Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Apakah budak wanita boleh digauli tanpa dinikahi..?

Berita : 

New York, 4/3 (ANTARA) - Pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid yang menyatakan adanya TKW di negara-negara Arab yang diperlakukan sebagai "amataun" atau budak yang bisa diperlakukan apa saja, dianggap keliru oleh seorang tokoh Islam di New York. 

M. Syamsi Ali, seorang anggota Majelis Suro Muslim Kota New York, yang menanggapi pernyataan Gus Dur mengenai persoalan TKW di negara-negara Arab, mengatakan kekeliruan pertama adalah Gus Dur masih melihat bahwa Islam membenarkan menggauli budak tanpa akad nikah. Sehingga orang-orang Saudi menggauli pembantunya, karena mereka menilai TKW itu adalah budak mereka. 

Dalam Al Qur'an, kata budak perempuan diistilahkan "amataun". Misalnya firman Allah dalam Al Baqarrah ayat 221: "Dan Budak perempuan itu lebih baik bagimu dari seorang musyrik kendati ia mena'jubkan bagimu". "Kata amataun inilah yang masih bermakna budak perempuan. Dalam ayat di atas Allah memberitahukan kepada orang-orang beriman, jika ingin kawin maka carilah pasangan yang beriman, kendati ia adalah seorang budak," ujar Syamsi yang juga Anggota Dewan Pengurus Muslim Foundation of America, Inc.  

Namun jika budak itu disebutkan dalam konteks "pergaulan suami-isteri" dan menyangkut masalah seksual, ia tidak lagi disebut "amataun", melainkan "milkul yamiin" (milik tangan kanan), yang dapat diartikan dimiliki secara sah. Penyebutan milkul yamiin selama ini secara tradisional disebut sebagai "hamba perempuan". Padahal, penafsiran ini, katanya, sangat bertentangan dengan ruh Islam, yang menghapuskan segala bentuk perbudakan dan menghalalkan hubungan seksual hanya dengan melalui proses akad nikah. 

Dengan demikian, pengertian milkul yamiin tidak bisa lagi diartikan sebagai budak perempuan, melainkan perempuan yang dimiliki secara sah karena sudah dinikahi, sekaligus diartikan sebagai bekas budak wanita yang kini telah bebas dengan pernikahan tersebut. "Sebab dengan dinikahi, berarti wanita tersebut telah terbebas dari perbudakan," ujar lulusan salah satu universitas Islam di Pakistan itu. 

Contohnya adalah Ibrahim yang menikahi Siti Hajar, seorang budak wanita yang merupakan pemberian seorang raja kepadanya. Dengan dinikahinya, Siti Hajar tidak lagi disebut sebagai budaknya melainkan isterinya. Masalah ini sampai sekarang tidak mau diakui oleh orang-orang yahudi, sehingga bagi mereka orang-orang Arab adalah keturunan budak (Ismail). 

Dengan demikian, lanjutnya, Islam tidak pernah membolehkan penganutnya menggauli budak tanpa nikah. Melainkan jika ingin menggaulinya, nikahi sehingga berupa status dari "amataun" (budak perempuan) menjadi "Milkul Yamiin" (dimiliki secara sah) sebagai isteri. Pengertian ini sekaligus menguatkan komitmen Islam untuk menghapus berbagai bentuk perbudakan di atas bumi ini. 

Mengkafirkan sesama Muslim - Dr. Yusuf Al-Qardhawi




Pertanyaan:
Paham yang menamakan dirinya "Jamaah Attakfir," "Jamaah Alhijrah," "fundamentalis Islam" dan sebagainya, mereka beranggapan bahwa orang yang melakukan dosa besar dan tidak mau berhenti dicap kafir. Sebagian lagi beranggapan bahwa orang-orang Islam pada umumnnya tidak Muslim, salat mereka dan ibadat lainnya tidak sah, karena murtad. Bagaimana pendirian dan pandangan Islam terhadap mereka?


Jawab:
Hal tersebut amat berbahaya dan telah menjadi perhatian besar bagi kaum Muslimin khususnya, karena timbulnya pikiran yang terlampau ekstrim. Dalam hal ini, saya sudah menyiapkan sebuah buku khusus mengenai masalah tersebut diatas. Saya kemukakan perlunya pengkajian akan sebab-sebab timbulnya pikiran yang ekstrim dan cara-cara menghadapinya, sehingga dapat diatasi dengan seksama.

Pertama, tiap-tiap pikiran atau pendapat harus dilawan dengan pikiran, pandangan dan diobati dengan keterangan serta dalil-dalil yang kuat, sehingga dapat menghilangkan keragu-raguan dan pandangan yang keliru itu. Jika kita menggunakan kekerasan sebagai alat satu-satunya, maka tentu tidak akan membawa faedah.

Kedua, mereka itu (orang-orang yang berpandangan salah) umumnya adalah orang-orang baik, kuat agamanya dan tekun ibadatnya, tetapi mereka dapat digoncang oleh hal-hal yang bertentangan dengan Islam dan yang timbul pada masyarakat Islam. Misalnya akhlak buruk, kerusakan di segala bidang, kehancuran dan sebagainya. Mereka selalu menuntut dan mengajak pada kebaikan, dan mereka ingin masyarakatnya berjalan di garis yang telah ditentukan oleh Allah, walaupun jalan atau pikirannya menyimpang pada jalan yang salah dan sesat karena mereka tidak mengerti.

Maka, sebaiknya kita hormati niat mereka yang baik itu, lalu kita beri penerangan yang cukup, jangan mereka digambarkan atau dikatakan sebagai binatang yang buas atau penjahat bagi masyarakat. Tetapi hendaknya diberi pengarahan dan bimbingan ke jalan yang benar, karena tujuan mereka adalah baik, akan tetapi salah jalan.


Mengenai sebab-sebab timbulnya pikiran-pikiran tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Tersebarnya kebatilan, kemaksiatan dan kekufuran, yang secara terang-terangan dan terbuka di tengah masyarakat Islam tanpa ada usaha penccgahannya. Bahkan sebaliknya, untuk meningkatkan kemungkaran dan kemaksiatan dia menggunakan agama sebagai alat propaganda untuk menambah kerusakan-kerusakan akhlak dan sebagainya.
  2. Sikap para ulama yang amat lunak terhadap mereka yang secara terang-terangan menjalankan praktek orang-orang kafir dan memusuhi orang-orang Islam.
  3. Ditindaknya gerakan-gerakan Islam yang sehat dan segala dakwah yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka, tiap-tiap perlawanan bagi suatu pikiran yang bebas, tentu akan melahirkan suatu tindakan kearah yang menyimpang, yang nantinya akan melahirkan adanya gerakan bawah tanah (ilegal).
  4. Kurangnya pengetahuan mereka tentang agama dan tidak adanya pendalaman ilmu-ilmu dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, mereka hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, dengan paham yang keliru dan menyesatkan.

Keikhlasan dan semangat saja tidak cukup sebagai bekal diri sendiri, jika tidak disertai dasar yang kuat dan pemahaman yang mendalam mengenai hukum-hukum Islam. Terutama mengenai hukum syariat dan ilmu fiqih, maka mereka ini akan mengalami nasib yang sama dengan para Al-Khawarij di masa lampau, sebagaimana keterangan Al-Imam Ahmad.

Oleh karena itu, orang-orang saleh yang selalu menganjurkan untuk menuntut ilmu dan memperkuat diri dengan pengetahuan Islam sebelum melakukan ibadat dan perjuangan, agar teguh pendiriannya dan tidak kehilangan arah.

Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Segala amalan tanpa dasar ilmu, seperti orang yang berjalan tetapi tidak pada tempatnya berpijak (tidak pada jalannya).

Tiap-tiap amal tanpa ilmu akan menimbulkan kerusakan lebih banyak daripada kebaikannya. Tuntutlah ilmu sehingga tidak membawa madharat pada ibadat dan tuntutlah ibadat yang tidak membawa madharat pada ilmu. Maka, ada segolongan kaum yang melakukan ibadat dan meninggalkan ilmu, sehingga mereka mengangkat pedangnya untuk melawan ummat Muhammad saw. yang termasuk saudaranya sesama Muslim (saling berperang tanpa adanya alasan). Jika mereka memiliki ilmu, tentu ilmu itu tidak akan membawa ke arah perbuatan itu."


---------------------------------------------------
FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Penerbit Risalah Gusti


Benarkah Ada Kisah Paulus di Al Qur'an?

Salah satu topik pembahasan dalam Faithfreedom Indonesia (FFI), yang dikemukakan adminya "Adadeh" mencoba mengangkat persoalan tokoh penting dalam kekristenan yaitu Paulus.

Dengan mengajukan topik tersebut sesungguhnya apa yang mereka lakukan mengindikasikan kuat Faithfreedom adalah Situs yang sangat antipati terhadap Islam tetapi dalam banyak topik mereka terkesan seringkali melakukan pembelaan dan sangat melindungi terhadap keyakinan Kristen (silahkan baca: FFI bukan forum Kristen, jadi forum apa?). Belum lagi bila dicermati secara seksama hujater yang berkeliaran di facebook yang mengatasnamakan murtadin ataupun atheis dan gemar menghujat Islam yang kebanyakan mengambil sumber dari FFI, akan dengan mudah kita kenali keterpihakannya terhadap Kristen.

berikut ini kami lakukan screenshot topik yang mereka ajukan :
Tanggapan :
Berdasarkan argumentasi yang mereka tunjukan FAKTA,NAMA PAULUS tidak  disebut sebagai salah satu tokoh yang diceritakan di dalam Al Qur'an.

Tidak (hanya) ada Bidadari di Surga

Oleh : Arda Chandra 

Tidak ada bidadari disebut-sebut dalam Al-Qur’an, yang ada itu adalah kata ‘huur’, dalam bahasa Indonesia kata ‘huur’ tersebut lalu diterjemahkan dengan ‘bidadari’. Ustadz Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir al-Mishbah menyatakan bahwa istilah ‘huur’ tersebut merupakan bentuk kata yang bebas kelamin, artinya bisa diartikan sebagi perempuan dan bisa juga laki-laki. Kesan yang dimunculkan oleh kata ‘huur’ tersebut adalah terkait dengan : keindahan, kesetiaan, pengabdian, pasangan yang serasi, dll. Karena keberadaan ‘huur’ tersebut merupakan sesuatu bentuk ghaib yang belum bisa kita temukan padanannya dalam kehidupan dunia, maka pikiran kita tentu saja boleh secara bebas menafsirkan bagaimana sosoknya, sepanjang tidak terlepas dari sifat-sifat dan ciri yang melekat kepada kata tersebut, dan ini bukan hanya terbatas kepada bentuk wanita yang cantik sebagaimana pemahaman kita tentang bidadari. Ketika seseorang hanya menafsirkan kata ‘huur’ sebagai ‘bidadari’, sama saja ibaratnya kita menerjemahkan kata ‘makanan’ dengan ‘nasi’, nasi tentu saja termasuk makanan, namun makanan tidak hanya berupa nasi saja.

Menjawab Pertanyaan Non Muslim Tentang Isro' Mi'roj

Seorang Non Muslim mengajukan pertanyaan
Adakah yang bisa memberi pencerahan tentang " ISRA MIRA'J


1. Apakah Nabi Mohammad pernah naik ke Sorga?


2. Waktu Isra Mira'j hanya dalam mimpi atau fakta?


3. Di langit tingkat ke sekian Ia berjumpa dengan siapa saja dan apakah yg dibahas?


4. Apakah tujuan isra mira'j itu?


mohon penjelasan , maaf sy awam soal ini.

  Jawaban Muslim

‎1. Ya, nabi pernah ke Sidratul muntaha
2. Fakta
3. Abraham,Musa, dan para nabi yg lainnya.
4. Membawa perintah Shalat-Aslama.


Tafsir Al Azhar Qs An Nas 1-6



“Katakanlah." (pangkal ayat 1) Hai utusanKu, dan ajarkan jugalah kepada mereka yang percaya; "Aku berlindung dengan Pemelihara manusia." (ujung ayat 1). "Penguasa manusia." (ayat 2). "Tuhan bagi manusia." (ayat 3).
Di dalam Surat yang terakhir dalam susunan al-Quran yang 114 Surat ini, disebutkanlah ajaran bagaimana caranya manusia berlindung kepada Allah dari sesamanya manusia.

Saya sendiri dan saudara yang membaca karangan ini adalah manusia. Dan kita pun hidup di tengah-tengah manusia. Selain dari hubungan kita dengan Allah, kita pun selalu berhubungan dengan sesama manusia.
Tidak ada di antara kita yang dapat membebaskan diri daripada ikatan dengan sesama manusia. Di dalam Surat 3, ali Imran ayat 112 dengan tegas Allah memberikan peringatan bahwa kehinaan akan dipikulkan Tuhan kepada kita kecuali dengan berpegang kepada dua tali; tali dari Allah dan tali dari manusia. Agama sendiri pun, selain dari mengatur tali perhubungan dengan Allah, juga mengatur tali perhubungan dengan sesama manusia. Dan kita pun maklum dan mengalami sendiri, bahwa pergaulan dengan sesama manusia itu bukanlah suatu yang mudah. Yang bagus menurut pendapat kita belum tentu bagus menurut pendapat orang lain. Langkah cita-cita yang baik belum tentu diterima orang lain. Kalau dipandangnya akan merugikannya, niscaya akan dihambatnya.
Di tengah-tengah gelombang kehidupan manusia yang banyak itu, dengan berbagai macam ragam keinginan, kelakuan, cita-cita, lingkungan dan pendidikan terseliplah kita, saya dan saudara, sebagai peribadi. Menyisih dari sesama manusia tidak bisa, dan bergaul terus dengan mereka bukan tak ada pula akibatnya, akibat yang baik ataupun yang buruk.
Manusia bisa menguntungkan kita dan bisa membahayakan kita.
Maka diajarkanlah pada Surat yang terakhir ini bagaimana cara kita menghadapi dan hidup di tengah-tengah manusia. Kita dengan ajaran melalui Nabi s.a.w. disuruh memperlindungkan diri kepada Allah! Karena Allah itulah Rabbun-Naasi, Pemelihara Manusia. Malikun-Naasi, Penguasa Manusia dan Ilahun-Naasi, Tuhan bagi manusia.
Allah adalah Rabbun, Malikun, Ilahun.
Allah adalah Pemelihara, Penguasa dan Tuhan.
Allah adalah KHALIQ, artinya Pencipta. Di samping menciptakan seluruh alam, Allah pun menciptakan manusia, dan manusia itu mempunyai pergaulan hidup. Manusia diberi akal budi, sehingga manusia hidup di permukaan bumi ini jauh berbeda dengan kehidupan makhluk Allah yang lain. Sebab itu maka manusia dapat merencanakan apa yang akan dikerjakannya di dalam menempuh jalan hidupnya, sampai dunia ini akan ditinggalkannya kelak.
Tidaklah Allah membiarkan saja manusia hidup menurut semau-maunya.

أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى 36

"Apakah menyangka manusia itu bahwa ia akan dibiarkan saja hidup terlunta-lunta?"
(al-Qiyamah: 36)

Tuhan adalah Rabbun-Naasi; Pemelihara manusia. Tidak dibiarkan terlantar, dipeliharaNya lahirnya dan batinnya, luarnya dan dalamnya, jasmaninya dan rohaninya, makanannya dan minumannya. Yang dipeliharanya itu termasuk aku, termasuk engkau dan termasuk segala makhluk yang bernama Naas atau Insan dalam dunia ini. Sehingga turun nafas kita, perjalanan dan goyangan jantung siang dan malam yang tidak pernah berhenti, alat-alat pencerna tubuh, telinga alat pendengar, mata alat melihat, hidung alat pembau, semuanya dipelihara terus oleh Maha Pemelihara itu, oleh Rabbun itu.
Dan Dia adalah pula Malikun-Nasi, Penguasa dari seluruh manusia.
Kalau kalimat malik itu dibaca tidak dipanjangkan bacaan pada mim (tidak dengan madd, panjang dua alif menurut ilmu tajwid), berartilah dia Penguasa atau Raja. Pemerintah tertinggi atau Sultan. Tetapi kalau malik dibaca dengan dipanjangkan dua alif pada mim, berarti dia Yang Empunya.
Dipanjangkan membaca mim ataupun dibaca tidak dipanjangkan namun pada kedua bacaan itu memang terkandung kedua pengertian Allah itu memang Raja, atau Penguasa yang mutlak atas diri manusia Maha Kuasa Allah itu mentakdirkan dan mentadbirkan, sehingga mau tidak mau, kita manusia mesti menurut peraturan yang telah ditentukanNya, yang disebut Sunnatullah. Kalau kita hendak dilahirkannya ke duunia, hanya berasal dari setetes mani, kita pun lahir. Kalau kita hendak dimatikannya, bagaimanapun bertahan, kita pasti mati. Kita ini Dialah yang empunya. Bahkan nyawa kita; kalimat mudhaf dan mudhaf ilaihi di antara nyawa dan kita, arti sepintas lalu ialah bahwa nyawa kita sendiri kitalah yang empunya. Namun pada hakikatnya, yang empunya nyawa kita bukanlah kita, melainkan Dia. Jelas dikatakanNya dalam wahyuNya; Ruhi-hi, artinya; Nyawa-Nya, bukan Ruhi-iy; Roh atau naywaku! (Dengan K, huruf kecil).
Kalau sudah jelas bahwa nyawa kita sendiri bukan kita manusia yang empunya, apalah lagi yang kita kuasai dan kita punyai di dalam diri kita ini?
Tidak ada!
Maka tidaklah ada artinya mengakui Allah sebagai Rabbun, atau Pemelihara, kalau kita tidak mengakui yang selanjutnya, yaitu bahwa Allah itu sebagai Malikun adalah sebagai Penguasa atas kita manusia, Raja atas kita manusia, yang Memiliki atas diri seluruh manusia, termasuk aku dan engkau!
Oleh sebab hanya Dia Pemelihara dan hanya Dia Penguasa, maka hanya Dia pulalah yang Ilah, hanya Dia sajalah yang Tuhan, yang wajar buat disembah dan dipuja. KepadaNyalah kembali segala persembahan dan segala pemujaan.
Kita perlindungkan diri kepada Allah, Pemelihara, Penguasa dan Tuhan dari Sarwa Sekalian Alam, dan khusus dari seluruh manusia dari segala marabahaya.
Pada Surat yang telah lalu, Surat 113, al-Falaq kita memperlindungkan diri kepada Allah sebagai Pemelihara dari pergantian malam kepada siang, dari kejahatan segala apa pun yang Dia jadikan. Kita melindungkan diri kepadaNya, dalam keadaanNya sebagai Pemelihara dari kegelapan malam, dan kita pun melindungkan diri dari mantra dan tuju tukang sihir, ataupun dari bujuk rayu perempuan (sebagai ditafsirkan oleh Abu Muslim) dan dari hasad dengkinya orang yang dengki. Namun pada Surat penutup ini, Surat 114 kita berlindung kepada Allah dari satu macam bahaya yang timbul dari sesama manusia. Apakah bahaya itu?
Yaitu; "Dari kejahatan bisik-bisikan dari si pengintai-peluang." (ayat 4). lalah orang yang selalu mengintai kalau ada peluang. Yang selalu menunggu moga-moga kita terlengah. Maka saat kita terlengah itulah peluang yang baik baginya untuk membisik-bisikkan sesuatu!
"Yang membisik-bisikkan di dalam dada manusia." (ayat 5). Dia berbisik-bisik, bukan berterang-

terang. Dia masuk ke dalam dada manusia secara halus sekali. Dia menumpang dalam aliran darah, dan darah berpusat ke jantung, dan jantung terletak dalam dada. Maka dengan tidak disadari bisikan yang dimasukkan melalui jantung yang dibalik benteng dada itu, dengan tidak disadari terpengaruhlah oleh bisik itu. Sedianya kita akan maju; namun karena mendengar bisikan dalam dada itu, kita pun mundur.
Tadinya hati kita telah bulat hendak berjihad fi Sabilillah; namun karena bisikan yang menembus hati itu, kita tidak jadi berjihad. Kita menjadi ragu akan maju ke muka. Bisikan dalam hati yang menghasilkan ragu-ragu itu sangatlah menurunkan mutu kita sebagai manusia. Dan perasaan yang dibisikkan oleh sesuatu di dalam dada itu telah diberi nama dalam ayat-ayat ini, yaitu waswas! Dan dia pun telah menjadi bahaya Indonesia kita; waswas.
Siapa yang memasukkan waswas ini ke dalam dada kita? Ditegaskan oleh ayat terakhir. Dia terdiri; "Daripada jin dan manusia." (ayat 6).
Si pengintai-peluang (ayat 4) disebut si KHANNAS!
Ada yang halus atau secara halus; itulah yang dari jin.Ada yang kasar secara kasar, itulah yang dari manusia.
Keduanya membujuk, merayu, setelah memperhatikan bahwa kita lengah.
Karena kelengahan kita, timbullah penyakit waswas dalam dada, hilang keberanian menegakkan yang benar dan menangkis yang salah, sehingga rugilah hidup di tengah-tengah pergaulan manusia yang menempuh jalan berliku-liku ini.
Di ayat penghabisan ini telah dijelaskan bahwasanya si pengintai-peluang itu terdiri dari dua jenis, yaitu jin dan manusia. Al-Hasan menegaskan: "Keduanya sama-sama syaitan. Syaitan yang berupa jin memasukkan waswas ke dalam dada manusia. Adapun syaitan yang berupa manusia memasukkan waswas secara kasar."
Qatadah menjelaskan; "Di keduanya ada syaitannya. Di kalangan jin ada syaitan-syaitan, di kalangan manusia pun ada syaitan-syaitan."
Tafsir dari Ustazul Imam Syaikh Muhammad Abduh lebih menjelaskan lagi. Kata beliau: "Yang membisik-bisikkan (was-was) ke dalam hati manusia itu adalah dua macam. Pertama ialah yang disebut jin itu, yaitu makhluk yang tak nampak oleh mata dan tidak diketahui mana orangnya tetapi terasa bagaimana dia memasukkan pengaruhnya ke dalam hati, membisikkan, merayukan. Dan semacam lagi ialah perayu yang kasar, yaitu manusia-manusia yang mengajak dan menganjurkan kepada jalan yang salah."
Imam Ghazali di dalam kitabnya "Ihya' Ulumiddin" yang terkenal itu memberikan bimbingan terperinci, bagaimana usaha supaya di dalam kita melakukan sembahyang jangan sampai si Khannas itu dapat memasukkan pengaruhnya ke dalam dada kita. Di antara lain beliau menulis; "Apabila engkau membaca A`udzu billahi minasy-syaithanir-rajim, hendaklah engkau ingat bahwa musuh besarmu itu

(syaitan), selalu mengintipmu, dan jika engkau lengah niscaya dipalingkannya hatimu daripada ingat akan Allah. Asal mulanya ialah karena hasad dengkinya kepadamu, melihat engkau munajat menyeru Allah dan engkau bersujud kepadaNya. Padahal dia dikutuk Tuhan karena sekali bersalah menantang Tuhan, tidak mau sujud kepada Adam.

Dan sesungguhnya engkau memperlindungkan diri kepada Allah daripada perdayaan syaitan itu ialah dengan meninggalkan apa yang disukai syaitan, bukan semata-mata hanya berlindung diucapkan mulut. Karena orang yang telah diintai oleh binatang buas, sedang dia tahu, atau hendak diserang dan dibunuh oleh musuhnya, tidaklah akan menolong kalau hanya diucapkannya "Aku berlindung kepada Allah, bentengku yang kuat," padahal dia masih tegak juga di tempat Ucapkanlah ucapan itu, tetapi segeralah tinggalkan tempat yang berbahaya itu. Karena dengan ucapan saja tidaklah akan berfaedah.
Demikian jugalah adanya orang yang masih saja menuruti kehendak syahwatnya, padahal menurut syahwat itulah yang sangat disukai oleh syaitan dan dimurkai oleh Tuhan; tidaklah akan menolong kalau hanya ucapan, kalau hanya bacaan! Tetapi hendaklah di samping berucap dan membaca, ambil cepat tindakan meninggalkan lapangan syaitan itu dan masuk ke dalam benteng yang tidak sedikit pun dapat dimasuki oleh musuh. Benteng yang teguh kokoh itu ialah yang pemah dijelaskan oleh Tuhan Azza wa Jalla dengan perantaraan lidah NabiNya s.a.w. Bahwa Tuhan pernah berfirman kepada beliau (Hadis Qudsi):

لآ إله إلا اللهُ حِصْنِيْ ، فَمَنْ دَخَلَ أَمِنَ مِنْ عَذَابِيْ

"La Ilaha Illallah"; "Tidak ada Tuhan melainkan Allah adalah bentengKu; barangsiapa yang masuk melindungkan dirt ke dalam bentengKu, selamatlah is daripada azabKu."
Orang yang terpelihara dalam benteng itu ialah orang yang benar-benar tidak ada ma'budnya, tidak ada yang disembahnya selain Allah. Adapun orang yang mengambil hawa nafsunya menjadi Tuhannya, maka dia itu adalah di tempat permedanan syaitan, bukan berlindung di benteng Tuhan." – Sekian Ghazali.
* * * *
Maka banyaklah keterangan dari Rasulullah s.a.w sendiri tentang bagaimana pentingnya kedua Surat ini, yang selalu disebut "Mu`awwidzataini" (dua Surat perlindungan) untuk dijadikan bacaan pengokoh iman, penguat jiwa, penangkis bahaya.
Maka tersebutlah di dalam sebuah Hadis yang shahih, dirawikan oleh Bukhari, yang beliau terima dengan sanadnya daripada Ibu orang yang beriman Siti Aisyah (moga-moga Allah ridha kepadanya), bahwasanya junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w. apabila hendak masuk ke dalam tempat tidurnya setiap malam, dikumpulnya kedua telapak tangannya, kemudian itu dibacanya; mula-mula "Qul Huwallaahu Ahad", sesudah itu "Qul A'uudzu Bi Rabbit Falaqi", sesudah itu "Qul A'uudzu Bi Rabbin-naasi", yang ditampungkannya sambil membaca itu dengan kedua telapak tangannya itu. Setelah selesai, maka dibarutkannyalah kedua telapak tangannya itu pada bahagian-bahagian yang dapat dicapai
oleh kedua telapak tangannya itu, dengan dimulai dari kepalanya dan mukanya, terus kepada seluruh badannya sampai ke bawah. Diperbuatnya demikian sampai tiga kali."
Selain dari Bukhari, Hadis ini pun dirawikan oleh ash-Habus-Sunan.
Dan seketika penulis tafsir ini masih lagi kecil, cara pelaksanaan Hadis ini telah diajarkan kepadaku oleh ayahku dan guruku. Dan dalam perjalanan-perjalanan musafir ketika saya mengiiringkan beliau, jaranglah aku tidak melihat beliau melakukan demikian. Demikianlah adanya; Amin.