (An-Nuur 3). 

Contoh nomer dua adalah tentang aturan berwasiat (Al-Baqarah 182), sekalipun dinasakh oleh aturan waris (An-Nisaa 11) tapi kedua ayat tersebut masih eksis dalam Al-Qur'an. Memang terjadi pada para sahabat, mereka masih mengingat dan hapal teksnya sekalipun ayatnya sudah dihapus dalam Al-Qur'an, misalnya cerita tentang Umar bin Khattab : 

”Sesungguhnya Allah swt telah mengutus Muhammad saw dengan benar dan menurunkan kepadanya al Qur’an. Dan didalam apa yang diturunkan kepadanya terdapat ayat rajam maka aku membaca, mempelajari dan menjaganya. Dan Rasulullah saw pernah melakukan perajaman dan kami pun melakukannya setelahnya. Lalu aku khawatir dengan berlalunya zaman yang panjang maka ada dari manusia yang mengatakan,’Kami tidak mendapatkan rajam didalam Kitabullah.’ Lalu mereka mengalami kesesatan dengan meninggalkan suatu kewajiban yang telah diturunkan Allah swt, Maka rajam itu benar terhadap terhadap seorang pezina yang telah menikah baik laki-laki maupun perempuan jika terdapat bukti atau hamil atau pengakuan.” (Muttafaq Alaih -hadits disepakati oleh Bukhari Muslim) 

Kemungkinan ayat yang dimaksud dalam riwayat Abdullah bin Umar adalah yang jenis ini, namun kita tidak mengetahui ayat yang mana karena tidak tercatat dalam riwayat tersebut. 

Quote dari Jimmy Jeffry 
Data dari hadist tentang kasus-kasus kelupaan Muhammad pada beberapa ayat, tidak menunjukkan bahwa Muhammad menyatakan secara eksplisit/implisit bahwa ayat-ayat yang "lupa" itu telah di-nasakh (abrogated). Saya ulangi pertanyaan saya sebelumnya yang belum terjawab.. "Hafalan" terhadap Quran telah menjadi semacam dogma bagi muslim bahwa hal itu dianggap pemeliharaan Allah atas kemurniaan firmanNya. Lalu mengapa Allah membuat Muhammad lupa pada ayat-ayat Quran?

Setelah saya cari-cari haditsnya, akhirnya ketemu : 

Shahih Bukhari 4650: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Raja` Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah ia berkakta; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendengar seseorang membaca suatu surat di malam hari, maka beliau pun bersabda: "Semoga Allah merahmati si Fulan, sungguh, ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini aku telah dilupakan dari surat ini dan ini." Agar hadist tersebut lebih jelas dan bisa dipahami dengan lengkap, 

saya sampaikan hadits pembanding lainnya yang menceritakan riwayat yang sama : 

Shahih Bukhari 4649: Telah menceritakan kepada kami Rabi' bin Yahya Telah menceritakan kepada kami Za`idah Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Urwah dari Aisyah radliallahu 'anha, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendengar seseorang membaca (Al Qur`an) di dalam masjid, lalu beliau bersabda: "Semoga Allah merahmati si Fulan, sesungguhnya ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini, yakni ayat dari surat ini." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Isa dari Hisyam yakni, beliau bersabda: "Yang aku gugurkan dari surat ini." Hadis ini diperkuat oleh Ali bin Mushir dan Abdah dari Hisyam. 

Shahih Bukhari 4654: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Adam Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mushir Telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Aisyah radliallahu 'anha, ia berkata; Pada suatu malam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendengar seseorang membaca Al Qur`an di dalam Masjid, maka beliau pun bersabda: "Semoga Allah merahmatinya, sungguh ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini, yakni ayat yang telah aku gugurkan dari surat ini dan ini." 

Jadi jelas bahwa ayat yang terlupa oleh nabi Muhammad lalu beliau ingat lagi ketika ada orang yang membacanya di masjid (rumah nabi Muhammad memang bersebelahan dengan masjid, jadi apa yang dilakukan orang disana bisa terdengar oleh beliau, hadist ini bukan mau mengatakan terjadi pada saat shalat berjamaah, karena shalat berjamaah selalu diimami oleh Rasulullah). Kalimat '"Yang aku gugurkan dari surat ini' menjelaskan itu adalah ayat yang dinasakh. 

Maka hadits tersebut memang tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur'an : 

Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, (Al-A'laa: 6) 
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (Al-Baqarah: 106) 

Setelah saya baca ulang hadits yang anda sampaikan, ternyata beberapa tidak relevan dengan soal hapalan ayat, mohon maaf kemampuan bahasa Inggeris saya kurang begitu bagus jadi pemahaman saya mungkin tidak begitu sempurna : 

Quote dari Jimmy Jeffry  
Kalimat "lupa berjamaah" bisa terjadi jika telah ada "hafalan berjamaah", namun yang terjadi justru banyak ayat-ayat quran tersebar di beberapa orang yang menghafalnya bahkan bisa hanya satu orang seperti kasus Abu Khuzaima. Jika memang terjadi "hafalan berjamaah" saat itu, maka ketika Muhammad lupa ayat-ayat tertentu saat shalat bersama di Masjid, maka akan banyak jemaah yang akan mengingatkan dia, tetapi yang mengingatkan hanya orang tertentu saja seperti seorang pria dalam hadist ini. Narrated Mu'awiyah ibn Khudayj: One day the Apostle of Allah (peace_be_upon_him) prayed and gave the salutation while a rak'ah of the prayer remained to be offered. A MAN went to him and said: You forgot to offer one rak'ah of prayer. ... . Abu Dawud 3:1018"

Ini soal Rasulullah lupa jumlah raka'at shalat, misalnya waktu Ashar yang seharusnya 4 raka'at, tapi beliau kerjakan hanya 3 raka'at atau berlebih menjadi 5 raka'at, jadi bukan soal lupa ayat Al-Qur'an. dan kalau hadits tersebut menyatakan hanya 1 orang yang mengingatkan beliau, karena memang pada kejadian tersebut hanya 1 orang yang bicara, bukan diartikan hanya 1 orang tersebut yang tahu. 

=="Narrated Imran ibn Husayn: The Prophet (peace_be_upon_him) led them in prayer and forgot something, so he made prostrations and uttered the tashahhud, then gave the salutation. Abu Dawud 3:1034 Narrated Abdullah ibn Mas'ud: ... (Muhammad said) I am only a human being and I forget just as you do; so when I forget, remind me, ... Abu Dawud 3:1015 Narrated 'Abdullah: ... (Muhammad said) I am a human being like you and liable to forget like you. So if I forget remind me ... Bukhari 1:8:394"== 

Ini adalah riwayat ketika Rasulullah lupa raka'at juga dalam shalat : 

Sunan Abu Daud 875: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Al Mutsanna telah menceritakan kepadaku Asy'ats dari Muhammad bin Sirin dari Khalid yaitu Al Khaddza` dari Abu Qilabah dari Abu Al Muhallab dari 'Imran bin Hushain bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama mereka lalu lupa, maka beliau sujud dua kali, lalu tasyahud dan salam." 

Ini hadits pembandingnya : 

Shahih Bukhari 1150: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu.bah dari Al Hakam dari Ibrahim dari 'Alqamah dari 'Abdullah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat Zhuhur lima raka'at. Beliau ditegur: "Apakah ada tambahan raka'at shalat?" Beliau menjawab: "Memangnya apa yang terjadi?" Dia ('Abdullah) berkata: "Anda kerjakan shalat lima raka'at". Maka Beliau sujud dua kali setelah memberi salam". 

Soal pengakuan Rasulullah hanyalah manusia biasa yang sering lupa ada pada hadits ini : 

Sunan Abu Daud 862: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali telah mengabarkan kepada kami Jarir. Dan telah di riwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami Jarir dan ini adalah hadits Yusuf dari Al Hasan bin 'Ubaidullah dari Ibrahim bin Suwaid dari 'Alqamah dia berkata; Abdullah berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat lima raka'at bersama kami, setelah beliau selesai shalat, orang-orang orang-orang pada berbisik di antara mereka, maka beliau bersabda: "Ada apa dengan kalian?" mereka berkata; "Wahai Rasulullah, apakah (raka'at) shalat di tambah?" beliau menjawab: "Tidak." Mereka berkata; "Sesungguhnya anda shalat lima raka'at1." Setelah selesai, beliau melakukan dua kali sujud, lalu salam. Setelah itu beliau bersabda: "Sesungguhnya aku adalah manusia biasa yang terkadang lupa sebagaimana kalian lupa." Shahih 

Muslim 891: Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris dari al-Hasan bin Ubaidullah dari Ibrahim dari Alqamah bahwasanya dia shalat mengimami mereka lima rakaat. --Lewat jalur periwayatan lain-- telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah dan lafazh tersebut adalah miliknya, telah menceritakan kepada kami Jarir dari al-Hasan bin Ubaidullah dari Ibrahim bin Suwaid dia berkata, "Alqamah shalat Zhuhur mengimami kami lima rakaat, ketika dia mengucapkan salam, maka suatu kaum berkata, 'Wahai Abu Syibl, kamu telah melakukan shalat lima rakaat!.' Dia menjawab, 'Tidak demikian, aku tidak melakukannya.' Mereka berkata, 'Ya, kamu telah melakukannya.' Perawi berkata, 'Aku berada di sujud suatu kaum, dan aku ketika itu masih kecil. Aku berkata, 'Ya kamu telah shalat lima rakaat.' Dia berkata kepadaku, 'Dan kamu juga mengatakan demikian wahai A'war? ' Aku menjawab, 'Ya.' Lalu dia berpaling, lalu bersujud dua kali, kemudian mengucapkan salam. Kemudian dia berkata, 'Abdullah berkata, 'Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam shalat mengimami kami lima rakaat. Ketika beliau berpaling maka kaum tersebut menggumam di antara mereka, maka beliau bertanya, 'Ada apa dengan kalian? ' Mereka menjawab, 'Wahai Rasulullah, apakah rakaat dalam shalat ditambahkan? ' Beliau menjawab, 'Tidak.' Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu telah melakukan shalat lima rakaat.' Lalu beliau berpaling kemudian sujud dua kali, kemudian mengucapkan salam. Kemudian beliau bersabda, 'Aku hanyalah manusia biasa yang bisa lupa sebagaimana kalian juga bisa lupa.' Ibnu Numair menambahkan dalam hadisnya, 'Apabila salah seorang dari kalian lupa, hendaklah dia bersujud dua kali'." 

hadits tersebut bukan soal Rasulullah lupa ayat Al-Qur'an.. 

Jimmy Jeffry : Ok pak, kita beda memahami term "hafal Quran" karena menurut saya tidak berarti "hafal seluruh ayat quran" tentu dalam konteks masa Muhammad atau sebelum standarisasi Uthman. 

"semangat untuk memberikan pukulan terakhir..." ?? easy pak... kita hanya mempertajam posisi kita masing-masing dan memang kalau dilanjutkan cenderung "pengulangan" point dan bisa membosankan pembaca, saya juga tidak berminat pak. Yah tentang hafalan sudah cukup pembahasannya. 

Sekarang kita bandingkan versi terjemahan lain dari tulisan Suyuti. "..Ibn Umar al–Khattab explicitly admits, "Let no one of you say that he has acquired the entire Qur’an for how does he know that it is all? MUCH OF THE QURAN HAS BEEN LOST, thus let him say, ‘I have acquired of it what is AVAILABLE" (Suyuti: Itqan, part 3, page 72). 

Dan dari Abu Ubaid. "...Said Abu ‘Ubaid: Isma’il b. Ibrahim related to us from Ayyub from Nafi‘ from Ibn ‘Umar who said – Let none of you say, “I have learned the whole of the Koran,” for how does he know what the whole of it is, when MUCH of it HAS DISAPPEARED? Let him rather say, “I have learned what is EXTANT THEREOF.” (Abu Ubaid’s Kitab Fadail-al-Qur’an) 

Mari kita lihat penggunaan kalimat dari ketiga versi tulisan tentang pernyataan Umar tsb. 
- Much of the Qur'an has gone (sudah tidak ada) ... I have got what has survived (masih bertahan) 
- Much of the Quran has been lost (telah hilang) ... I have acquired of it what is AVAILABLE (masih tersedia) 
- Much of it has disappeared (telah hilang) ... I have learned what is Extant Thereof (masih ada) 

Memang judul section tentang Abrogating and the Abrogated, namun apakah konsep abrogation yang dimaksud Umar SAMA dengan konsep abrogation yang umumnya muslim termasuk anda pegang saat ini? 

Memang benar memahami sebuah teks harus melihat konteksnya, namun kajian dari link yang anda ajukan tidak memberi penjelasan konteks dari teks tentang pernyataan Umar tsb. Kecuali mengutip pendapat ahli tafsir-tafsir lainnya terhadap pernyataan Umar tsb. Jika memang yang dimaksud Umar adalah ayat-ayat yang telah dinasakh maka dia tidak akan menggunakan term seperti has gone-survived atau has been lost-available atau has disappeared-thereof. 

Suyuti atau para penerjemahnya tentu telah memahami konteksnya sehingga menggunakan term-term seperti di atas. Dan jika memang pendapat-pendapat para ahli tafsir lain yang direfer link tsb bahwa yang dimaksud Umar adalah ayat-ayat yang dinasakh maka edisi-edisi revisi untuk berbagai versi itu akan menggantikan dengan kata abrogated, namun sepertinya belum ada versi terjemahan seperti itu. 

Jika tetap dikaitkan konsep abrogation dengan pernyataan Umar tsb, maka posisi Umar memandang bahwa AYAT-AYAT YANG DI-NASAKH yang jumlahnya BANYAK itu akan HILANG SEMUANYA dari Quran. Ini bertolak belakang dengan konsep yang anda pegang tentang nasakh-mansukh yang ada ayat-ayat yang hukumnya telah dinasakh tetapi Teksnya masih tetap. Perhatikan juga dengan kata BANYAK ayat-ayat Quran.. apakah memang ada banyak ayatayat quran yang telah dinasakh tsb? 

Anda tentu mengutip hadist-hadits di atas dari Ensiklopedi Kitab 7 Imam Hadist dalam terjemahan Indonesia. Saya belum menemukan kutipan-kutipan di atas dalam terjemahan Inggris, silahkan anda menyebutkan book, volume & nomor hadistnya. Saya agak heran, karena beberapa apologis muslim tidak menggunakan hadist-hadits tsb dalam berapologi tentang kelupaan Muhammad tsb. Referensi hadist yang saya gunakan: 

- Sahih Bukhari, translated by Dr. M. Mukhsin Khan 
http://www.usc.edu/org/cmje/religious-texts/hadith/bukhari/ 

- The Sahih Collection of al-Bukhari, by Imam Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn al-Mughirah Ibn Bardiziyeh al-Bukhari, translated by: Ustadha Aisha Bewley, 
http://www.sunnipath.com/library/Hadith/H0002P0000.aspx 

Muslim :: Book 4 : Hadith 1721 'A'isha reported that the Apostle of Allah (may peace be upon him) listened to the recitation of the Qur'an by a man in the mosque. Thereupon he said: May Allah have mercy upon him; be reminded me of the verse which I had been made to forget. 

Muslim :: Book 4 : Hadith 1720 'A'isha reported that the Apostle of Allah (may peace be upon him) heard a person reciting the Qur'an at night. Upon this he said: May Allah show mercy to him; he has reminded me of such and such a verse which I had missed in such and such a surah. 

Bukhari :: Book 6 :: Volume 61 :: Hadith 562 Narrated 'Aisha: The Prophet heard a reciter reciting, the Qur'an in the mosque at night. The Prophet said, "May Allah bestow His Mercy on him, as he has remind ed me of such-and-such Verses of such and-such Suras, which I missed!" 

Jika memang benar ada hadist seperti itu yang ada kalimat "...yakni ayat yang telah aku gugurkan dari surat ini dan ini", maka yang menjadi pertanyaan mengapa dalam hadist lain tidak ada kalimat seperti itu? Lalu mengapa yang menggugurkan adalah Muhammad bukan Allah? ... Dan jika memang seperti itu, tetap tidak menghilangkan fakta bahwa Muhammad bisa LUPA ayat-ayat Quran walaupun ayat-ayat itu kemudian dinasakhkan. 

Anda mengutip surah Al-Alaa 6 namun anda tidak menyebut ayat 7 6. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, 7. kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Saya kira cukup jelas bahwa Muhammad memang LUPA pada beberapa ayat Quran dan secara teologis alasannya bahwa Allah menghendaki Muhammad bisa lupa. Tentu akan menimbulkan pertanyaan teologis pula, mengapa Allah menghendaki Muhammad bisa lupa? bukankah "hafalan" terhadap Quran begitu sentral dalam konsep teologi Islam. 

Yah point anda kali ini tepat.. bahwa Muhammad lupa dalam jumlah rakaat. Dalam hadist ini dia lupa "satu rakaat" dan dari peringatan orang yang bernama Talha ibn Ubaydullah, Muhammad kemudian masuk kembali ke masjid dan memimpin sembahyang satu rakaat tsb. 

Dawud :: Book 3 : Hadith 1018 Narrated Mu'awiyah ibn Khudayj: One day the Apostle of Allah (peace_be_upon_him) prayed and gave the salutation while a rak'ah of the prayer remained to be offered. A man went to him and said: You forgot to offer one rak'ah of prayer. Then he returned and entered the mosque and ordered Bilal (to utter the Iqamah). He uttered the Iqamah for prayer. He then led the people in one rak'ah of prayer. I stated it to the people. They asked me: Do you know who he was? I said: No, but I can recognise him if I see him. Then the man passed by me, I said: It is he. The people said: This is Talhah ibn Ubaydullah. 

Namun dalam hadist yang lain justru Muhammad sembahyang dengan jumlah rakaat yang banyak. 

Dawud :: Book 3 : Hadith 1015 Narrated Abdullah ibn Mas'ud: The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) offered prayer. The version of the narrator Ibrahim goes: I do not know whether he increased or decreased (the rak'ahs of prayer). When he gave the salutation, he was asked: Has something new happened in the prayer, Apostle of Allah? He said: What is it? They said: You prayed so many and so many (rak'ahs)...I am only a human being and I forget just as you do; so when I forget, remind me.." 

Point tentang ayat-ayat Quran yang Muhammad lupa memang kurang tepat mengacu pada hadist-hadits ini, namun menyajikan persoalan baru yaitu Muhammad LUPA terhadap jumlah rakaat dalam sembahyang, ada jumlah rakaatnya yang kurang dan ada justru lebih.  

Point tentang ayat-ayat Quran lebih tepat pada hadist yang telah dibahas pada posting sebelumnya. 

Muslim :: Book 4 : Hadith 1721 'A'isha reported that the Apostle of Allah (may peace be upon him) listened to the recitation of the Qur'an by a man in the mosque. Thereupon he said: May Allah have mercy upon him; be reminded me of the verse which I had been made to forget. 

Arda Chandra : Kelihatannya perbedaan yang ada bukan antara Ibnu Umar dengan Suyuthi, tapi antara pemahaman anda dengan tafsir oleh Suyuthi. Anda memahaminya melalui terjemahan dalam bahasa Inggeris sedangkan Suyuthi memahami perkataan Ibnu Umar dalam bahasa aslinya sehingga dia mencantumkan hadist tersebut dalam pembahasan soal nasikh-mansukh. Tentu saja lumrah adanya perbedaan ini dan orang-orang akan menilai sendiri mana pihak yang akan dipercayai lebih memahami tentang perkataan Ibnu Umar ini. 

Tentang jumlah ayat yang dinasakh dan teksnya masih diingat orang tidak ada catatannya, juga istilah 'banyak' disini juga tidak menjelaskan berapa jumlahnya, namun memang bukan cuma 1 ayat saja. 

(Terkait soal hadits Nabi Muhammad lupa ayat Al-Qur'an) Saya menemukan haditsnya pada link yang anda berikan : 

Bukhari 4750. It is related that 'A'isha said, "The Prophet, may Allah bless him and grant him peace, heard a man reciting in the mosque and said, 'May Allah have mercy on him. He reminded me of such-and-such an ayat from such-and-such a sura." Hisham added, "I left them out of such-and-such a sura." It is corroborated from Hisham. 

Bukhari 4755. It is related that 'A'isha said, "The Prophet , may Allah bless him and grant him peace, heard a man reciting at night in the mosque and said, 'May Allah have mercy on him. He reminded me of such-and-such an ayat which I missed from such-and-such a sura." 

Satu lagi buat pak Jimmy Jeffry, saya kurang memahami bahasa Inggeris, apa maksud kata 'the verse which I had been made to forget', dan kata 'an ayat which I missed from such-and-such a sura'..? 

Quote dari Jimmy Jeffry 
Point tentang ayat-ayat Quran yang Muhammad lupa memang kurang tepat mengacu pada hadist=hadits ini, namun menyajikan persoalan baru yaitu Muhammad LUPA terhadap jumlah rakaat dalam sembahyang, ada jumlah rakaatnya yang kurang dan ada justru lebih.

Ini ibaratnya orang yang hafal lagu Indonesia Raya, tapi lupa apakah tadi pagi dia sudah sarapan atau belum, atau minum obat 2 kali karena lupa.. 

Quote dari Jommy Jeffry 
Anda mengutip surah Al-Alaa 6 namun anda tdk menyebut ayat 7 6. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, 7. kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Saya kira cukup jelas bahwa Muhammad memang LUPA pada beberapa ayat Quran dan secara teologis alasannya bahwa Allah menghendaki Muhammad bisa lupa. Tentu akan menimbulkan pertanyaan teologis pula, mengapa Allah menghendaki Muhammad bisa lupa? bukankah "hafalan" terhadap Quran begitu sentral dalam konsep teologi Islam.

Qatadah mengatakan :"Rasulullah tidak pernah melupakan sesuatu kecuali apa yang dikehendaki Allah". Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firmannya 'oleh karena itu kamu tidak akan lupa' merupakan tuntunan. Dari mereka yang berpendapat demikian menjadikan makna pengecualian ini termasuk ke dalam nasakh. Dengan pengertian lain, engkau tidak akan lupa terhadap apa yang telah Kami bacakan kepadamu, kecuali apa yang dikehendaki Allah untuk dihilangkan, sehingga tidak ada dosa bagimu jika negkau meninggalkannya. (Tafsir Ibnu Katsir buku 8 hal 452) 

Quote dari Jimmy Jeffry 
Lalu mengapa yang menggugurkan adalah Muhammad bukan Allah? 

Menasakh ayat Al-Qur'an merupakan kehendak Allah yang disampaikan melalui nabi Muhammad. Yang jelas nasikh-mansukh berakhir ditangan nabi Muhammad, bahwa semua ayat-ayat yang dinasakh selalu harus merujuk kepada apa yang beliau ajarkan. Tidak ada nasikh-mansukh yang dilakukan para sahabat.. 

Jimmy Jeffry : Pak Arda Chandra sepertinya tema-tema pembahasan saat ini sudah cukup lengkap terbahas... kecuali masalah nasakh-mansukh. Berikutnya kita akan masuk pada pembahasan fase kodifikasi Uthman yang didalamnya membahas berbagai mushaf, seven reading/ahruf/qiraah dll. Termasuk kembali mempertajam masalah oral transmission vs manuscript terutama meninjau perspektif ahli-ahli tafsir/historian klasik terhadap isu ini dan perbandingan Samarkand MSS vs Quran Egypt Edition 1924. Setelah itu masuk pada tahap akhir berupa konklusi & closing statement. Jika pembahasan dimulai akan berlangsung tanggap-menanggap yang panjang. Untuk itu saya pending sementara waktu dulu, karena memang saya kesulitan menyediakan waktu khusus berdiskusi, biasanya malam dan besoknya ngantuk. 

Arda Chandra : OK pak Jimmy, silahkan dicari waktu yang memungkinkan, saya sendiri Insya Allah masih standby di internet..


Diskusi Arda Chandra dan Jimmy Jeffry; Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an (Bagian 4)


Jimmy Jeffry : Point 1 tetap stand, karena pak Arda tidak bisa memberi bukti catatan tentang orang yang menghafal seluruh Quran pada masa Muhammad. Rujukan pak Arda ke Mas'ud dkk seperti dalam Sahih al-Bukhari 6:61:521 & Sahih Muslim 031:6029 tidaklah kuat sebagaimana yang telah saya uraikan dalam posting sebelumnya. Point 2 tetap stand, sebagaimana dikatakan Abubakr saat berbicara dengan Umar bahwa pengumpulan Quran tidak dilakukan oleh Muhammad. Justru karena tersebar di para penghafal & fragmen tertulis maka Zaid bi thabit perlu melakukan pengumpulan. Kalau pada point 1 terbantah bahwa benar ada yang orang yang menghafal seluruh quran, maka Zaid tidak perlu repot-repot melakukan pengumpulan tsb. 

Pernyatan pak Arda "... kalau tidak ada penghapal Al-Qur'an secara keseluruhan dengan susunan yang telah ditetapkan oleh nabi Muhammad maka tindakan logis beliau seharusnya justru akan melakukan kodifikasi Al-Qur'an dalam sebuah mushaf". Justru tidak didukung dengan data, bukankah pak Arda tidak bisa memberikan bukti tentang penghafal quran secara keseluruhan? Bahkan pak Arda tidak bisa menunjukan data tentang Quran yang lengkap 114 Surah telah dikenal pada masa Muhammad. 

Kita lihat kembali kutipan hadist tsb.. 

Bukhari 6:61:509.... Abu Bakr then said (to me), "Umar has come to me and said: "Casualties were heavy among the Qurra' of the! Qur'an (i.e. those who knew the Quran by heart) on the day of the Battle of Yalmama, and I am afraid that more heavy casualties may take place among the Qurra' on other battlefields, whereby a large part of the Qur'an may be lost. Therefore I suggest, you (Abu Bakr) order that the Qur'an be collected." 

Perhatikan kalimat "...I am afraid that MORE HEAVY casualties may take place among the Qurra' on other battlefields". Terjemahan bebas "...saya khawatir akan LEBIH BERAT LAGI Korban-korban yang terjadi diantara para penghafal Quran pada peperangan lainnya". Begitu jelas bahwa pada perang Yamama telah terjadi kematian beberapa penghafal Quran dan Umar khawatir akan lebih berat lagi pada peperangan berikutnya. Ibn Khatir menyebut sekitar 450 orang penghafal Quran yang mati. "...During the battle of Yamama, 450 reciters of the Qur'an were killed.” . 

Selanjutnya kalimat berikut "..whereby a large part of the Qur'an may be lost". Terjemahan bebas "..dimana sebagian besar bagian Quran bisa hilang". Kekhawatiran Umar pada peperangan berikutnya bisa berakibat banyak bagian Quran akan hilang. Secara implisit Umar mengakui bahwa akibat perang Yamama ada bagian kecil dari Quran yang hilang dan berpotensi menjadi besar pada peperangan berikutnya. 

Tidak ada keterangan dari Umar bahwa para penghafal yang mati itu sempat mengajarkan hafalannya sebelumnya. Ini hanya dugaan pak Arda tanpa ada dukungan teks maupun konteksnya. Justru yang lebih tepat, saran Umar kepada Abubakr agar dilakukan pengumpulan Quran, didasari kekhawatiran Umar akan lebih banyak lagi bagian Quran yg akan hilang, sehingga perlu didokumentasikan dalam sebuah mushaf. 

ok, untuk point ini kita berbeda dalam memandang data yang sama... 

Ini rujukannya pada Fathul Bari. Abu Bakr ordered `Umar and Zaid to sit in the gate of the mosque and to include in the mushaf only what was vouched for by the testimony of two men. (p. 125, Ahmad b. `Ali b. Muhammad al `Asqalani, ibn Hajar, "Fath al Bari", 13 vols, Cairo, 1939/1348, vol. 9, p. 11) 

Apakah kriteria dua orang saksi berlaku pada semua penulisan ayat-ayat Quran? Bagaimana dengan para penghafal quran yang pergi ke medan peperangan dan tidak bisa datang ke Mekah/Madinah? 

Tafsir Ibn Hajr menyebutkan tentang ayat-ayat Quran yang ditulis. Namun menurut Ibn Khaldun (809H/1406) dalam bukunya "muqaddima" banyak tulisan-tulisan orang-orang yang di sekitar Muhammad yang tidak akurat tulisannya malah kontradiksi. "..The men around Muhammad wrote the Qur’an in their own script which, was not of a firmly established, good quality. Most of the letters were in contradiction to the orthography required by persons versed in the craft of writing..." 

Demikian juga tidak ada fakta yang menyatakan bahwa semua ayat-ayat Quran telah dihafal oleh satu atau beberapa orang tertentu pada masa Muhammad. 

Pak Arda merujuk pada hadist berikut ini: 

Bukhari 4:52:62. Narrated Kharija bin Zaid: Zaid bin Thabit said, "When the Quran was compiled from various written manuscripts, one of the Verses of Surat Al-Ahzab was missing which I used to hear Allah's Apostle reciting. I could not find it except with Khuzaima bin Thabjt Al-Ansari, whose witness Allah's Apostle regarded as equal to the witness of two men. And the Verse was:-- "Among the believers are men who have been true to what they covenanted with Allah." 

Zaid memang PERNAH mendengar ayat-ayat itu diucapkan oleh Muhammad, tetapi Zaid kemudian LUPA dengan bunyi ayatnya. Jika dia tidak lupa, maka tentu dia tidak perlu sibuk mencari ayat-ayat tsb. Bukankah dia juga menjadi salah satu penghafal quran itu sendiri. Ayat itu diketahui/dihafal hanya/satu-satunya oleh Khuzaima tidak ada yg lain. 

Bukhari 6:60:201. So I started locating Quranic material and collecting it from parchments, scapula, leaf-stalks of date palms and from the memories of men (who knew it by heart). I found with Khuzaima two Verses of Surat-at-Tauba which I had not found with ANYBODY ELSE 

[Zaid reports:] I found the last verse of sura al Tawba in the possession of Abu Khuzaima al Ansari, having found it with NO ONE ELSE, "There has now come to you..." to the end of the sura. (p. 119, Ahmad b. `Ali b. Muhammad al `Asqalani, ibn Hajar, "Fath al Bari", 13 vols, Cairo, 1939/1348, vol. 9, p. 9) 

Ini salah satu bukti, tentang ayat-ayat yang tidak ada FRAGMEN/tulisannya dan hanya DIHAFAL oleh SATU orang saja. Maka dengan pola yang sama, ini bisa juga terjadi pada para penghafal Quran yang mati dalam perang Yamama, dimana hanya dia yang hafal ayat-ayat quran tertentu yang diketahuinya. 

Dalam Hadist-hadits banyak catatan tentang tindakan-tindakan yang dilakukan Muhammad serta para sahabatnya. Dengan adanya perbedaan dengan pernyataan Quran seperti dalam ayat yang disebutkan pak Arda justru menimbulkan masalah baru. Anda tentu lebih memilih Quran dibanding hadist karena dalam sistem teologi Islam, Quran berada di atas hadist. 

Namun masalahnya belum ada pernyataan atau referensi yang menyatakan hadist-hadits tsb dhaif. Atau bagaimana anda memandang STATUS hadist tsb? Saya kutipkan beberapa hadist-hadits dari hadist Bukhari, Muslim dan Abu Dawud. 

Narrated Aisha: The Prophet heard a man reciting the Qur'an in the mosque and said, "May Allah bestow His Mercy on him, as he has reminded me of such-and-such Verses of such a Surah." Bukhari 6:61:556. 

'A'isha reported that the Apostle of Allah (may peace be upon him) heard a person reciting the Qur'an at night. Upon this he said: May Allah show mercy to him; he has reminded me of such and such a verse which I had missed in such and such a surah. Muslim 4:1720 

Narrated Abdullah ibn Mas'ud: ... (Muhammad said) I am only a human being and I forget just as you do; so when I forget, remind me, ... Abu Dawud 3:1015 

Kalimat "lupa berjamaah" bisa terjadi jika telah ada "hafalan berjamaah", namun yang terjadi justru banyak ayatayat quran tersebar di beberapa orang yang menghafalnya bahkan bisa hanya satu orang seperti kasus Abu Khuzaima. Jika memang terjadi "hafalan berjamaah" saat itu, maka ketika Muhammad lupa ayat-ayat tertentu saat shalat bersama di Masjid, maka akan banyak jemaah yang akan mengingatkan dia, tetapi yang mengingatkan hanya orang tertentu saja seperti seorang pria dalam hadist ini. 

Narrated Mu'awiyah ibn Khudayj: One day the Apostle of Allah (peace_be_upon_him) prayed and gave the salutation while a rak'ah of the prayer remained to be offered. A MAN went to him and said: You forgot to offer one rak'ah of prayer. ... . Abu Dawud 3:1018 

Arda Chandra : Anda kelihatannya sudah tidak lagi mengajukan referensi baru, tapi mengulang kembali referensi sebelumnya yang sudah disampaikan. Argumentasi yang anda sampaikan juga sudah saya tanggapi pada postingan sebelumnya, jadi para pembaca tinggal memperbandingkan kedua pendapat untuk diambil kesimpulan sendiri mana yang bisa mereka terima. 

Dari jawaban anda, saya melihat masalahnya sudah mengerucut kepada 1 point saja, yaitu soal ada atau tidak bukti ketika nabi Muhammad wafat, apakah ada dikalangan para sahabat yang menghapal Al-Qur'an secara keseluruhan dengan susunan yang telah ditetapkan oleh beliau. Kalau ini terjawab maka soal lain, seperti kekhawatiran Umar bin Khattab tentang banyaknya penghapal yang meninggal di Yamamah, atau juga tindakan Zaid bin Tsabit yang mengumpulkan fragment-fragment untuk disalin dalam mushaf, atau juga soal kasus ayat terakhir surat Baraah/at -Taubah, atau juga soal kemungkinan nabi Muhammad lupa dengan ayat Al-Qur'an, sudah terjawab dengan sendirinya. 

Kalau anda menginginkan harus ada catatan sejarah yang berbunyi 'sepeninggal nabi Muhammad ada sahabat yang menghapal seluruh ayat Al-Qur'an', atau 'hapal seluruh ayat Al-Qur'an 114 surat mulai dari al-Fatihah sampai dengan an-Naas', maka sampai sekarang catatan seperti itu memang tidak ada. Apa yang sudah disampaikan tentang hadits Anas bin malik sebenarnya merupakan data soal terkait, hanya saya dan anda berbeda cara memahaminya. Saya kutip lagi bunyi haditsnya : 

Al Bukhari meriwayatkan dari Qatadah: ia berkata: aku bertanya kepada Anas bin Malik: siapa yang menghafal Al Quran pada masa Rasulullah Saw, ia menjawab: “empat orang, seluruhnya dari kalangan Anshar, yaitu: Mu`adz, Ubay bin Ka`b, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid (salah satu paman Anas)”  

Anda memahami data tersebut dengan 'tidak dikatakan ke-4 orang tersebut hapal seluruh ayat Al-Qur'an' lalu mengambil kesimpulan 'itu bukan data yang diminta tentang adanya orang yang hapal seluruh ayat Al-Qur'an'. Sebaliknya saya memahaminya dengan 'ke-4 sahabat Rasulullah tersebut diberitakan oleh Anas bin Malik adalah orang-orang yang hapal seluruh ayat Al-Qur'an', lalu mengambil kesimpulan 'ini merupakan data yang mendukung bahwa sepeninggal Rasulullah ada orang yang hapal seluruh ayat Al-Qur'an', walaupun para ulama banyak yang tidak sependapat kalau hanya mereka saja yang hapal seluruh ayat Al-Qur'an. Berdasarkan catatan hadits dan tarikh, Prof Azzami mengemukakan sekurang-kurangnya ada 40 orang. 

Untuk memperkuat argumentasi saya, berikut saya kemukakan data-data : 

1. Dalam pemahaman umat Islam, bahkan sampai sekarang, kalau dikatakan seseorang 'hafidz Al-Qur'an' itu merujuk kepada pengertian 'hapal seluruh ayat Al-Qur'an 30 juz', sebab kalau pengertiannya bukan seperti itu maka bisa dikatakan semua orang Islam disebut hapal Al-Qur'an, karena hampir tidak ada dari mereka yang tidak hapal surat al-Fatehah. Ketika Rasulullah menaklukkan Makkah, beliau membawa pasukan sebanyak 10.000 orang, maka dengan pengertian yang anda pakai, semuanya akan dikatakan penghapal Al-Qur'an, belum lagi anak-anak dan wanita yang tidak ikut berperang. Tidak mungkin Anas bin malik hanya menyebut nama 4 orang saja, kalau dia hanya mau mengatakan orang yang hapal sebagian saja. 

2. Di antara pahala seketika bagi yang mempelajari Al-Qur'an adalah penghargaan umat Islam agar bertindak sebagai imam shalat, suatu kedudukan penting yang secara khas diberikan di awal permulaan Islam. 

'A'isha dan Abu Mas'ud al-Ansari melaporkan sabda Nabi Muhammad, "Seorang yang be]ajar yang memiliki hafalan terbanyak hendaknya menjadi imam sha]at. (11. Abu ‘Ubaid, Fada'il, hlm. 92; at-Tirmidhi, Sunan, hadith no.235; Abu Dawud, Sunan, hadith no.582-584) Amir bin Salima al-Jarmi bercerita bahwa orang-orang dari suku bangsanya menemui Nabi Muhammad menyatakan diri hendak masuk Islam. Sebelum berangkat mereka bertanya, "Siapa yang akan mengimami shalat kita?" Beliau menjawab, "Orang yang menghafal Qur'an, atau mempelajarinya lebih banyak." (12. Abu ‘Ubaid, Fada'il, hlm. 91; al-Bukhari, Sahih, no.8: 18; Abu Dawud, Sunan, no.585-587). Pada detik-detik akhir kehidupan Rasulullah, kedudukan imam shalat diberikan pada Abu Bakr setiap hari. Hal ini merupakan penghormatan agung saat penentuan khalifah umat Islam. (Sumber : The History of the Quranic Text, Prof Azzami) 

Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar memiliki hapalan melebihi ke-4 sahabat yang disebut oleh Anas bin Malik, berdasarkan ketentuan imam shalat dalam hadits tersebut. 

3. Banyak hadits dari riwayat lain yang menceritakan seseorang hapal seluruh ayat Al-Qur'an : 

- Ibnu Abi Daud meriwayatkan dengan sanad hasan dari Muhammad bin Ka`b al Qurazhi ia berkata: pada masa Rasulullah SAW ada lima orang Anshar yang menghafal Al Quran: yaitu Mu`adz bin Jabal, Ubadah bin Shamit, Ubay bin Ka`b, Abu Darda dan Abu Ayyub al Anshari. Di sini ia menambahkan bilangan yang telah disebut oleh Anas, yaitu: Ubadah dan Abu Ayyub. 

- Abu Ubaid menyebutkan dalam kitab “al Qiraat” para al Qurra dari kalangan sahabat Rasulullah SAW. Dari kalangan Muhajirin adalah: Khalifah yang empat, Thalhah, Sa`d, Ibnu Mas`ud, Huzaifah, Salim, Abu Hurairah, Abdullah bin Saib, Abadilah, Aisyah, Hafshah dan Ummu Salmah. Sedangkan dari Anshar adalah: Ubadah bin Shamit, Mu`adz yang mempunyai nama panggilan Abu Halimah, Majma` bin Jariah, Fadhalah bin Ubaid, dan Muslimmah bin Mukhallad. Ia mengatakan bahwa sebagian dari mereka telah menyempurnakan hafalannya setelah Rasulullah SAW wafat. 

- As Suyuthi berkata: Ibnu Abu Daud memasukkan juga: Tamim Ad Dari dan Uqbah bin `Amir. Ia berkata: Di antara orang yang menghafal juga adalah: Abu Musa al Asy`ari, seperti disebut oleh abu Amru ad Dani. (kitab Al Itqaan karya as Suyuthi juz 1/202-203, tahqiq Muhammad Abu al Fadhl Ibraahim) 

4. Ini merupakan 'siaran ulangan' pernyataan saya, bahwa kemampuan manusia menghapal Al-Qur'an seluruhnya bukan persoalan yang aneh dan mustahil. Anak kecil yang bukan orang Arab saja bisa melakukannya, dan ada jutaan orang saat ini yang menghapal Al-Qur'an menunjukkan kemampuan ini bisa dimiliki semua orang. Kalau para sahabat sudah menerima dari Rasulullah seluruh ayat Al-Qur'an tersebut, lalu apa lagi alasannya bagi mereka untuk tidak menghapal keseluruhannya juga..?? Satu-satunya kemungkinan hanyalah satu, Rasulullah ketika menerima wahyu hanya meneruskannya kepada satu orang secara rahasia, layaknya seorang guru silat memberikan 'jurus pamungkas' hanya kepada salah satu muridnya saja. Ini mustahil, karena berdasarkan ayat Al-Qur'an sendiri, Rasulullah justru diperintahkan untuk menyebar-luaskan ayat-ayat Al-Qur'an yang diterimanya kepada orang banyak, bahkan orang kafir Makkah dan ahli kitab yang ada di Madinah sekalipun. 

Argumentasi saya yang didukung oleh 4 point diatas, dihadapkan dengan argumentasi anda yang menginginkan adanya bukti jelas mencatat adanya para sahabat yang menghapal seluruh ayat Al-Qur'an. Tentu saja kita serahkan kepada pembaca, mana argumentasi yang bisa mereka terima. 

Sedikit saya singgung soal hadits yang menceritakan Rasulullah lupa ayat Al-Qur'an. Saya tidak berani mengatakan hadits tersebut tidak shahih karena isinya bertentangan dengan ayat Al-Qur'an, karena bukan ahlinya. Kemungkinan ada pemahaman lain. Silahkan dibaca ini : 

http://sy42.wordpress.com/2012/03/07/menepis-tudingan-tentang-muhammad-lupa-bacaan-al-quran/ 

Untuk yang lainnya, sudah ada dalam penjelasan saya sebelumnya... 

Jimmy Jeffry : Saya memang sudah kurang mengajukan referensi baru, namun melakukan pengembangan intepretasi terhadap referensi yang sudah ada. Tentu bersifat respon timbal balik dengan tanggapan-tanggapan anda. Hal yang sama juga terjadi pada anda dan penilaian kita kembalikan pada masing-masing pembaca. 

Memang keypoint terletak pada masa Muhammad itu sendiri, apakah pada masa itu telah dilakukan pengumpulan quran walau belum dalam satu mushaf dan apakah ada orang-orang yang telah menghafal seluruh quran yang telah terkumpul tsb. Namun masalah seputar para penghafal yang mati di Yamamah, pengumpulan Quran oleh zaid bin thabit dan kasus Abu Kuzhaima tetap berkaitan erat dengan keypoint tsb. 

Kaitannya logisnya sbb: Kematian para penghafal quran menyebab beberapa bagian Quran hilang, yang kemungkinan hanya dihafal oleh mereka yang telah mati tsb sama seperti Abu Khuzaima. Zaid bin thabit mencoba mengumpulkan ayat quran dari beberapa fragmen dan dari para penghafal quran. Mas'ud, Salim dll adalah para penghafal quran yang menonjol sehingga zaid juga menjadikan mereka salah satu sumber untuk mushaf yang disusunnya. 

Anda sendiri mengakui fakta tidak ada sahabat yg menghafal quran lewat pernyataan anda berikut ini: ".. kalau anda menginginkan harus ada catatan sejarah yang berbunyi 'sepeninggal nabi Muhammad ada sahabat yang menghapal seluruh ayat Al-Qur'an', atau 'hapal seluruh ayat Al-Qur'an 114 surat mulai dari al-Faatehah sampai dengan an-Naas', maka sampai sekarang catatan seperti itu memang tidak ada". Maka data tambahan yang anda ajukan justru kontradiksi dengan pernyataan anda tsb. "...Sebaliknya saya memahaminya dengan 'ke-4 sahabat Rasulullah tersebut diberitakan oleh Anas bin Malik adalah orang-orang yang hapal seluruh ayat Al-Qur'an'". 

Anda tentu beralasan bahwa pernyataan pertama yang dimaksud adalah catatan eksplisit tentang penyebutan orang yang menghafal seluruh quran tidak ada, dan pernyataan kedua bermakna implisit yang anda simpulkan bahwa ke-4 sahabat itu telah menghafal seluruh quran. Namun referensi yang anda ajukan yang mengacu pada tulisan prof Azzami hanya menunjukan adanya eksistensi para penghafal bagian-bagian Quran pada masa itu tetapi bukan seluruh Quran. 

Anda merujuk pada tulisan Suyuthi tentang orang-orang yang menghafal quran "...As Suyuthi berkata: Ibnu Abu Daud memasukkan juga: Tamim Ad Dari dan Uqbah bin `Amir. Ia berkata: Di antara orang yang menghafal juga adalah: Abu Musa al Asy`ari, seperti disebut oleh abu Amru ad Dani. (kitab Al Itqaan karya as Suyuthi juz 1/202-203, tahqiq Muhammad Abu al Fadhl Ibraahim) 

Namun Suyuthi tidak menyebutkan orang yang menghafal seluruh ayat-ayat quran, malah Suyuti menuliskan tentang perkataan Abdullah bin Umar yang tidak mendapatkan seluruh isi Quran namun hanya bagian-bagian yang masih bertahan. `

Abdullah b. `Umar reportedly said, 'Let none of you say, "I have got the whole of the Qur'an." How does he know what all of it is? Much of the Qur'an has gone [d h b]. Let him say instead, "I have got what has survived."' (Jalal al Din `Abdul Rahman b. abi Bakr al Suyuti, "al Itqan fi `ulum al Qur'an", Halabi, Cairo, 1935/1354) 

Klaim anda sejak awal bahwa Quran telah komplet 114 surah sejak pada masa Muhammad jelas tidak didukung data yang ada. Bahkan menurut at Tabari ada terdapat perbedaan isi sebuah surah justru masih pada masa Muhammad. `

Abdullah reports, 'We differed about a sura, as to whether it consisted of thirty-five or thirty-six verses, so we went to the Prophet who was engaged in conversation with `Ali. When we told him we disagreed over the reading, his face reddened as he replied, "Those before you perished through their disagreements." He whispered something to `Ali who said, "The Prophet commands you to recite as you were taught."' (Abu Ja`far Muhammad b. Jarir al Tabari, "Tafsir", hal 23-4) 

Dari data ini hubungan logis antara point ketiadaan penghafal selurah quran pada masa Muhammad, kematian para penghafal di Yamamah, pengumpulan quran oleh Zaid menjadi lebih jelas. Pada masa hidup Muhammad sampai dengan wafatnya atau sebelum pengumpulan Quran Zaid atas perintah Abubakr, BELUM ADA kumpulan Quran baik dalam sebuah Mushaf maupun kumpulan hafalan Quran pada orang-orang tertentu. 

Pengumpulan Quran oleh Zain bin Thabit menjadi satu mushaf tidak menggantungkan pada hafalan orang-orang tertentu saja, melainkan tersebar pada banyak penghafal Quran. Bahkan dalam hadist yang dikutip pak Arda disebutkan pengumpulan dilakukan di masjid Nabawi menunggu orang-orang yang datang memberikan informasi potongan-potongan Quran yang dihafalnya. Dengan kata lain, klaim bahwa pada masa Muhammad Quran telah lengkap tidak didukung data yang ada. 

Mengenai lupanya Muhammad anda merujuk pada sebuah link. Namun link ini tidak memberi jawaban yang tegas pertanyaan berikut: "Hafalan" terhadap Quran telah menjadi semacam dogma bagi muslim bahwa hal itu dianggap pemeliharaan Allah atas kemurniaan firmanNya. Lalu mengapa Allah membuat Muhammad lupa pada ayat-ayat Quran? 

Arda Chandra : Quote dari Jimmy Jeffry [[[[Anda sendiri mengakui fakta tidak ada sahabat yang menghafal quran lewat pernyataan anda berikut ini: ".. kalau anda menginginkan harus ada catatan sejarah yang berbunyi 'sepeninggal nabi Muhammad ada sahabat yang menghapal seluruh ayat Al-Qur'an', atau 'hapal seluruh ayat Al-Qur'an 114 surat mulai dari al-Faatehah sampai dengan an-Naas', maka sampai sekarang catatan seperti itu memang tidak ada". Maka data tambahan yang anda ajukan justru kontradiksi dengan pernyataan anda tsb. "...Sebaliknya saya memahaminya dengan 'ke-4 sahabat Rasulullah tersebut diberitakan oleh Anas bin Malik adalah orang-orang yang hapal seluruh ayat Al-Qur'an'".]]]]] 

Saya terpaksa menjawabnya dengan mengcopas kembali postingan saya karena kelihatannya anda belum menangkap apa yang saya maksudkan : 

=="Dalam pemahaman umat Islam, bahkan sampai sekarang, kalau dikatakan seseorang 'hafidz Al-Qur'an' itu merujuk kepada pengertian 'hapal seluruh ayat Al-Qur'an 30 juz', sebab kalau pengertiannya bukan seperti itu maka bisa dikatakan semua orang Islam disebut hapal Al-Qur'an, karena hampir tidak ada dari mereka yang tidak hapal surat al-Fatehah. Ketika Rasulullah menaklukkan Makkah, beliau membawa pasukan sebanyak 10.000 orang, maka dengan pengertian yang anda pakai, semuanya akan dikatakan penghapal Al-Qur'an, belum lagi anak-anak dan wanita yang tidak ikut berperang. Tidak mungkin Anas bin malik hanya menyebut nama 4 orang saja, kalau dia hanya mau mengatakan orang yang hapal sebagian saja."== 

Quote dari Jimmy Jeffry [[[[Namun Suyuthi tidak menyebutkan orang yang menghafal seluruh ayat-ayat quran, malah Suyuti menuliskan tentang perkataan Abdullah bin Umar yang tidak mendapatkan seluruh isi Quran namun hanya bagian-bagian yang masih bertahan. `Abdullah b. `Umar reportedly said, 'Let none of you say, "I have got the whole of the Qur'an." How does he know what all of it is? Much of the Qur'an has gone [d h b]. Let him say instead, "I have got what has survived."' (Jalal al Din `Abdul Rahman b. abi Bakr al Suyuti, "al Itqan fi `ulum al Qur'an", Halabi, Cairo, 1935/1354)]]]] 

http://icraa.org/meaning-of-ibn-umars-statement-much-of-the-quran-is-gone/ 

Quote dari Jimmy Jeffry [[[[Klaim anda sejak awal bahwa Quran telah komplet 114 surah sejak pada masa Muhammad jelas tidak didukung data yang ada. Bahkan menurut at Tabari ada terdapat perbedaan isi sebuah surah justru masih pada masa Muhammad. `Abdullah reports, 'We differed about a sura, as to whether it consisted of thirty-five or thirty-six verses, so we went to the Prophet who was engaged in conversation with `Ali. When we told him we disagreed over the reading, his face reddened as he replied, "Those before you perished through their disagreements." He whispered something to `Ali who said, "The Prophet commands you to recite as you were taught."' (Abu Ja`far Muhammad b. Jarir al Tabari, "Tafsir", hal 23-4)]]]]] 

Ini bukan bukti tentang hilangnya hapalan setelah nabi Muhammad wafat, tapi soal adanya perbedaan surat antara Abdullah dan Ali diwaktu nabi Muhammad masih ada. Dan cerita Tabari ini justru membuktikan bahwa nabi Muhammad tidak lupa dengan ayat tersebut sehingga ketika dia memutuskan mana yang benar maka keduanya telah mendapatkan surat Al-Qur'an yang benar juga. 

Quote dari Jimmy Jeffry [[[[Pengumpulan Quran oleh Zain bin Thabit menjadi satu mushaf tidak menggantungkan pada hafalan orang-orang tertentu saja, melainkan tersebar pada banyak penghafal Quran. Bahkan dalam hadist yang dikutip pak Arda disebutkan pengumpulan dilakukan di masjid Nabawi menunggu orang-orang yang datang memberikan informasi potongan-potongan Quran yang dihafalnya. Dengan kata lain, klaim bahwa pada masa Muhammad Quran telah lengkap tidak didukung data yang ada.]]]]] 

Ini proses kodifikasi dijaman Abu Bakar, karena mushaf Al-Qur'an memang belum dikumpulkan dalam sebuah buku. yang sedang kita diskusikan adalah apakah Al-Qur'an sudah lengkap 114 surat pada waktu nabi Muhammad wafat lengkap dengan susunannya mulai dari surat Al-Fatihah sampai An-Naas seperti saat ini. Saya memang tidak mengatakan kelengkapan tersebut dalam sebuah mushaf, tapi dalam hapalan banyak orang yang dibacakan terbuka dalam shalat dan tadarusan di masjid-masjid. 

Quote dari Jimmy Jeffry [[[[Mengenai lupanya Muhammad anda merujuk pada sebuah link. Namun link ini tidak memberi jawaban yang tegas pertanyaan berikut: "Hafalan" terhadap Quran telah menjadi semacam dogma bagi muslim bahwa hal itu dianggap pemeliharaan Allah atas kemurniaan firmanNya. Lalu mengapa Allah membuat Muhammad lupa pada ayat-ayat Quran?]]]]] 

Untuk menjawabnya saya copas lagi penjelasan saya sebelumnya karena ini sudah merupakan pengulangan yang ketiga kalinya : 

=="Nabi Muhammad hanyalah 1 individu dari ribuan umat Islam yang ada pada waktu itu, sedangkan Al-Qur'an selalu beliau sebarkan untuk ditulis dan dihapal begitu menerima wahyu. Katakanlah dugaan anda benar, bahwa nabi Muhammad bisa saja lupa dengan ayat yang telah beliau sampaikan, maka ada puluhan orang lain yang telah meghapalkannya. Maka lupanya nabi Muhammad tersebut tidak berpengaruh terhadap keberadaan ayat-ayat Al-Qur'an."== 

Hadits tersebut menyatakan nabi Muhammad pernah lupa dengan satu ayat, lalu teringat kembali ketika ada orang lain yang membaca, itu menunjukkan beliau kembali tahu ayat tersebut, jadi bukan merupakan bukti bahwa ketika nabi Muhammad wafat Al-Qur'an masih belum lengkap 114 surat, apa hubungannya..?? 

Soal kelupaan Rasulullah dimungkinkan hanya dengan 1 sebab, yaitu karena ayat tersebut dinasakh oleh Allah : 

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (Al-Baqarah: 106) 

Tanggapan anda terakhir ini kelihatannya mengajukan referensi pendapat para sahabat tentang Al-Qur'an setelah tersusunnya mushaf Usmani. Fakta diakhir proses kodifikasi mushaf Usmani ini mungkin bisa menjelaskan : 

Naskah penentuan ini, ketika diverifikasi dan dicek dengan Suhuf yang dari Hafsa, lalu, "dibacakan kepada sahabat di depan 'Uthman. (Ibn Kathir, Fada'il, vii: 450) 

Ini membuktikan bahwa seluruh isi mushaf Usmani sudah sesuai dengan hapalan kolektif dari para sahabat. yang dimaksud dengan hapalan kolektif, bisa saja satu sahabat tidak menghapal seluruh ayat, namun yang lain menghapalnya, semuanya saling mengcross-check dengan bacaan dari mushaf tersebut. 

Jimmy Jeffry : Quote dari Arda Chandra [[[Saya terpaksa menjawabnya dengan mengcopas kembali postingan saya karena kelihatannya anda belum menangkap apa yang saya maksudkan : =="Dalam pemahaman umat Islam, bahkan sampai sekarang, kalau dikatakan seseorang 'hafidz Al-Qur'an' itu merujuk kepada pengertian 'hapal seluruh ayat Al-Qur'an 30 juz', sebab kalau pengertiannya bukan seperti itu maka bisa dikatakan semua orang Islam disebut hapal Al-Qur'an, karena hampir tidak ada dari mereka yang tidak hapal surat al-Fatehah. Ketika Rasulullah menaklukkan Makkah, beliau membawa pasukan sebanyak 10.000 orang, maka dengan pengertian yang anda pakai, semuanya akan dikatakan penghapal Al-Qur'an, belum lagi anak-anak dan wanita yang tidak ikut berperang. Tidak mungkin Anas bin malik hanya menyebut nama 4 orang saja, kalau dia hanya mau mengatakan orang yang hapal sebagian saja."==]]]] 

Saya kira pernyataan anda tentang tidak ada catatan ekplisit sahabat Muhammad yang menghafal Quran cukup jelas maknanya. Dan saya sependapat dengan pernyataan tsb . Ok jika anda anggap saya tidak menangkap maksud anda. .. 

Sebelumnya saya memang tidak mengomentari detail pernyataan anda yang anda kutip ulang di atas, karena menurut saya tidak ada point yg substansi. Ok.. ini tanggapan detail saya. 

Quote dari Arda Chandra [[...Dalam pemahaman umat Islam, bahkan sampai sekarang, kalau dikatakan seseorang 'hafidz Al-Qur'an' itu merujuk kepada pengertian 'hapal seluruh ayat Al-Qur'an 30 juz', sebab kalau pengertiannya bukan seperti itu maka bisa dikatakan semua orang Islam disebut hapal Al-Qur'an, karena hampir tidak ada dari mereka yang tidak hapal surat al-Fatehah]]] 

Pernyataan anda ini dilihat dari konteks pasca Quran telah terstandarisasi terutama sejak masa kalifah Uthman s/d masa kini. Adakah rujukan tentang hafidz alquran dalam pengertian telah menghafal seluruh ayat Quran pada masa Muhammad atau sebelum standarisasi oleh Uthman? Bukti yang anda ajukan dari hadist tidak mendukung pernyataan ini kecuali catatan-vatatan tentang orang yang menghafal bagian-bagian dari Quran. 

Quote dari Arda Chandra [[[..Ketika Rasulullah menaklukkan Makkah, beliau membawa pasukan sebanyak 10.000 orang, maka dengan pengertian yang anda pakai, semuanya akan dikatakan penghapal Al-Qur'an, belum lagi anak-anak dan wanita yang tidak ikut berperang. Tidak mungkin Anas bin malik hanya menyebut nama 4 orang saja, kalau dia hanya mau mengatakan orang yang hapal sebagian saja]]] 

Bisa-bisa saja banyak diantara pasukan yang menghafal ayat-ayat Quran berupa hafalan satu atau beberapa ayat atau bagian-bagian dari Quran, namun point saya cukup jelas dan telah saya ulang beberapa kali bahwa tidak ada catatan orang-orang tertentu yang menghafal seluruh ayat Quran. Karena memang tidak ada catatan pengumpulan ayat-ayat Quran pada masa Muhammad, baik dalam bentuk sebuah mushaf (tulisan) maupun kumpulan hafalan-hafalan tsb yang kemudian dihafal seluruhnya oleh beberapa orang tertentu. 

Anas bin Malik yang menyebut 4 nama hanya menyatakan orang-orang yang dominan atau lebih banyak hafalan di atas rata-rata sahabat Muhammad lainnya. Tetapi Anas tidak menyebutkan bahwa mereka telah menghafal seluruh ayat Quran. 

Anda merujuk pada link yang membahas panjang lebar kutipan dari tulisan Suyuti. Saya telah mencermatinya, point utama dari penulis link tsb bahw perkataan Umar mengacu pada ayat-ayat Quran yang telah dibatalkan (nasakh/abrogated). Terutama fokus pada kalimat "MUCH of the Qur'an has gone..". Namun kalimat berikut kurang diperhatikan dalam pembahasan link tsb "... Let him say instead, "I have got what has survived.". Terjemahan bebas ".. kami mendapatkan apa yang masih bertahan". 

Apakah konsep nasakh/abrogation ayat-ayat Quran cocok dengan konsep "teks-teks yang masih survived"? Bukankah term "survived" lebih cocok pada pengertian teks-teks yang masih bisa didapatkan (yang tidak sempat hilang) sampai pada masa Umar tsb? Jika yang dimaksud Umar bahwa seluruh ayat-ayat Quran yang dihafal itu ada yang telah dibatalkan, maka akan lebih tepat Umar menjawab dengan kalimat "... I have got what has not abrogated". 

Seandainya kesimpulan dari link itu memang tepat, maka ada beberapa implikasi lainnya: - adanya fakta bahwa ada ayat-ayat Quran yang telah dibatalkan ternyata masih dianggap bagian dari Quran oleh beberapa penghafal Quran - apakah kodifikasi Quran oleh Abubakr/Zaid dan Uthman termasuk melakukan pembersihan/filterisasi ayat-ayat Quran yang telah dibatalkan tsb? 

Pembahasan tentang abrogation ayat-ayat Quran bisa menjadi pembahasan yang cukup panjang.. Kalaupun ini dibahas detail tetap masih dalam kerangka pembahasan kanonisasi/kodifikasi Quran. 

Quote darti Arda Chandra [[[Ini bukan bukti tentang hilangnya hapalan setelah nabi Muhammad wafat, tapi soal adanya perbedaan surat antara Abdullah dan Ali diwaktu nabi Muhammad masih ada. Dan cerita Tabari ini justru membuktikan bahwa nabi Muhammad tidak lupa dengan ayat tersebut sehingga ketika dia memutuskan mana yang benar maka keduanya telah mendapatkan surat Al-Qur'an yang benar juga]]] 

Namun ada point lain dari tulisan Tabari tsb yaitu fakta adanya perbedaan surah diantara para sahabat Muhammad. Memang Muhammad lalu meluruskan dan memutuskan mana yang benar. Pointnya adalah sedangkan diantara sahabat dekat Muhammad sendiri ada perbedaan tentang surah-surah Quran apalagi para penghafal quran lainnya. Lalu bagaimana perbedaan itu saat Muhammad wafat yang berarti tidak ada lagi otoritas yang memutuskan mana yang benar. Bukankah ini menjadi dasar logis standarisasi Quran yang dilakukan Abubakr/Zaid yang kemudian dipertegas oleh Uthman dengan membakar versi-versi yang berbeda? 

Dengan adanya perbedaan-perbedaan ini, maka berarti ada juga perbedaan penghafalan ayat-ayat quran diantara para penghafal quran itu sendiri. Jika seandainya ada sahabat Muhammad yang menghafal seluruh ayat-ayat Quran, apakah ayat-ayat Quran yang dihafalkannya itu adalah surah-surah yang benar? 

Quote dari Arda Chandra [[[Untuk menjawabnya saya copas lagi penjelasan saya seblumnya karena ini sudah merupakan pengulangan yang ketiga kalinya : =="Nabi Muhammad hanyalah 1 individu dari ribuan umat Islam yang ada pada waktu itu, sedangkan Al-Qur'an selalu beliau sebarkan untuk ditulis dan dihapal begitu menerima wahyu. Katakanlah dugaan anda benar, bahwa nabi Muhammad bisa saja lupa dengan ayat yang telah beliau sampaikan, maka ada puluhan orang lain yang telah meghapalkannya. Maka lupanya nabi Muhammad tersebut tidak berpengaruh terhadap keberadaan ayat-ayat Al-Qur'an."=]]] 

Saya juga jadi nggak enak nih.. harus mengatakan bahwa tanggapan saya adalah pengulangan yang ketiga. Saya kira kita akan terus tetap berbeda untuk point ini, saya mengutip kembali saja tanggapan saya sebelummnya. 

"...Kalimat "lupa berjamaah" bisa terjadi jika telah ada "hafalan berjamaah", namun yang terjadi justru banyak ayat-ayat quran tersebar di beberapa orang yang menghafalnya bahkan bisa hanya satu orang seperti kasus Abu Khuzaima. Jika memang terjadi "hafalan berjamaah" saat itu, maka ketika Muhamamd lupa ayat-ayat tertentu saat shalat bersama di Masjid, maka akan banyak jemaah yang akan mengingatkan dia, tetapi yang mengingatkan hanya orang tertentu saja seperti seorang pria dalam hadist ini. 

Narrated Mu'awiyah ibn Khudayj: One day the Apostle of Allah (peace_be_upon_him) prayed and gave the salutation while a rak'ah of the prayer remained to be offered. A MAN went to him and said: You forgot to offer one rak'ah of prayer. ... . Abu Dawud 3:1018" 

Quote dari Arda Chandra [[[Soal kelupaan Rasulullah dimungkinkan hanya dengan 1 sebab, yaitu karena ayat tersebut dinasakh oleh Allah]]] 

Data dari hadist tentang kasus-kasus kelupaan Muhammad pada beberapa ayat, tidak menunjukkan bahwa Muhammad menyatakan secara eksplisit/implisit bahwa ayat-ayat yang "lupa" itu telah di-nasakh (abrogated). Saya ulangi pertanyaan saya sebelumnya yang belum terjawab.. "Hafalan" terhadap Quran telah menjadi semacam dogma bagi muslim bahwa hal itu dianggap pemeliharaan Allah atas kemurniaan firmanNya. Lalu mengapa Allah membuat Muhammad lupa pada ayat-ayat Quran?