Oleh : Abu Al-Jauzaa
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
saudara
saudaraku seiman yang dirahmati Allah swt,walaupun saat ini sudah masuk
hampir pertengahan bulan Ramadhan,tak ada salahnya kami perlu
menyampaikan tentang Risalah Puasa dan ‘Idul Fitri dari postingan sdr
Abu Al-Jauzaa di forum myquran.org,semoga Risalah ini bisa bermanfaat
bagi kita semua.
dan inilah DAFTAR ISI Risalah tersebut :
1. Keutamaan-Keutamaan Puasa
2. Keutamaan-Keutamaan Bulan Ramadlan
3. Dorongan Mengerjakan Puasa Ramadlan
4. Syarat Wajib dan Rukun Puasa
5. Larangan Berbuka dengan Sengaja pada Bulan Ramadlan
6. Cara Penentuan Bulan Ramadlan
7. Menetapkan Niat Puasa
8. Waktu Berpuasa
9. Sahur
10. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa
11. Hal-Hal yang Harus Ditinggalkan oleh Orang yang Berpuasa
12. Hal-Hal yang Boleh Dilakukan Oleh Orang yang Berpuasa
13. Hal-Hal yang Disunnahkan di Bulan Ramadlan
14. Melatih Anak-Anak untuk Berpuasa
15. Orang-Orang yang Tidak Diwajibkan Berpuasa
16. Berbuka Puasa
17. Hukum Seputar Fidyah
18. Qadla Puasa Ramadlan
19. Lailatul-Qadar
20. I’tikaf
21. Shalat Tarawih
22. Zakat Fithrah
23. Menentukan Jatuhnya Tanggal 1 (Satu) Syawal
24. Larangan untuk Berpuasa di Dua Hari Raya
25. Shalat ‘Ied di Mushalla (Tanah Lapang)
26. Shalat ‘Ied
27. Bolehnya Mendengarkan Rebana (Duff) yang Dimainkan oleh Anak Kecil di Hari Raya
28. Ucapan Selamat (Tahniah) Hari Raya
29. Puasa Syawal
DAFTAR PUSTAKA
dan insyaAllah akan kami sampaikan secara bertahap
Dalam ayat lain Allah juga telah berfirman :
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan dalam sunnahnya bahwasannya puasa merupakan benteng dari hawa nafsu syahwat, penangkal dari sambaran api neraka, dan Allah ta’ala telah mengkhususkannya sebagai nama salah satu pintu surga. Beberapa keutamaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Puasa Sebagai Perisai
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada orang yang diliputi nafsu birahi untuk menikah. Jika dia tidak mampu untuk melaksanakannya, maka ia diperintahkan berpuasa untuk mengekang nafsu syahwatnya. Sebab puasa bisa menahan gejolak anggota tubuh dengan kelemahannya sehingga dapat mengekangnya dari tindakan yang menyimpang. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga telah menjelaskan bahwa surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai kesenangan syahwat. Oleh sebab itu, jelaslah kiranya bagi kita bahwa puasa itu dapat mementahkan syahwat dan menumpulkan ketajamannya yang bisa mendekatkan kepada api neraka, dan puasa itu bisa menjadi penyekat antara orang yang berpuasa dengan neraka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :
Dan tentunya, hanya puasa yang ikhlash dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya sajalah yang dapat menjadi perisai dari api neraka.
2. Puasa Dapat Memasukkan Seseorang ke dalam Surga
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa puasa itu dapat menjauhkan diri dari api neraka, yang otomatis mendekatkan dapat pelakunya kepada surga, bi-idznillaah.
Diriwayatkan dari Abu Umamah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
3. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pahala Tak Terhitung Nilainya.
4. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kebahagiaan.
5. Bau Mulut Orang yang Berpuasa Lebih Harum di Hadapan Allah Ta’ala daripada Bau Misk (Kesturi).
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : Telah berfirman Allah ta’ala (merupakan hadits qudsi) :
6. Puasa dan Al-Qur’an akan Memberi Syafa’at Bagi Orang Yang Menjalankannya
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
7. Puasa Sebagai Kaffarat (Penebus Dosa)
Diantara keutamaan yang hanya dimiliki oleh ibadah puasa adalah bahwa Allah ta’ala telah menjadikan puasa sebagai penebus dosa bagi orang yang mencukur kepala dalam ihram karena ada halangan baginya, baik karena sakit atau karena gangguan yang terdapat pada kepala (lihat QS. Al-Baqarah : 196). Dan puasa juga dapat menjadi kaffarat karena tidak mampu memotong hewan kurban (QS. Al-Baqarah : 196), membunuh seseorang yang berada dalam perjanjian karena kesalahan atau tidak sengaja (QS. An-Nisaa’ : 92), melanggar sumpah (QS. Al-Maaidah : 89), membunuh binatang buruan pada saat ihram (QS. Al-Maaidah : 95), dan zhihar (QS. Al-Mujaadilah : 3-4).
Demikian halnya dengan puasa dan shadaqah, keduanya berperan serta dalam penebus pelanggaran dosa seseorang, baik di dalam keluarga, harta, atau tetangga. Dari Hudzaifah bin Yaman radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
فتنة الرجل في أهله وماله وولده وجاره تكفرها الصلاة والصوم والصدقة
“Fitnah (ujian) seseorang dalam keluarga (istri), harta, anak, dan tetangganya dapat ditutupi dengan shalat, puasa, dan shadaqah” (HR. Bukhari no. 502 dan Muslim no. 144).
8. Ar-Rayyan Disediakan Bagi Orang-Orang yang Berpuasa
إن في الجنة بابا يقال له الريان يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل معهم أحد غيرهم يقال أين الصائمون فيدخلون منه فإذا دخل آخرهم أغلق فلم يدخل منه أحد (من دخل شرب ومن شرب لم يظمأ أبدا)
“Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyaan. Dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorang pun yang masuk ke pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa. Dikatakan kepada mereka : “Dimana orang-orang yang berpuasa ?”. Maka mereka pun masuk melaluinya. Dan apabila orang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk melalui pintu tersebut. (Barangsiapa yang masuk, maka ia akan minum minuman surga. Dan barangsiapa yang minum minuman surga, maka ia tidak akan haus selamanya)” (HR. Bukhari no. 1797 dan Muslim 1152, dan tambahan terakhir – di dalam kurung – adalah riwayat dari Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1902).
Allah ta’ala telah menurunkan Kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi umat manusia, obat penyembuh bagi orang-orang yang beriman, petunjuk kepada jalan yang lurus, penunjuk kepada jalan kebajikan, dan menjadikan malam Lailatul-Qadar di bulan Ramadlan penuh dengan kebaikan. Allah ta’ala berfirman :
2. Setan-Setan Dibelenggu, Pintu-Pintu Neraka Ditutup, dan Pintu-Pintu Surga Dibuka
Pada bulan yang penuh berkah ini, kejahatan di muka bumi ini menjadi sedikit, karena jin-jin jahat dibelenggu dengan rantai dan diborgol sehingga mereka tidak bisa melakukan pengrusakan terhadap umat manusia sebagaimana mereka bisa melakukannya pada bulan-bulan selain Ramadlan. Karenanya kaum muslimin menjadi lebih berkonsentrasi menjalankan puasa yang merupakan pengekang hawa nafsu, dan juga mereka sibuk membaca Al-Qur’an dan berbagai macam ibadah lainnya yang mampu mendidik sekaligus menyucikan jiwa.
Oleh karena itulah ditutup pintu Jahannam dan dibuka pintu-pintu surga, karena banyaknya amal shalih serta ucapan dan perkataan yang bagus. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
3. Lailatul-Qadr
Allah ta’ala telah memilih bulan Ramadlan dikarenakan pada bulan tersebut Al-Qur’an diturunkan. Pada bulan tersebut terdapat Lailatul-Qadar, malam penuh barakah yang lebih baik daripada seribu bulan. Penjelasan selanjutnya akan diuraikan kemudian.
3.Dorongan Mengerjakan Puasa Ramadlan
1. Pengampunan Dosa
Pembuat Syari’at yang Maha Bijaksana telah memotivasi untuk berpuasa di bulan Ramadlan seraya menjelaskan keutamaan dan ketinggian kedudukannya. Sekalipun orang yang menjalankan puasa itu memiliki tumpukan dosa bak buih di lautan, niscaya dosa-dosa itu akan diampuni dengan melaksanakan ibadah yang penuh berkah ini, yaitu ibadah puasa. Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala (ihtisaaban) 1, niscaya akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari no. 1910 dan Muslim no. 759).
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
2. Dikabulkannya Doa dan Pembebasan dari Api Neraka
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
3. Termasuk dalam Golongan Para Shiddiqiin dan Syuhadaa’
Dari ‘Amar bin Murrah Al-Juhhani bercerita :
Catatan kaki :
1. Makna iimaanan wah-tisaaban (إيمانا واحتسابا) berarti percaya sepenuhnya akan kewajiban puasa tersebut serta mengharapkan pahalanya. Menjalankan puasa dengan sepenuh jiwa tanpa adanya unsur keterpaksaan dan juga tidak merasa keberatan untuk menjalaninya.
2. Pengampunan dosa-dosa tersebut hanya merupakan dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar akan diampuni oleh Allah apabila pelakunya bertaubat kepada Allah ta’ala dengan taubat nashuha. Maka, di bulan Ramadlan ini, pergunakanlah waktu yang mustajab ini untuk bertaubat meminta ampunan kepada Allah untuk semua dosa yang pernah kita lakukan.
Syarat Wajib dan Rukun Puasa
1. Syarat Wajib Puasa Ada Empat :
a. Islam
b. Baligh (Dewasa)
c. Berakal Sehat
d. Mukim
e. Berkesanggupan Puasa
f. Tidak dalam Keadaan Haidl dan Nifas
2. Rukun Puasa Ada Dua:
a. Niat (dalam Hati)
b. Meninggalkan Hal-Hal yang Membatalkan Puasa (Makan, Minum, Jima’ di Siang Hari, dan Muntah yang Disengaja).
Dari Abu Umamah Al-Bahili radliyallaahu ‘anhu berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
بينا انا نائم إذ أتاني رجلان فأخذا بضبعي فأتيا بي جبلا وعرا فقالا لي اصعد حتى إذا كنت في سواء الجبل فإذا انا بصوت شديد فقلت ما هذه الأصوات قال هذا عواء أهل النار ثم انطلق بي فإذا بقوم معلقين بعراقيبهم مشققة اشداقهم تسيل اشداقهم دما فقلت من هؤلاء فقيل هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم
“Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal seraya berkata : “Naiklah”. Hingga sampailah aku di puncak gunung. Tiba-tiba aku mendengar suara yang keras sekali. Maka aku tanyakan,”Suara apakah itu?”. Salah satu dari mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka”. Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan ternyata aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka. Mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalir darah. Kemudian aku bertanya,”Siapakah mereka itu?”. Maka dikatakan, ”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (dengan sengaja) sebelum tiba waktunya” (HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubra no. 3286, Ibnu Hibban no. 7491, Ibnu Khuzaimah no. 1986, dan lain-lain. Lihat Ta’liqatul-Hisaan ‘alaa Shahih Ibni Hibban 10/456 no. 7448).
Catatan : Jika hadits di atas menceritakan ancaman bagi orang yang berbuka puasa dengan sengaja sebelum tiba waktunya, lantas bagaimana dengan orang yang sengaja memang tidak berpuasa semenjak awal hari ? Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kaum muslimin semua ……
bersambung==>
Sumber : Myquran.com
foto :rohis-facebook.blogspot.com
