Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Antara Jesus Dan Jokowi ( Tanggapan Untuk Artikel Rohaniawan Katholik) 2

Oleh : Dr Adian Husaini

Jokowi akan dikorbankan?
Aloysius menulis:  “Jesus menjadi tokoh ideal yang berpraksis bela rasa dan solider kepada korban, bukan kepada penguasa dan pemilik modal. Itulah buah teologi blusukan dan praksis dari pastoral blusukan Jesus. Akibatnya, Jesus dijatuhi hukuman mati, bahkan dianggap pemberontak. Tanda-tanda mukjizat dan buah-buah pastoral blusukan-Nya tidak dianggap. Dia justru dituduh menggunakan ilmu sihir dan menyesatkan rakyat. Begitulah, para pemuka agama dan politikus busuk yang memusuhi-Nya kemudian bersekongkol dengan prokurator Romawi bernama Pontius Pilatus. Jesus dijatuhi hukuman mati.”
Bagi kaum Kristen, babak terpenting dari episode kehidupan Jesus adalah penyaliban  dan kebangkitan Jesus. Itulah inti agama Kristen (Christianity). Tidak ada agama Kristen tanpa adanya konsep penyaliban dan kebangkitan (crucifixion and resurrection) Jesus.  Maka, kita patut bertanya, jika Jokowi disamakan dengan Jesus dalam perspektif  Kristen, apakah pada akhirnya Jokowi juga akan “disalib” dan “dikorbankan” demi “menebus dosa kaum tertentu”?
Kaum Katolik Indonesia mengaku memiliki “syahadat” versi Katolik yang bunyinya: “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu menjadi ada…” (Lihat buku, Konsili-konsili Gereja karya Norman P. Tanner, hal. 36-37). 
Jokowi adalah muslim. Bahkan, sudah menunaikan ibada haji. Sebagai Muslim, ia sudah bersaksi, bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.” Jokowi pasti yakin, Allah tidak punya anak dan tidak diperanakkan. Ia juga yakin akan kebenaran al-Quran, yang  menjelaskan bahwa Jesus (Isa a.s.) adalah manusia, seorang Nabi. Jesus bukan Tuhan atau anak Tuhan. Bahkan al-Quran dengan tegas menyatakan: “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah itu sama dengan Isa Ibnu Maryam. Padahal, al-Masih Isa Ibnu Maryam berkata, wahai Bani Israil sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya siapa yang menserikatkan Allah maka Allah akan mengharamkan sorga baginya, dan tempatnya di neraka. Dan orang-orang zalim itu tidak akan mendapatkan pertolongan.” (QS 5:72).
Juga, disebutkan dalam al-Quran, sungguh kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Isa adalah salah satu dari yang tiga (QS 5:73). Allah juga murka karena dituduh punya anak. Orang yang menuduh Allah punya anak, sungguh telah melakukan kejahatan besar di mata Allah (QS 19:88-91). Al-Quran pun membantah bahwa Nabi Isa a.s. telah mati di tiang salib. Tidak ada bukti yang meyakinkan tentang itu. (QS 4:157, QS 18:4-5). Menuduh Allah punya anak atau punya sekutu adalah tindakan syirik, dosa terbesar dalam pandangan Islam. Karena itu syirik disebut sebagai “kezaliman besar”. (QS 31:13).  Nabi Muhammad saw ditugaskan oleh Allah untuk mengajak kaum Kristen agar mereka kembali kepada “satu kata” yang sama, yaitu hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun juga (misi Tauhid) (QS 3:64).
Dalam perspektif Islam, menyamakan antara Jesus dengan Jokowi bisa dikatakan “sangat keliru” dan “sangat berlebihan”.  Kaum Muslim Indonesia tentu berharap, Haji Jokowi tidak mau “disalib” dan “dikorbankan” untuk dinobatkan sebagai juru selamat kaum tertentu di Indonesia. Tapi, itu terpulang kepada Pak Haji Jokowi, karena beliau sendiri yang akan bertanggung jawab kepada Allah: apakah ikut berjuang memperkuat misi seluruh Nabi dalam menegakkan Tauhid dan Rahmatan lil-alamin atau mendukung dan memperkuat kesesatan dan kemusyrikan di negeri tercinta ini. Sebagai rakyat, kita hanya menyampaikan taushiyah, hanya sekedar mengingatkan. Wallahu a’lam bish-shawab.*/Depok, 17 Mei 2014
Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Antara Jesus Dan Jokowi (Tanggapan Untuk Artikel Rohaniawan Katholik) 1

Oleh: Dr. Adian Husaini
DUKUNGAN kalangan Kristen (Protestan dan Katolik) terhadap Jokowi untuk menjadi Presiden Indonesia 2014-2019 dilakukan secara terbuka,  bahkan sangat menggebu-gebu, sehingga terkesan melampaui batas kepatutan. Pada 29 April 2014, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) yang merupakan induk gereja Protestan di Indonesia, bersama sejumlah LSM pengusung isu HAM, membuat pernyataan yang menolak pencapresan Prabowo Subianto. Dengan mengatasnamakan “Gerakan Kebhinekaan untuk Pemilu Berkualitas (GKPB)”, mereka mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak memilih Prabowo.
Dari kalangan Katolik, sebuah dukungan terbuka terhadap Jokowi disuarakan oleh pastor Aloysius Budi Purnomo, melalui artikel berjudul “Jesus, Jokowi, dan Keselamatan Rakyat” di Harian Sinar Harapan (http://sinarharapan.co/news/read/140417053/Jesus-Jokowi-dan-Keselamatan-Rakyat, 17/4/2014). Artikel Aloysius ini segera memicu kontroversi yang luas. Itu karena Aloysius membenarkan adanya sejumlah persamaan antara Jokowi dan Jesus, dengan menggunakan perspektif teologi Kristen.
Disebutkan, bahwa diantara persamaan antara Jesus dan Jokowi adalah:  (1) keduanya sama-sama berinisial huruf J, (2) baik Jesus maupun Jokowi sama-sama anak tukang kayu, (3) keduanya sama-sama mencintai rakyat kecil, tersingkir, dan difabel, (4) sama seperti Jesus, Jokowi suka blusukan, menjumpai rakyat kecil, (5) konon keduanya sama-sama berasal dari Jawa Tengah, yang dalam hal ini terdapat perbedaan;  Jokowi adalah orang Solo, sedangkan Jesus orang “Kudus”.
Meskipun persamaan itu bersumberkan pada “guyonan”, Aloysius menjelaskan:
“Guyonan itu hemat saya merupakan harapan. Kami umat Kristiani, terutama saya sebagai orang Katolik yang notabene juga seorang pastor, tidak merasa tersinggung dengan guyonan itu. Tidak masalah Jokowi disandingkan dengan Jesus. Itu bukan pelecehan, juga bukan penghinaan! Pastinya, Jesus akan tersenyum simpul membaca atau mendengar guyonan tersebut. Dipastikan pula Ia tidak marah.”
Lebih jauh ditulis oleh Aloysius: “Jangankan disamakan dengan Jokowi yang menjadi tokoh fenomenal dan kerinduan masyarakat kecil menjadikannya pemimpin masa depan, Jesus bahkan menyamakan diri dengan mereka yang lapar, haus, yang telanjang, terpenjara, sakit, dan orang asing (Matius 25:30). Jesus berkata, “Apa pun yang kamu lakukan untuk salah satu dari saudaraku yang paling hina itu, kamu lakukan untuk Aku!”
Sebagai seorang muslim, saya berasumsi, bahwa yang ditulis oleh teolog Katolik itu adalah hal yang sebenarnya, seperti yang ia pahami.; bukan untuk tujuan pencitraan Jokowi. Aloysius tentu memahami, bahwa munculnya Jokowi sebagai tokoh fenomenal sangat didukung oleh pencitraan media. Tanpa menafikan prestasi dan pribadinya yang sederhana, masyarakat Indonesia tidak akan mengenal Jokowi jika sejumlah media massa tidak mengangkat Jokowi begitu dahsyatnya, sehingga dicitrakan sebagai sosok “juru selamat”, termasuk apa yang dilakukan oleh Aloysius melalui artikelnya.
Dalam hal keberpihakan terhadap rakyat kecil ini, menyamakan antara Jesus dengan Jokowi juga perlu dipertanyakan. Dalam Bibel sendiri dijelaskan, bahwa Jesus justru melawan penguasa global dan penguasa agama (Yahudi) ketika itu. Fakta dan sejumlah manuver Jokowi justru menunjukkan, bagaimana kuatnya dukungan kaum berduit dan penguasa global saat ini.  Dalam Matius  25:30 disebutkan: “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Alkitab, versi LAI, tahun 2007).
Tentang Teologi “Blusukan”
Aloysius  menulis bahwa  ribuan tahun silam – sebelum Jokowi — Jesus memang punya hobi blusukan. Kehadiran-Nya di dunia sebagai “Sang Sabda yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yohanes 1:14) sudah merupakan blusukan perdana. Blusukan itulah yang disebut penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia. Itulah teologi inkarnasi.
Masih menurut Aloysius, dalam perspektif iman Kristiani, Jesus disebut “Putra Allah yang Mahatinggi”, yang sejak awal mula bersama-sama dengan Allah dalam kesatuan kasih mesra. Namun karena begitu besar kasih Allah terhadap dunia, Allah berkenan mengutus Putra yang tunggal ke dunia agar setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal (bandingkan Yohanes 3:16). Percaya kepada-Nya tentu saja tidak boleh dipahami saklek harus menjadi Kristiani dan dibaptis formal.
“Karl Rahner berterminologi yang disebut baptis batin, yakni semua orang yang menerima keberadaan-Nya dan percaya Dialah Sang Juruselamat, mewujudkan sikap itu dalam setiap tindakan baik, benar, dan suci. Konsili Vatikan II, melalui dokumen Lumen Gentium (LG) dan Nostra Aetate (NA) menegaskan, Katolik tidak menolak apa pun yang serba benar, baik, dan suci, yang ada dalam setiap agama dan kebudayaan sebagai hal yang tidak berlawanan dengan Jesus Kristus (bandingkan LG 16 dan NA 2),” tulis Aloysius.
Begitulah opini yang dikembangkan Aloysius.
Menarik membaca tulisan Aloysius itu, bahwa pengertian percaya kepada Yesus sebagai Putra yang tunggal itu tidak harus menjadi Kristiani dan dibaptis secara formal. Ia mengenalkan istilah “baptis batin” yang katanya disebutkan oleh teolog Jerman Karl Rahner.  Tidak jelas benar apa yang dimaksudkan oleh Aloysius dengan “babtis batin”.  Sebab, Karl Rahner sendiri dikenal dengan gagasannya tentang “anonymous Christianity” (Kristen tanpa nama). Bahwa, orang-orang yang belum mengenal Jesus dapat dikategorikan sebagai “Kristen” tapi  “tanpa nama”, meskipun mereka sudah memeluk agama tertentu. Hanya saja, Rahner berpendapat, bahwa agama orang-orang itu tidak sah lagi jika misi Kristen sudah sampai pada mereka dan Bibel diterjemahkan ke dalam bahasa mereka.
“Once a religion really confronts the gospel – once the gospel is translated into the new culture and embodied in community – than that religion loses its validity,”  tulis Karl Rahner seperti dikutip Paul F. Knitter dalam bukunya, No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes toward the World Religion (London: SCM Press Ltd., 1985).
Jadi, dalam perspektif  teologi inklusif model Karl Rahner, setelah agama Kristen disebarkan ke Indonesia, maka agama-agama selain Kristen sudah tidak sah lagi.
Dalam artikelnya, Aloysius juga menyebut, bahwa tokoh Hindu Mahatma Gandhi sangat mengagumi Jesus dan mengasihi-Nya. Ditulis oleh Aloysius: “Jesus Kristus itu unik sekaligus universal. Tak heran tokoh Hindu dan pemimpin India bernama Mahatma Gandhi sangat mengagumi Jesus dan mengasihi-Nya, terutama dengan ajaran ahimsa, mengasihi musuh. Tokoh politis India tersebut sangat menghayati sabda bahagia yang menjadi bagian dari khotbah di bukit yang disampaikan Jesus dan dicatat dalam Injil.”
Benarkah Mahatma Gandhi bersikap simpatik terhadap Jesus seperti yang ditulis Aloysius itu?   Tahun 2012, penerbit Media Hindu, menerbitkan buku berjudul “Dialog Gandhi dengan Missionaris tentang Kristen dan Konversi”. Buku ini aslinya berjudul “Gandhi on Christianity” (Maryknoll New York: Orbis Books, 1991). Buku ini memaparkan sikap kritis Gandhi terhadap kepercayaan kaum Kristen pada Jesus:
“Saya menganggap Yesus sebagai seorang guru besar kemanusiaan, tapi saya tidak
menganggap dia sebagai satu-satunya anak yang dilahirkan Tuhan. Julukan itu dalam penafsiran materialnya tidak dapat diterima. Secara kiasan kita semua adalah anak-anak yang dilahirkan Tuhan, tapi untuk masing-masing kita mungkin ada anak-anak lain yang dilahirkan Tuhan dalam pengertian khusus… Saya percaya dengan kesempurnaan  untuk menjadi sempurna dari hakikat manusia. Yesus telah menjadi sedekat mungkin pada kesempurnaan itu. Mengatakan bahwa dia sempurna sama dengan menolak superioritas Tuhan atas manusia… Saya juga tidak memerlukan ramalan-ramalan dan keajaiban-keajaiban untuk mengakui kebenaran Yesus sebagai seorang guru. Tidak ada yang lebih ajaib dari tiga tahun kependetaannya, “Tidak ada keajaiban dalam sejarah manusia yang dihidupi dengan segenggam roti. Seorang tukang sulap dapat membuat ilusi (tipuan pandang) semacam itu. Tapi terkutuklah hari ketika seorang pesulap dihormati sebagai penyelamat kemanusiaan.” (hal. 124-125).

Tentang keselamatan universal – baik bagi yang percaya atau yang tidak percaya kepada Ketuhanan Jesus –  Aloysius menulis: “Blusukan-Nya mendatangkan keselamatan universal bagi semua orang, yang mengimani Dia, maupun yang tidak mengimani-Nya, bahkan yang memusuhi-Nya. Itu karena Ia pun berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya agar diampuni Allah, yang disebut-Nya Bapa, sebab mereka tidak tahu yang mereka perbuat (Lukas 23:34 dan paralelnya).”
Membaca tulisan Aloysius  tersebut, kita dapat bertanya, benarkah orang yang tidak mengimani Yesus juga mendapatkan keselamatan, sebagaimana digambarkan oleh Pastor Aloysius? Masalah keselamatan universal ini telah menyita perdebatan panjang dalam internal Kristen. Benarkah ada keselamatan di luar gereja Katolik? Jika memang ada, untuk apa Gereja Katolik memerintahkan kaum Katolik untuk menjalankan misinya agar percaya kepada Yesus.
Dalam artikelnya, Aloysius mengenalkan diri sebagai “rohaniwan”,  budayawan interreligius, dan Wakil Ketua FKUB Jawa Tengah. Sebagai rohaniwan Katolik, Aloysius tetunya sangat paham tentang perdebatan seputar wacana “keselamatan di luar gereja Katolik”.   Sebelumnya, Gereja berpegang pada doktrin “extra ecclesiam nulla salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan).  Kemudian, Konsili Vatikan II (1962-1965), menetapkan satu dokumen Nostra Aetate yang bersifat cukup simpatik terhadap agama lain, termasuk Islam. Tetapi, sejumlah dokumen Konsili Vatikan II juga mempertahankan sikap eksklusifitasnya dalam soal keselamatan.
Dekrit ‘ad gentes’ mewajibkan aktivitas misi Katolik ke seluruh umat manusia:
“Therefore, all must be converted to Him, made known by the Church’s preaching, and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body… And hence missionary activity today as always retains its power and necessity.” (Karena itu, haruslah semua orang dikonversikan kepada Dia, Yang dikenal lewat misi Gereja; semua manusia harus menjadi anggota Dia dan Anggota Gereja dengan pembaptisan, yang adalah Tubuhnya… Oleh sebab itu, aktivitas misi Kristen dewasa ini senantiasa tetap mempunyai kekuatannya dan tetap dibutuhkan).
Tahun 1990, induk Gereja Katolik di Indonesia, yaitu KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) menerjemahkan dan menerbitkan naskah imbauan apostolik Paus Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern (Evangelii Nuntiandi), yang disampaikan 8 Desember 1975, yang menyebutkan: “Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan Kristen….Agama-agama bukan kristen semuanya penuh dengan “benih-benih Sabda” yang tak terbilang jumlahnya dan dapat merupakan suatu “persiapan bagi Injil” yang benar… Kami mau menunjukkan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini, bahwa baik penghormatan maupun penghargaan terhadap agama-agama tadi, demikian pula kompleksnya masalah-masalah yang muncul, bukan sebagai suatu alasan bagi Gereja untuk tidak mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. Sebaliknya Gereja berpendapat bahwa orang-orang  tadi berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus.”
Dalam pidatonya pada 7 Desember 1990, yang bertajuk Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus), yang diterbitan KWI tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Tugas perutusan Kristus Sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian. Tatkala Masa Seribu Tahun Kedua sesudah kedatangan Kristus hampir berakhir, satu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja di tahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati…Kegiatan misioner yang secara khusus ditujukan “kepada para bangsa” (ad gentes) tampak sedang menyurut, dan kecenderungan ini tentu saja tidak sejalan dengan petunjuk-petunjuk Konsili dan dengan pernyataan-pernyataan Magisterium sesudahnya.”
Menyimak sejumlah dokumen Gereja Katolik tentang kewajiban menjalankan misi Kristen untuk membaptis seluruh manusia, maka patut ditanyakan, apakah dukungan kaum Kristen kepada Jokowi merupakan bagian dari aktivitas misi tersebut?   Bisanya, agak berbeda dengan kaum Kristen evangelis yang menyampaikan misi dengan “vulgar”,  Geraja Katolik menjalankan misinya dengan halus melalui program akulturasi atau kemanusiaan.
Jadi, apa sebenarnya misi kaum Kristen yang secara menggebu-gebu mendorong Jokowi sebagai calon Presiden RI? Wallahu a’lam.

Mengapa Turunnya Islam Pertama Di Negeri Arab?

Para penulis sirah nabawiyah seperti Syeikh Dr. Said Ramadhan Al-Buthi dan beberapa ulama lainnya memang pernah menuliskan apa yang anda tanyakan. Yaitu tentang beberapa rahasia dan hikmah di balik pemilihan Allah SWT atas jazirah arabia sebagai bumi pertama yang mendapatkan risalah Islam.
Rupanya turunnya Islam pertama di negeri arab bukan sekedar kebetulan. Juga bukan semata karena di sana ada tokoh paling jahat semacam Abu Jahal cs. Namun ada sekian banyak skenario samawi yang akhir-akhir ini mulai terkuak. Kita di zaman sekarang ini akan menyaksikan betapa rapi rencana besar dan strategi Allah jangka panjang, sehingga pilihan untuk menurunkan risalah terakhir-Nya memang negeri Arabia.
Meski tandus, tidak ada pohon dan air, namun negeri ini menyimpan banyak alasan untuk mendapatkan kehormatan itu. Beberapa di antaranya yang bisa kita gali adalah:
I. Di Jazirah Arab Ada Rumah Ibadah Pertama
Tanah Syam (Palestina) merupakan negeri para nabi dan rasul. Hampir semua nabi yang pernah ada di tanah itu. Sehingga hampir semua agama dilahirkan di tanah ini. Yahudi dan Nasrani adalah dua agama besar dalam sejarah manusia yang dilahirkan di negeri Syam.
Namun sesungguhnya rumah ibadah pertama di muka bumi justru tidak di Syam, melainkan di Jazirah Arabia. Yaitu dengan dibangunnya rumah Allah (Baitullah) yang pertama kali di tengah gurun pasir jazirah arabia.
Rumah ibadah pertama itu menurut riwayat dibangun jauh sebelum adanya peradaban manusia. Adalah para malaikat yang turun ke muka bumi atas izin Allah untuk membangunnya. Lalu mereka bertawaf di sekeliling ka'bah itu sebagai upaya pertama menjadikan rumah itu sebagai pusat peribadatan umat manusia hingga hari kiamat menjelang.
Ketika Adam as diturunkan ke muka bumi, beliau diturunkan di negeri yang sekarang dikenal dengan India. Sedangkan isterinya diturunkan di dekat ka'bah. Lalu atas izin Allah keduanya dipertemukan di Jabal Rahmah, beberapa kilometer dari tempat dibangunnya ka'bah.
Maka jadilah wilayah sekitar ka'bah itu sebagai tempat tinggal mereka dan ka'bah sebagai tempat pusat peribadatan umat manusia. Dan di situlah seluruh umat manusia berasal dan di tempat itu pula manusia sejak dini sudah mengenal sebuah rumah ibadah.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:
Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)
II. Jazirah Arabia Adalah Posisi Strategis
Bila kita cermati peta dunia, kita akan mendapati adanya banyak benua yang menjadi titik pusat peradaban manusia. Dan Jazirah Arabia terletak di antara tiga benua besar yang sepanjang sejarah menjadi pusat peradaban manusia.
Sejak masa Rasulullah SAW, posisi jazirah arabia adalh posisi yang strategis dan tepat berada di tengah-tengah dari pusat peradaban dunia.
Bahkan di masa itu, bangsa Arab mengenal dua jenis mata uang sekaligus, yaitu dinar dan dirham. Dinar adalah jenis mata uang emas yang berlaku di Barat yaitu Romawi dan Yunani. Dan Dirham adalah mata uang perak yang dikenal di negeri timur seperti Persia. Dalam literatur fiqih Islam, baik dinar maupun dirham sama-sama diakui dan dipakai sebagai mata uang yang berlaku.
Ini menunjukkan bahwa jazirah arab punya akses yang mudah baik ke barat maupun ke timur. Bahkan ke utara maupun ke selatan, yaitu Syam di utara dan Yaman di Selatan.
Dengan demikian, ketika Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan diperintahkan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, sangat terbantu dengan posisi jazirah arabia yang memang sangat strategis dan tepat berada di pertemuan semua peradaban.
Kita tidak bisa membayangkan bila Islam diturunkan di wilayah kutub utara yang dingin dan jauh dari mana-mana. Tentu akan sangat lambat sekali dikenal di berbagai peradaban dunia.
Juga tidak bisa kita bayangkan bila Islam diturunkan di kepulauan Irian yang jauh dari peradaban manusia. Tentu Islam hingga hari ini masih mengalami kendala dalam penyebaran.
Sebaliknya, jazirah arabia itu memiliki akses jalan darat dan laut yang sama-sama bermanfaat. Sehingga para dai Islam bisa menelusuri kedua jalur itu dengan mudah.
Sehingga di abad pertama hijriyah sekalipun, Islam sudah masuk ke berbegai pusat peradaban dunia. Bahkan munurut HAMKA, di abad itu Islam sudah sampai ke negeri nusantara ini. Dan bahkan salahseorang shahabat yaitu Yazid bin Mu'awiyah ikut dalam rombongan para dai itu ke negeri ini dengan menyamar.
III. Kesucian Bangsa Arab
Stigma yang selama ini terbentuk di benak tiap orang adalah bahwa orang arab di masa Rasulullah SAW itu jahiliyah. Keterbelakangan teknologi dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai contoh untuk menjelaskan makna jahiliyah.
Padahal yang dimaksud dengan jahiliyah sesungguhnya bukan ketertinggalan teknologi, juga bukan kesederhanaan kehidupan suatu bangsa. Jahiliyah dalam pandangan Quran adalah lawan dari Islam. Maka hukum jahiliyah adalah lawan dari hukum Islam. Kosmetik jahiliyah adalah lawan dari kosmetik Islam. Semangat jahiliyah adalah lawan dari semangat Islam.
Bangsa arab memang sedikit terbelakang secara teknologi dibandingkan peradaban lainnya di masa yang sama. Mereka hidup di gurun pasir yang masih murni dengan menghirup udara segar. Maka berbeda dengan moralitas maknawiyah bangsa lain yang sudah semakin terkotori oleh budaya kota, maka bangsa arab hidup dengan kemurnian niloai kemanusiaan yang masih asli.
Maka sifat jujur, amanah, saling menghormati dan keadilan adalah ciri mendasar dari watak bangsa yang hidup dekat dengan alam. Sesuatu yang telah sulit didapat dari bangsa lain yang hidup di tengah hiruk pikuk kota.
Sebagai contoh mudah, bangsa Arab punya akhlaq mulia sebagai penerima tamu. Pelayanan kepada seorang tamu yang meski belum dikenal merupakan bagian dari harga diri seorang arab sejati. Pantang bagi mereka menyia-nyiakan tamu yang datang. Kalau perlu semua persediaan makan yang mereka miliki pun diberikan kepada tamu. Pantang bagi bangsa arab menolak permintaan orang yang kesusahan. Mereka amat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang paling dasar.
Ketika bangsa lain mengalami degradasi moral seperti minum khamar dan menyembah berhala, bangsa arab hanyalah menjadi korban interaksi dengan mereka. 360 berhala yang ada di sekeliling ka'bah tidak lain karena pengaruh interaksi mereka dengan peradaban barat yang amat menggemari patung. Bahkan sebuah berhala yang paling besar yaitu Hubal, tidak lain merupakan sebuah patung yang diimpor oleh bangsa Arab dari peradaban luar. Maka budaya paganisme yang ada di arab tidak lain hanyalah pengaruh buruk yang diterima sebagai imbas dari pergaulan mereka dengan budaya romawi, yunani dan yaman.
Termasuk juga minum khamar yang memabukkan, adalah budaya yang mereka import dari luar peradaban mereka.
Namun sifat jujur, amanah, terbuka dan menghormati sesama merupakan akhlaq dan watak dasar yang tidak bisa hilang begitu saja. Dan watak dasar seperti ini dibutuhkan untuk seorang dai, apalagi generasi dai pertama.
Mereka tidak pernah merasa perlu untuk memutar balik ayat Allah sebagaimana Yahudi dan Nasrani melakukannya. Sebab mereka punya nurani yang sangat bersih dari noda kotor. Yang mereka lakukan adalah taat, tunduk dan patuh kepada apa yang Allah perintahkan. Begitu cahaya iman masuk ke dalam dada yang masih bersih dan suci, maka sinar itu membentuk proyeksi iman yang amal yang luar biasa. Berbeda dengan bani Israil yang dadanya sesat dengan noda jahiliyah, tak satu pun ayat turun kecuali ditolaknya. Dan tak satu pun nabi yang datang kecuali didustainya.
Bangsa Arab tidak melakukan hal itu saat iman sudah masuk ke dalam dada. Maka ending sirah nabawiyah adalah ending yang paling indah dibandingkan dengan nabi lainnya. Sebab pemandangannya adalah sebuah lembah di tanah Arafah di mana ratusan ribu bangsa arab berkumpul melakukan ibadah haji dan mendengarkan khutbah seorang nabi terakhir. Sejarah rasulullah berakhir dengan masuk Islamnya semua bangsa arab. Bandingkan dengan sejarah kristen yang berakhir dengan terbunuhnya (diangkat) sang nabi. Atau yahudi yang berakhir dengan pengingkaran atas ajaran nabinya.
Hanya bangsa yang hatinya masih bersih saja yang mampu menjadi tiang pancang peradaban manusia dan titik tolak penyebar agama terakhir ke seluruh penjuru dunia.
VI. Faktor Bahasa
Sudah menjadi ketetapan Allah SWT untuk mengirim nabi dengan bahasa umatnya. Agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi antara nabi dan umatnya.
Namun ketika semua nabi telah terutus untuk semua elemen umat manusia, maka Allah menetapkan adanya nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Dan kelebihannya adalah bahwa risalah yang dibawa nabi tersebut akan tetap abadi terus hingga selesainya kehidupan di muka bumi ini.
Untuk itu diperlukan sebuah bahasa khusus yang bisa menampung informasi risalah secara abadi. Sebab para pengamat sejarah bahasa sepakat bahwa tiap bahasa itu punya masa eksis yang terbatas. Lewat dari masanya, maka bahasa itu akan tidak lagi dikenal orang atau bahkan hilang dari sejarah sama sekali.
Maka harus ada sebuah bahasa yang bersifat abadi dan tetap digunakan oleh sejumlah besar umat manusia sepanjang masa. Bahasa itu ternyata oleh pakar bahasa adalah bahasa arab, sebagai satu-satunya bahasa yang pernah ada dimuka bumi yang sudah berusia ribuan tahun dan hingga hari ini masih digunakan oleh sejumlah besar umat manusia.
Dan itulah rahasia mengapa Islam diturunkan di arab dengan seorang nabi yang berbicara dalam bahasa arab. Ternyata bahasa arab itu adalah bahasa tertua di dunia. Sejak zaman nabi Ibrahim as bahasa itu sudah digunakan. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa bahasa arab adalah bahasa umat manusia yang pertama.
Logikanya sederhana, karena ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa bahasa ahli surga adalah bahasa arab. Dan asal-usul manusia juga dari surga, yaitu nabi Adam dan isterinya Hawwa yang keduanya pernah tinggal di surga. Wajar bila keduanya berbicara dengan bahasa ahli surga. Ketika keduanya turun ke bumi, maka bahasa kedua 'alien' itu adalah bahasa arab, sebagai bahasa tempat asal mereka. Dan ketika mereka berdua beranak pinak, sangat besar kemungkinannya mereka mengajarkan bahasa surga itu kepada nenek moyang manusia, yaitu bahasa arab.
Sebagai bahasa yang tertua di dunia, wajarlah bila bahasa arab memiliki jumlah kosa kata yang paling besar. Para ahli bahasa pernah mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa arab memiliki sinonim yang paling banyak dalam penyebutan nama-nama benda. Misalnya untuk seekor unta, orang arab punya sekitar 800 kata yang identik dengan unta. Untuk kata yang identik dengan anjing ada sekitar 100 kata.
Maka tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa menyamai bahasa arab dalam hal kekayaan perbendaharaannya. Dan dengan bahasa yang lengkap dan abadi itu pulalah agama Islam disampaoikan dan Al-Quran diturunkan.
V. Arab Adalah Negeri Tanpa Kemajuan Material Sebelumnya
Seandainya sebelum turunnya Muhammad SAW bangsa arab sudah maju dari sisi peradaban materialis, maka bisa jadi orang akan menganggap bahwa Islam hanyalah berfungsi pada sisi moral saja. Orang akan beranggapan bahwa peradaban Islam hanya peradaban spritualis yang hanya mengacu kepada sisi ruhaniyah seseorang.
Namun ketika Islam diturunkan di jazirah arabia yang tidak punya peradaban materialis lalu tiba-tiba berhasil membangun peradana materialis itu di seluruh dunia, maka tahulah orang-orang bahwa Islam itu bukanlah makhluq sepotong-sepotong. Mereka yakin bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang multi dimensi. Islam mengandung masalah materi dan rohani.
Ketika sisi aqidah dan fikrah bangsa Arab sudah tertanam dengan Islam, ajaran Islam kemudian mengajak mereka membangun peradaban materialis yang menakjubkan dalam catatan sejarah manusia. Pusat-pusat peradaban berhasil dibangun bangsa-bangsa yang masuk Islam dan menjadikan peradaban mereka semakin maju.
Logikanya, bila di tanah gersang padang pasir itu bisa dibangun peradaban besar dengan berbekal ajaran Islam, maka tentu membangun peradaban yang sudah ada bukan hal sulit.
Wallahu a'lam bishshawab

Ahmad Sarwat, Lc., MA


Mengenal Sejarah dan Budaya 1 Januari sebagai PerayaanTahun Baru

Qs 17:36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.

Merujuk pada Ayat dan hadits di atas, maka alangkah baiknya kalau kita seharusnya tabayun (kroscek) dahulu asal muasal dari perayaan tahun baru masehi.
Kenapa harus 1 Januari? Dan budaya dari kaum apakah perayaan tersebut?
Hal itu dimaksudkan agar kita tidak terjebak oleh ketidaktahuan kita yang akan menyebabkan kita terlempar ke dalam kesesatan.

Sejarah Tahun Baru 1 Januari

Mari kita buka The World Book Encyclopedia tahun 1984, volume 14, halaman 237.

“The Roman ruler Julius Caesar established January 1 as New Year’s Day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus , the god of gates, doors, and beginnings. The month of January was named after Janus, who had two faces – one looking forward and the other looking backward.”
terjemahan bebasnya kurang lebih begini :
“Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu.”,
Perayaan Tahun di beberapa Negara terkait dengan Ritual Keagamaan

Bulan Januari (bulannya Janus) juga ditetapkan setelah Desember dikarenakan Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari dimana kaum pagan penyembah Matahari merayakan ritual mereka saat musim dingin. Pertengahan Winter Soltice jatuh pada tanggal 25 Desember, dan inilah salah satu dari sekian banyak pengaruh Pagan pada budaya kristen selain penggunaan lambang Salib Tanggal 1 Januari sendiri adalah seminggu setelah pertengahan Winter Soltice, yang juga termasuk dalam bagian ritual dan perayaan Winter Soltice dalam Paganisme.

tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).

Sosok dewa Janus dalam mitologi Romawi
Dewa Janus sendiri adalah sesembahan kaum Pagan Romawi, dan pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yang sama bernama dewa Chronos. Kaum Pagan, atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir penyembah berhala, hingga kini biasa memasukkan budaya mereka ke dalam budaya kaum lainnya, sehingga terkadang tanpa sadar kita mengikuti mereka. Sejarah pelestarian budaya Pagan (penyembahan berhala) sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) di Yunani

Kaum Pagan sendiri biasa merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, dan bernyanyi bersama. Kaum Pagan di beberapa tempat di Eropa juga menandainya dengan memukul lonceng atau meniup terompet.

Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh.
Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa , tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Bagi orang Persia yang beragama Majūsî (penyembah api), menjadikan tanggal 1 Januari sebagai hari raya mereka yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus.
Penyebab mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari raya adalah, ketika Raja mereka, ‘Tumarat’ wafat, ia digantikan oleh seorang yang bernama ‘Jamsyad’, yang ketika dia naik tahta ia merubah namanya menjadi ‘Nairuz’ pada awal tahun. ‘Nairuz’ sendiri berarti tahun baru. Kaum Majūsî juga meyakini, bahwa pada tahun baru itulah, Tuhan menciptakan cahaya sehingga memiliki kedudukan tinggi.

Kisah perayaan mereka ini direkam dan diceritakan oleh al-Imâm an-Nawawî dalam buku Nihâyatul ‘Arob dan al-Muqrizî dalam al-Khuthoth wats Tsâr. Di dalam perayaan itu, kaum Majūsî menyalakan api dan mengagungkannya –karena mereka adalah penyembah api. Kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Orang-orang yang tidak turut serta merayakan hari Nairuz ini, mereka siram dengan air bercampur kotoran. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan.

Bagaimana sikap kita?
Setelah kita mengetahui bahwa tradisi Perayaan 1 januari merupakan Perayaan yang terkait dengan ritual keagamaan dan budaya dari kufar ,dan adanya larangan untuk menyerupai sebuah kaum.
maka sebaiknya kita tidak perlu ikut ikutan merayakannya apalagi meniru budaya dari kaum kufar.

semoga kita semua senantiasa ingat Firman Allah ini :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya
hadîts yang melarang menyepakati perayaan kaum kuffâr banyak sekali. Diantaranya adalah :

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – قال: قدم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – المدينة، ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ما هذان اليومان، قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية. فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم –: (إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما، يوم الأضحى، ويوم الفطر)

Dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ’anhu beliau berkata : Rasūlullâh Shallâllâhu ’alahi wa Sallam tiba di Madînah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”dua hari apa ini?”. Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam mengatakan : ”Sesungguhnya Allôh telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adhhâ dan idul fithri.” [Shahîh riwayat Imâm Ahmad, Abū Dâwud, an-Nasâ`î dan al-Hâkim.]

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :
فوجه الدلالة أن اليومين الجاهليين لم يقرهما رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ولا تركهم يلعبون فيهما على العادة، بل قال إن الله قد أبدلكم بهما يومين آخرين، والإبدال من الشيء يقتضي ترك المبدل منه، إذ لا يجمع بين البدل والمبدل منه.
”Sisi pendalilan hadîts di atas adalah, bahwa dua hari raya jahiliyah tersebut tidak disetujui oleh Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam dan Rasūlullâh tidak meninggalkan (memperbolehkan) mereka bermain-main di dalamnya sebagaimana biasanya. Namun beliau menyatakan bahwa sesungguhnya Allôh telah mengganti kedua hari itu dengan dua hari raya lainnya. Penggantian suatu hal mengharuskan untuk meninggalkan sesuatu yang diganti, karena suatu yang mengganti dan yang diganti tidak akan bisa bersatu.”

Adapun âtsar sahabat dan ulama salaf dalam masalah ini, sangatlah banyak. Diantaranya adalah ucapan ’Umar radhiyallâhu ’anhu, beliau berkata :

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم
”Jauhilah hari-hari perayaan musuh-musuh Allôh.” [Sunan al-Baihaqî IX/234].

’Abdullâh bin ’Amr radhiyallâhu ’anhumâ berkata :

من بنى ببلاد الأعاجم وصنع نيروزهم ومهرجانهم ، وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حُشِر معهم يوم القيامة
”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kâfir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” [Sunan al-Baihaqî IX/234].

Imâm Muhammad bin Sîrîn berkata :
: أُتي على -رضي الله عنه- بهدية النيروز. فقال : ما هذا ؟ قالوا : يا أمير المؤمنين هذا يوم النيروز . قال : فاصنعوا كل يوم فيروزاً . قال أسامة : كره أن يقول : نيروز

’’Alî radhiyallâhu ’anhu diberi hadiah peringatan Nairuz (Tahun Baru), lantas beliau berkata : ”apa ini?”. Mereka menjawab, ”wahai Amîrul Mu’minîn, sekarang adalah hari raya Nairuz.” ’Alî menjawab, ”Jadikanlah setiap hari kalian Fairuz.” Usâmah berkata : Beliau (’Alî mengatakan Fairuz karena) membenci mengatakan ”Nairuz”. [Sunan al-Baihaqî IX/234].

Imâm Baihaqî memberikan komentar :

وفي هذا الكراهة لتخصيص يوم بذلك لم يجعله الشرع مخصوصاً به

”Ucapan (’Alî) ini menunjukkan bahwa beliau membenci mengkhususkan hari itu sebagai hari raya karena tidak ada syariat yang mengkhususkannya.”
Apabila demikian ini sikap manusia-manusia terbaik, lantas mengapa kita lebih menerima pendapat dan ucapan orang-orang yang jâhil dan mengikuti budaya kaum kuffâr daripada ucapan para sahabat yang mulia ini.

Hari Raya Kita Adalah Idul Fithri dan Idul Adhhâ serta Jum’at

Di dalam hadîts yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minîn, ’Â`isyah ash-Shiddîqah binti ash-Shiddîq radhiyallâhu ’anhumâ, beliau menceritakan bahwa ayahanda beliau, Abū Bakr radhiyallâhu ’anhu mengunjungi Rasūlullâh. Kemudian Abū Bakr mendengar dua gadis jâriyah menyanyi dan mengingkarinya. Mendengar hal ini,

Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda :
يا أبا بكر ! إن لكل قوم عيداً وإن عيدنا هذا اليوم
”Wahai Abū Bakr, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan hari raya kita adalah pada hari ini.” [HR Bukhârî].

Dari hadîts di atas, ada dua hal yang bisa kita petik :
Pertama, sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam : ”Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya” menunjukkan bahwa setiap kaum itu memiliki hari raya sendiri-sendiri.

Hal ini sebagaimana firman Allôh Ta’âlâ :
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً
”Untuk tiap-tiap (ummat) diantara kalian ada aturan dan jalannya yang terang (tersendiri).” [QS al-Mâ`idah : 48].

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allôh memberikan aturan dan jalan sendiri-sendiri secara khusus. Kata Lâm (لِ) pada kata Likullin (لِكُلٍّ) menunjukkan makna ikhtishâsh (pengkhususan). Apabila orang Yahūdi memiliki hari raya dan orang Nashrâni juga memiliki hari raya, maka hari-hari raya itu adalah khusus bagi mereka dan tidak boleh bagi kita, kaum muslimin, ikut turut serta dalam perayaan mereka, sebagaimana kita tidak boleh ikut dalam aturan dan jalan mereka.

Kedua, sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam : وإن عيدنا هذا اليوم (Dan hari raya kita adalah pada hari ini”), dalam bentuk ma’rifah (definitif) dengan lâm dan idhâfah menunjukkan hasyr (pembatasan), yaitu bahwa jenis hari raya kita dibatasi hanya pada hari itu. Dan hari tersebut di sini masuk pada cakupan hari raya ’îdul Fithri dan ’îdul Adhhâ, seperti dalam perkataan para ulama fikih :
لا يجوز صوم يوم العيد
”Tidak boleh berpuasa pada hari raya”.

Maka maksudnya tentu saja, tidak boleh berpuasa pada dua hari raya ’Idul Fithri dan ’Idul Adhhâ.

Dalîl lainnya adalah hadîts Anas bin Mâlik :
عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – قال: قدم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – المدينة، ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ما هذان اليومان، قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية. فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم –: (إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما، يوم الأضحى، ويوم الفطر)

Dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ’anhu beliau berkata : Rasūlullâh Shallâllâhu ’alahi wa Sallam tiba di Madînah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”dua hari apa ini?”. Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam mengatakan : ”Sesungguhnya Allôh telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adhhâ dan idul fithri.” [Shahîh riwayat Imâm Ahmad, Abū Dâwud, an-Nasâ`î dan al-Hâkim.]

Adapun Jum’at, maka termasuk hari raya kaum muslimin yang berulang-ulang dalam tiap pekannya. Sehingga dengannya telah cukup bagi kita dan tidak mencari hari-hari perayaan lainnya.

Dalîl hal ini adalah, sabda Nabî yang mulia Shallâllâhu ’alahi wa Sallam :

أضل الله عن الجمعة من كان قبلنا ، فكان لليهود يوم السبت، وكان للنصارى يوم الأحد فجاء الله بنا، فهدانا الله ليوم الجمعة، فجعل الجمعة والسبت والأحد ، وكذلك هم تبع لنا يوم القيامة، نحن الآخرون من أهل الدنيا ، والأولون يوم القيامة، المقتضي لهم

”Alloh simpangkan dari hari Jum’at umat sebelum kita, dahulu Yahudi memiliki (hari agung) pada hari Sabtu dan Nashrani pada hari Ahad. Kemudian Allôh datangkan kita dan Alloh anugerahi kita dengan hari Jum’at, lantas Alloh jadikan hari Jum’at, Sabtu dan Ahad. Demikianlah, mereka adalah kaum yang akan mengekor kepada kita pada hari kiamat sedangkan kita adalah umat yang terakhir dari para penduduk dunia namun umat yang awal pada hari kiamat, yang diadili (pertama kali) sebelum makhluk-makhluk lainnya. [HR Muslim]

Dari Ibnu ’Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

إن هذا يوم عيد جعله الله للمسلمين فمن جاء الجمعة فليغتسل…
”Sesungguhnya hari ini adalah hari ’Ied yang Alloh jadikan bagi kaum Muslimin, barangsiapa yang mendapati hari Jum’at hendaknya ia mandi…” [HR Ibnu Majah dalam Shahih at-Targhib I/298].

Semoga setelah membaca tulisan in,kita bisa menentukan sikap dalam menyikapi perayaan 1 januari sebagai tahun baru.
dan sikap kita bukan atas dasar sekedar ikut ikutan , tetapi pilihan kita adalah yang berdasarkan pengetahuan. karena kita sadar betul bahwa semuanya akan dimintai pertanggungan jawab di Yaumil Hisab kelak.

Diolah dari berbagai Sumber.

Diskusi Arda Chandra dan Jimmy Jeffry; Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an (Bagian 5)


Arda Chandra : Pak Jimmy Jeffry yang tidak ada itu catatan hadits atau tarikh yang menyebutkan kalimat 'hapal seluruh Al-Qur'an' atau 'hapal seluruh Al-Qur'an 30 juz sesuai susunan yang ditetapkan nabi Muhammad', yang ada itu hadits yang menyatakan para sahabat hapal Al-Qur'an', kami umat Islam memahami kata 'hapal Al-Qur'an tersebut artinya 'hapal seluruh ayat Al-Qur'an' dengan argumentasi yang saya kemukakan diatas.. 

Kelihatannya pada akhirnya diskusi kita sudah sampai kepada 'semangat untuk memberikan pukulan terakhir', seperti yang sering terjadi pada diskusi lain pada umumnya. Saya tidak berminat untuk mengulang kembali argumentasi yang sudah saya sampaikan sekalipun dengan cara untuk 'menyegarkannya' saya melakukan 'modifikasi' supaya kelihatan 'fresh', tetap saja nanti para pembaca jadi bosan. 

Jadi terkait soal hapalan, saya tidak mengajukan argumentasi baru lagi. 

Topik baru yang muncul adalah soal ayat nasikh-mansukh ketika kita mendiskusikan soal riwayat Abdullah bin Umar. Pertanyaan anda 'Terutama fokus pd kalimat "MUCH of the Qur'an has gone..". Namun kalimat berikut kurang diperhatikan dlm pembhsan link tsb "... Let him say instead, "I have got what has survived.". Terjemahan bebas ".. kami mendapatkan apa yg masih bertahan'. 

Ketika mengutip Suyuthi, maka seharusnya anda tidak mengutip sebagian, tapi harus melihat konteksnya, terkait soal apa Suyuhti mencantumkan riwayat tersebut. Kita tentu tidak bisa mengambil cuplikan kalimat lalu memaknainya berdasarkan kemauan kita sendiri, bukan melihat apa maksud si pengarangnya. Sudah jelas bahwa Suyuthi meletakkan riwayat tersebut pada bab tentang ayat naksikh-mansukh : 

As-Suyuti brings this narration in the section of his work titled as, “Section forty-seven: About the Abrogating and the Abrogated.” 

In Abu ‘Ubayd’s (d. 228 A.H.) work, from which as-Suyuti quotes this, it is the first narration in the chapter titled, “[About] what all was abrogated from the Qur’an after revelation and is not put in the Masahif.” 

Riwayat yang sama dikutip juga oleh Ibnu Hajar dan memakai kata 'abrogated' bukan 'survived' 

Most important is the narration quoted by Ibn Hajr (d. 852 A.H.) which compliments and fixes the meaning of the report we are discussing. Ibn Hajr writes: “Ibn ad-Durays has narrated a report of Ibn ‘Umar that he used to dislike the person who said, ‘I have recited the whole of the Qur’an.’ He (Ibn ‘Umar) used to say, ‘But (the reality is) a part of the Qur’an has been abrogated.’. 

Pertanyaan anda berikut saya nilai merupakan pertanyaan logis dari jawaban yang diberikan ' 

=="Seandainya kesimpulan dr link itu memang tepat, maka ada beberapa implikasi lainnya: - adanya fakta bhw ada ayat2 Quran yg telah dibatalkan ternyata masih dianggap bagian dr Quran oleh beberapa penghafal Quran - apakah kodifikasi Quran oleh Abubakr/Zaid dan Uthman termasuk melakukan pembersihan/filterisasi ayat2 Quran yg telah dibatalkan tsb?"== 

Pertanyaan tersebt akan terjawab kalau kita memahami jenis-jenis nasikh-mansukh yang ada dalam ayat Al-Quran : 

1. Ayat-ayat yang teksnya dinasakh, namun hukumnya tetap berlaku. 
2. Ayat-ayat yang hukumnya dinasakh, namun teksnya masih tetap. 
3. Ayat-ayat yang hukum dan teksnya sekaligus dinasakh. Contoh dari model pertama adalah ayat soal hukum rajam, kita tidak menemukan teksnya lagi dalam Al-Qur'an, namun hukumnya masih berlaku sekalipun bunyi ayatnya sudah hilang dan diganti dengan hukum dera (An-Nuur 3). 

Contoh nomer dua adalah tentang aturan berwasiat (Al-Baqarah 182), sekalipun dinasakh oleh aturan waris (An-Nisaa 11) tapi kedua ayat tersebut masih eksis dalam Al-Qur'an. Memang terjadi pada para sahabat, mereka masih mengingat dan hapal teksnya sekalipun ayatnya sudah dihapus dalam Al-Qur'an, misalnya cerita tentang Umar bin Khattab : 

”Sesungguhnya Allah swt telah mengutus Muhammad saw dengan benar dan menurunkan kepadanya al Qur’an. Dan didalam apa yang diturunkan kepadanya terdapat ayat rajam maka aku membaca, mempelajari dan menjaganya. Dan Rasulullah saw pernah melakukan perajaman dan kami pun melakukannya setelahnya. Lalu aku khawatir dengan berlalunya zaman yang panjang maka ada dari manusia yang mengatakan,’Kami tidak mendapatkan rajam didalam Kitabullah.’ Lalu mereka mengalami kesesatan dengan meninggalkan suatu kewajiban yang telah diturunkan Allah swt, Maka rajam itu benar terhadap terhadap seorang pezina yang telah menikah baik laki-laki maupun perempuan jika terdapat bukti atau hamil atau pengakuan.” (Muttafaq Alaih -hadits disepakati oleh Bukhari Muslim) 

Kemungkinan ayat yang dimaksud dalam riwayat Abdullah bin Umar adalah yang jenis ini, namun kita tidak mengetahui ayat yang mana karena tidak tercatat dalam riwayat tersebut. 

Quote dari Jimmy Jeffry 
Data dari hadist tentang kasus-kasus kelupaan Muhammad pada beberapa ayat, tidak menunjukkan bahwa Muhammad menyatakan secara eksplisit/implisit bahwa ayat-ayat yang "lupa" itu telah di-nasakh (abrogated). Saya ulangi pertanyaan saya sebelumnya yang belum terjawab.. "Hafalan" terhadap Quran telah menjadi semacam dogma bagi muslim bahwa hal itu dianggap pemeliharaan Allah atas kemurniaan firmanNya. Lalu mengapa Allah membuat Muhammad lupa pada ayat-ayat Quran?

Setelah saya cari-cari haditsnya, akhirnya ketemu : 

Shahih Bukhari 4650: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Raja` Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah ia berkakta; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendengar seseorang membaca suatu surat di malam hari, maka beliau pun bersabda: "Semoga Allah merahmati si Fulan, sungguh, ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini aku telah dilupakan dari surat ini dan ini." Agar hadist tersebut lebih jelas dan bisa dipahami dengan lengkap, 

saya sampaikan hadits pembanding lainnya yang menceritakan riwayat yang sama : 

Shahih Bukhari 4649: Telah menceritakan kepada kami Rabi' bin Yahya Telah menceritakan kepada kami Za`idah Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Urwah dari Aisyah radliallahu 'anha, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendengar seseorang membaca (Al Qur`an) di dalam masjid, lalu beliau bersabda: "Semoga Allah merahmati si Fulan, sesungguhnya ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini, yakni ayat dari surat ini." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Isa dari Hisyam yakni, beliau bersabda: "Yang aku gugurkan dari surat ini." Hadis ini diperkuat oleh Ali bin Mushir dan Abdah dari Hisyam. 

Shahih Bukhari 4654: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Adam Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mushir Telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Aisyah radliallahu 'anha, ia berkata; Pada suatu malam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendengar seseorang membaca Al Qur`an di dalam Masjid, maka beliau pun bersabda: "Semoga Allah merahmatinya, sungguh ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini, yakni ayat yang telah aku gugurkan dari surat ini dan ini." 

Jadi jelas bahwa ayat yang terlupa oleh nabi Muhammad lalu beliau ingat lagi ketika ada orang yang membacanya di masjid (rumah nabi Muhammad memang bersebelahan dengan masjid, jadi apa yang dilakukan orang disana bisa terdengar oleh beliau, hadist ini bukan mau mengatakan terjadi pada saat shalat berjamaah, karena shalat berjamaah selalu diimami oleh Rasulullah). Kalimat '"Yang aku gugurkan dari surat ini' menjelaskan itu adalah ayat yang dinasakh. 

Maka hadits tersebut memang tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur'an : 

Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, (Al-A'laa: 6) 
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (Al-Baqarah: 106) 

Setelah saya baca ulang hadits yang anda sampaikan, ternyata beberapa tidak relevan dengan soal hapalan ayat, mohon maaf kemampuan bahasa Inggeris saya kurang begitu bagus jadi pemahaman saya mungkin tidak begitu sempurna : 

Quote dari Jimmy Jeffry  
Kalimat "lupa berjamaah" bisa terjadi jika telah ada "hafalan berjamaah", namun yang terjadi justru banyak ayat-ayat quran tersebar di beberapa orang yang menghafalnya bahkan bisa hanya satu orang seperti kasus Abu Khuzaima. Jika memang terjadi "hafalan berjamaah" saat itu, maka ketika Muhammad lupa ayat-ayat tertentu saat shalat bersama di Masjid, maka akan banyak jemaah yang akan mengingatkan dia, tetapi yang mengingatkan hanya orang tertentu saja seperti seorang pria dalam hadist ini. Narrated Mu'awiyah ibn Khudayj: One day the Apostle of Allah (peace_be_upon_him) prayed and gave the salutation while a rak'ah of the prayer remained to be offered. A MAN went to him and said: You forgot to offer one rak'ah of prayer. ... . Abu Dawud 3:1018"

Ini soal Rasulullah lupa jumlah raka'at shalat, misalnya waktu Ashar yang seharusnya 4 raka'at, tapi beliau kerjakan hanya 3 raka'at atau berlebih menjadi 5 raka'at, jadi bukan soal lupa ayat Al-Qur'an. dan kalau hadits tersebut menyatakan hanya 1 orang yang mengingatkan beliau, karena memang pada kejadian tersebut hanya 1 orang yang bicara, bukan diartikan hanya 1 orang tersebut yang tahu. 

=="Narrated Imran ibn Husayn: The Prophet (peace_be_upon_him) led them in prayer and forgot something, so he made prostrations and uttered the tashahhud, then gave the salutation. Abu Dawud 3:1034 Narrated Abdullah ibn Mas'ud: ... (Muhammad said) I am only a human being and I forget just as you do; so when I forget, remind me, ... Abu Dawud 3:1015 Narrated 'Abdullah: ... (Muhammad said) I am a human being like you and liable to forget like you. So if I forget remind me ... Bukhari 1:8:394"== 

Ini adalah riwayat ketika Rasulullah lupa raka'at juga dalam shalat : 

Sunan Abu Daud 875: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Al Mutsanna telah menceritakan kepadaku Asy'ats dari Muhammad bin Sirin dari Khalid yaitu Al Khaddza` dari Abu Qilabah dari Abu Al Muhallab dari 'Imran bin Hushain bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama mereka lalu lupa, maka beliau sujud dua kali, lalu tasyahud dan salam." 

Ini hadits pembandingnya : 

Shahih Bukhari 1150: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu.bah dari Al Hakam dari Ibrahim dari 'Alqamah dari 'Abdullah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat Zhuhur lima raka'at. Beliau ditegur: "Apakah ada tambahan raka'at shalat?" Beliau menjawab: "Memangnya apa yang terjadi?" Dia ('Abdullah) berkata: "Anda kerjakan shalat lima raka'at". Maka Beliau sujud dua kali setelah memberi salam". 

Soal pengakuan Rasulullah hanyalah manusia biasa yang sering lupa ada pada hadits ini : 

Sunan Abu Daud 862: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali telah mengabarkan kepada kami Jarir. Dan telah di riwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami Jarir dan ini adalah hadits Yusuf dari Al Hasan bin 'Ubaidullah dari Ibrahim bin Suwaid dari 'Alqamah dia berkata; Abdullah berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat lima raka'at bersama kami, setelah beliau selesai shalat, orang-orang orang-orang pada berbisik di antara mereka, maka beliau bersabda: "Ada apa dengan kalian?" mereka berkata; "Wahai Rasulullah, apakah (raka'at) shalat di tambah?" beliau menjawab: "Tidak." Mereka berkata; "Sesungguhnya anda shalat lima raka'at1." Setelah selesai, beliau melakukan dua kali sujud, lalu salam. Setelah itu beliau bersabda: "Sesungguhnya aku adalah manusia biasa yang terkadang lupa sebagaimana kalian lupa." Shahih 

Muslim 891: Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris dari al-Hasan bin Ubaidullah dari Ibrahim dari Alqamah bahwasanya dia shalat mengimami mereka lima rakaat. --Lewat jalur periwayatan lain-- telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah dan lafazh tersebut adalah miliknya, telah menceritakan kepada kami Jarir dari al-Hasan bin Ubaidullah dari Ibrahim bin Suwaid dia berkata, "Alqamah shalat Zhuhur mengimami kami lima rakaat, ketika dia mengucapkan salam, maka suatu kaum berkata, 'Wahai Abu Syibl, kamu telah melakukan shalat lima rakaat!.' Dia menjawab, 'Tidak demikian, aku tidak melakukannya.' Mereka berkata, 'Ya, kamu telah melakukannya.' Perawi berkata, 'Aku berada di sujud suatu kaum, dan aku ketika itu masih kecil. Aku berkata, 'Ya kamu telah shalat lima rakaat.' Dia berkata kepadaku, 'Dan kamu juga mengatakan demikian wahai A'war? ' Aku menjawab, 'Ya.' Lalu dia berpaling, lalu bersujud dua kali, kemudian mengucapkan salam. Kemudian dia berkata, 'Abdullah berkata, 'Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam shalat mengimami kami lima rakaat. Ketika beliau berpaling maka kaum tersebut menggumam di antara mereka, maka beliau bertanya, 'Ada apa dengan kalian? ' Mereka menjawab, 'Wahai Rasulullah, apakah rakaat dalam shalat ditambahkan? ' Beliau menjawab, 'Tidak.' Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu telah melakukan shalat lima rakaat.' Lalu beliau berpaling kemudian sujud dua kali, kemudian mengucapkan salam. Kemudian beliau bersabda, 'Aku hanyalah manusia biasa yang bisa lupa sebagaimana kalian juga bisa lupa.' Ibnu Numair menambahkan dalam hadisnya, 'Apabila salah seorang dari kalian lupa, hendaklah dia bersujud dua kali'." 

hadits tersebut bukan soal Rasulullah lupa ayat Al-Qur'an.. 

Jimmy Jeffry : Ok pak, kita beda memahami term "hafal Quran" karena menurut saya tidak berarti "hafal seluruh ayat quran" tentu dalam konteks masa Muhammad atau sebelum standarisasi Uthman. 

"semangat untuk memberikan pukulan terakhir..." ?? easy pak... kita hanya mempertajam posisi kita masing-masing dan memang kalau dilanjutkan cenderung "pengulangan" point dan bisa membosankan pembaca, saya juga tidak berminat pak. Yah tentang hafalan sudah cukup pembahasannya. 

Sekarang kita bandingkan versi terjemahan lain dari tulisan Suyuti. "..Ibn Umar al–Khattab explicitly admits, "Let no one of you say that he has acquired the entire Qur’an for how does he know that it is all? MUCH OF THE QURAN HAS BEEN LOST, thus let him say, ‘I have acquired of it what is AVAILABLE" (Suyuti: Itqan, part 3, page 72). 

Dan dari Abu Ubaid. "...Said Abu ‘Ubaid: Isma’il b. Ibrahim related to us from Ayyub from Nafi‘ from Ibn ‘Umar who said – Let none of you say, “I have learned the whole of the Koran,” for how does he know what the whole of it is, when MUCH of it HAS DISAPPEARED? Let him rather say, “I have learned what is EXTANT THEREOF.” (Abu Ubaid’s Kitab Fadail-al-Qur’an) 

Mari kita lihat penggunaan kalimat dari ketiga versi tulisan tentang pernyataan Umar tsb. 
- Much of the Qur'an has gone (sudah tidak ada) ... I have got what has survived (masih bertahan) 
- Much of the Quran has been lost (telah hilang) ... I have acquired of it what is AVAILABLE (masih tersedia) 
- Much of it has disappeared (telah hilang) ... I have learned what is Extant Thereof (masih ada) 

Memang judul section tentang Abrogating and the Abrogated, namun apakah konsep abrogation yang dimaksud Umar SAMA dengan konsep abrogation yang umumnya muslim termasuk anda pegang saat ini? 

Memang benar memahami sebuah teks harus melihat konteksnya, namun kajian dari link yang anda ajukan tidak memberi penjelasan konteks dari teks tentang pernyataan Umar tsb. Kecuali mengutip pendapat ahli tafsir-tafsir lainnya terhadap pernyataan Umar tsb. Jika memang yang dimaksud Umar adalah ayat-ayat yang telah dinasakh maka dia tidak akan menggunakan term seperti has gone-survived atau has been lost-available atau has disappeared-thereof. 

Suyuti atau para penerjemahnya tentu telah memahami konteksnya sehingga menggunakan term-term seperti di atas. Dan jika memang pendapat-pendapat para ahli tafsir lain yang direfer link tsb bahwa yang dimaksud Umar adalah ayat-ayat yang dinasakh maka edisi-edisi revisi untuk berbagai versi itu akan menggantikan dengan kata abrogated, namun sepertinya belum ada versi terjemahan seperti itu. 

Jika tetap dikaitkan konsep abrogation dengan pernyataan Umar tsb, maka posisi Umar memandang bahwa AYAT-AYAT YANG DI-NASAKH yang jumlahnya BANYAK itu akan HILANG SEMUANYA dari Quran. Ini bertolak belakang dengan konsep yang anda pegang tentang nasakh-mansukh yang ada ayat-ayat yang hukumnya telah dinasakh tetapi Teksnya masih tetap. Perhatikan juga dengan kata BANYAK ayat-ayat Quran.. apakah memang ada banyak ayatayat quran yang telah dinasakh tsb? 

Anda tentu mengutip hadist-hadits di atas dari Ensiklopedi Kitab 7 Imam Hadist dalam terjemahan Indonesia. Saya belum menemukan kutipan-kutipan di atas dalam terjemahan Inggris, silahkan anda menyebutkan book, volume & nomor hadistnya. Saya agak heran, karena beberapa apologis muslim tidak menggunakan hadist-hadits tsb dalam berapologi tentang kelupaan Muhammad tsb. Referensi hadist yang saya gunakan: 

- Sahih Bukhari, translated by Dr. M. Mukhsin Khan 
http://www.usc.edu/org/cmje/religious-texts/hadith/bukhari/ 

- The Sahih Collection of al-Bukhari, by Imam Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn al-Mughirah Ibn Bardiziyeh al-Bukhari, translated by: Ustadha Aisha Bewley, 
http://www.sunnipath.com/library/Hadith/H0002P0000.aspx 

Muslim :: Book 4 : Hadith 1721 'A'isha reported that the Apostle of Allah (may peace be upon him) listened to the recitation of the Qur'an by a man in the mosque. Thereupon he said: May Allah have mercy upon him; be reminded me of the verse which I had been made to forget. 

Muslim :: Book 4 : Hadith 1720 'A'isha reported that the Apostle of Allah (may peace be upon him) heard a person reciting the Qur'an at night. Upon this he said: May Allah show mercy to him; he has reminded me of such and such a verse which I had missed in such and such a surah. 

Bukhari :: Book 6 :: Volume 61 :: Hadith 562 Narrated 'Aisha: The Prophet heard a reciter reciting, the Qur'an in the mosque at night. The Prophet said, "May Allah bestow His Mercy on him, as he has remind ed me of such-and-such Verses of such and-such Suras, which I missed!" 

Jika memang benar ada hadist seperti itu yang ada kalimat "...yakni ayat yang telah aku gugurkan dari surat ini dan ini", maka yang menjadi pertanyaan mengapa dalam hadist lain tidak ada kalimat seperti itu? Lalu mengapa yang menggugurkan adalah Muhammad bukan Allah? ... Dan jika memang seperti itu, tetap tidak menghilangkan fakta bahwa Muhammad bisa LUPA ayat-ayat Quran walaupun ayat-ayat itu kemudian dinasakhkan. 

Anda mengutip surah Al-Alaa 6 namun anda tidak menyebut ayat 7 6. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, 7. kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Saya kira cukup jelas bahwa Muhammad memang LUPA pada beberapa ayat Quran dan secara teologis alasannya bahwa Allah menghendaki Muhammad bisa lupa. Tentu akan menimbulkan pertanyaan teologis pula, mengapa Allah menghendaki Muhammad bisa lupa? bukankah "hafalan" terhadap Quran begitu sentral dalam konsep teologi Islam. 

Yah point anda kali ini tepat.. bahwa Muhammad lupa dalam jumlah rakaat. Dalam hadist ini dia lupa "satu rakaat" dan dari peringatan orang yang bernama Talha ibn Ubaydullah, Muhammad kemudian masuk kembali ke masjid dan memimpin sembahyang satu rakaat tsb. 

Dawud :: Book 3 : Hadith 1018 Narrated Mu'awiyah ibn Khudayj: One day the Apostle of Allah (peace_be_upon_him) prayed and gave the salutation while a rak'ah of the prayer remained to be offered. A man went to him and said: You forgot to offer one rak'ah of prayer. Then he returned and entered the mosque and ordered Bilal (to utter the Iqamah). He uttered the Iqamah for prayer. He then led the people in one rak'ah of prayer. I stated it to the people. They asked me: Do you know who he was? I said: No, but I can recognise him if I see him. Then the man passed by me, I said: It is he. The people said: This is Talhah ibn Ubaydullah. 

Namun dalam hadist yang lain justru Muhammad sembahyang dengan jumlah rakaat yang banyak. 

Dawud :: Book 3 : Hadith 1015 Narrated Abdullah ibn Mas'ud: The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) offered prayer. The version of the narrator Ibrahim goes: I do not know whether he increased or decreased (the rak'ahs of prayer). When he gave the salutation, he was asked: Has something new happened in the prayer, Apostle of Allah? He said: What is it? They said: You prayed so many and so many (rak'ahs)...I am only a human being and I forget just as you do; so when I forget, remind me.." 

Point tentang ayat-ayat Quran yang Muhammad lupa memang kurang tepat mengacu pada hadist-hadits ini, namun menyajikan persoalan baru yaitu Muhammad LUPA terhadap jumlah rakaat dalam sembahyang, ada jumlah rakaatnya yang kurang dan ada justru lebih.  

Point tentang ayat-ayat Quran lebih tepat pada hadist yang telah dibahas pada posting sebelumnya. 

Muslim :: Book 4 : Hadith 1721 'A'isha reported that the Apostle of Allah (may peace be upon him) listened to the recitation of the Qur'an by a man in the mosque. Thereupon he said: May Allah have mercy upon him; be reminded me of the verse which I had been made to forget. 

Arda Chandra : Kelihatannya perbedaan yang ada bukan antara Ibnu Umar dengan Suyuthi, tapi antara pemahaman anda dengan tafsir oleh Suyuthi. Anda memahaminya melalui terjemahan dalam bahasa Inggeris sedangkan Suyuthi memahami perkataan Ibnu Umar dalam bahasa aslinya sehingga dia mencantumkan hadist tersebut dalam pembahasan soal nasikh-mansukh. Tentu saja lumrah adanya perbedaan ini dan orang-orang akan menilai sendiri mana pihak yang akan dipercayai lebih memahami tentang perkataan Ibnu Umar ini. 

Tentang jumlah ayat yang dinasakh dan teksnya masih diingat orang tidak ada catatannya, juga istilah 'banyak' disini juga tidak menjelaskan berapa jumlahnya, namun memang bukan cuma 1 ayat saja. 

(Terkait soal hadits Nabi Muhammad lupa ayat Al-Qur'an) Saya menemukan haditsnya pada link yang anda berikan : 

Bukhari 4750. It is related that 'A'isha said, "The Prophet, may Allah bless him and grant him peace, heard a man reciting in the mosque and said, 'May Allah have mercy on him. He reminded me of such-and-such an ayat from such-and-such a sura." Hisham added, "I left them out of such-and-such a sura." It is corroborated from Hisham. 

Bukhari 4755. It is related that 'A'isha said, "The Prophet , may Allah bless him and grant him peace, heard a man reciting at night in the mosque and said, 'May Allah have mercy on him. He reminded me of such-and-such an ayat which I missed from such-and-such a sura." 

Satu lagi buat pak Jimmy Jeffry, saya kurang memahami bahasa Inggeris, apa maksud kata 'the verse which I had been made to forget', dan kata 'an ayat which I missed from such-and-such a sura'..? 

Quote dari Jimmy Jeffry 
Point tentang ayat-ayat Quran yang Muhammad lupa memang kurang tepat mengacu pada hadist=hadits ini, namun menyajikan persoalan baru yaitu Muhammad LUPA terhadap jumlah rakaat dalam sembahyang, ada jumlah rakaatnya yang kurang dan ada justru lebih.

Ini ibaratnya orang yang hafal lagu Indonesia Raya, tapi lupa apakah tadi pagi dia sudah sarapan atau belum, atau minum obat 2 kali karena lupa.. 

Quote dari Jommy Jeffry 
Anda mengutip surah Al-Alaa 6 namun anda tdk menyebut ayat 7 6. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, 7. kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Saya kira cukup jelas bahwa Muhammad memang LUPA pada beberapa ayat Quran dan secara teologis alasannya bahwa Allah menghendaki Muhammad bisa lupa. Tentu akan menimbulkan pertanyaan teologis pula, mengapa Allah menghendaki Muhammad bisa lupa? bukankah "hafalan" terhadap Quran begitu sentral dalam konsep teologi Islam.

Qatadah mengatakan :"Rasulullah tidak pernah melupakan sesuatu kecuali apa yang dikehendaki Allah". Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firmannya 'oleh karena itu kamu tidak akan lupa' merupakan tuntunan. Dari mereka yang berpendapat demikian menjadikan makna pengecualian ini termasuk ke dalam nasakh. Dengan pengertian lain, engkau tidak akan lupa terhadap apa yang telah Kami bacakan kepadamu, kecuali apa yang dikehendaki Allah untuk dihilangkan, sehingga tidak ada dosa bagimu jika negkau meninggalkannya. (Tafsir Ibnu Katsir buku 8 hal 452) 

Quote dari Jimmy Jeffry 
Lalu mengapa yang menggugurkan adalah Muhammad bukan Allah? 

Menasakh ayat Al-Qur'an merupakan kehendak Allah yang disampaikan melalui nabi Muhammad. Yang jelas nasikh-mansukh berakhir ditangan nabi Muhammad, bahwa semua ayat-ayat yang dinasakh selalu harus merujuk kepada apa yang beliau ajarkan. Tidak ada nasikh-mansukh yang dilakukan para sahabat.. 

Jimmy Jeffry : Pak Arda Chandra sepertinya tema-tema pembahasan saat ini sudah cukup lengkap terbahas... kecuali masalah nasakh-mansukh. Berikutnya kita akan masuk pada pembahasan fase kodifikasi Uthman yang didalamnya membahas berbagai mushaf, seven reading/ahruf/qiraah dll. Termasuk kembali mempertajam masalah oral transmission vs manuscript terutama meninjau perspektif ahli-ahli tafsir/historian klasik terhadap isu ini dan perbandingan Samarkand MSS vs Quran Egypt Edition 1924. Setelah itu masuk pada tahap akhir berupa konklusi & closing statement. Jika pembahasan dimulai akan berlangsung tanggap-menanggap yang panjang. Untuk itu saya pending sementara waktu dulu, karena memang saya kesulitan menyediakan waktu khusus berdiskusi, biasanya malam dan besoknya ngantuk. 

Arda Chandra : OK pak Jimmy, silahkan dicari waktu yang memungkinkan, saya sendiri Insya Allah masih standby di internet..