Oleh : Amin Yadi
Ketika turun surat Huud ayat 112, Nabi Muhammad saw berkomentar,
“Ayat ini membuat rambutku beruban.” Hal ini menunjukkan bahwa menurut
beliau, memelihara amal agar senantiasa dilaksanakan memanglah berat.
Isi ayat tersebut adalah tentang konsistensi dimana Allah berfirman:
Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud 11:112)
Konsistensi Adalah Kunci Kesuksesan
Perumpamaan sukses yang paling mudah adalah petani yang berhasil
memanen padinya. Ia menanam, merawat, memberi pupuk, membasmi hama,
membuang rumput yang tumbuh, mengusir burung-burung, sampai akhirnya
berhasil memanen ketika musimnya tiba. Petani yang menanam tanpa merawat
tidak bisa memanen. Petani yang memupuk tanpa membasmi hama akan
kecewa. Petani yang tidak membuang rumput tidak akan memperoleh hasil.
Dan petani yang tidak mengusir burung mungkin hanya akan memanen
beberapa bulir padi sebanyak yang disisakan burung-burung.
Orang yang beramal tanpa konsistensi dapat digambarkan sebagai orang
yang telah menanam tetapi tidak merawat sehingga amalnya layu, kurus
kering, hancur diserang dosa, atau bahkan habis musnah sehingga ketika
datang saatnya menghadap Allah, ia kebingungan karena tidak satu bulir
pun pahala bisa dipetiknya. Na’uudzubillaahi min dzaalik.
Gambaran penyesalan dari orang yang tidak dapat memetik hasilnya pada
hari kiamat dilukiskan dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 266:
Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang Dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS Al Baqarah 2; 266)
Mengapa Tidak Konsisten?
Beberapa hal yang menyebabkannya tidak konsisten adalah:
1. Kesibukan yang Mengaburkan Prioritas
Menjelang Ramadhan, volume pekerjaan di kantor Dani meningkat
drastis. Banyak pertemuan dengan pihak ketiga yang jadwalnya dimajukan
untuk mengantisipasi alasan jam karet dan ‘ibadah berbaring’ yang sering
mereka ajukan sebagaimana pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Sebagai
akibatnya, waktu yang biasanya ditargetkan untuk menuntaskan pelayanan
terhadap satu pihak ‘dimampatkan’ untuk melayani tiga bahkan empat pihak
sekaligus.
Kesibukan semacam ini sempat diberitahukannya kepada penanggungjawab
rubrik, dan dengan bijak penanggungjawab rubriknya memberi izin untuk
tidak menulis pada saat-saat tersebut. Saat itu Dani lupa bahwa menulis
di rubrik tersebut merupakan aktifitas yang telah dijadikannya salah
satu prioritas utama.
2. Menunda
Meskipun ia sangat sibuk sebagaimana poin 1 diatas, sebenarnya tetap
ada cukup waktu untuk menulis andai saja ia tidak menunda-nunda. Memang
Ramadhan membuat siapa pun merasa dikejar-kejar waktu, tetapi justru
karena itulah pahala pada bulan tersebut dilipatgandakan. Dengan alasan
perlu istirahat, mengerjakan ini-itu dan sebagainya, Dani lebih memilih
untuk tidak mengirim artikel ke rubrik yang menjadi amanahnya
.
3. Perfectionist
Penyebab lain Dani tidak menulis adalah sifatnya yang perfectionist,
selalu ingin membuat hasil pekerjaannya sesempurna mungkin. Hal ini
membuatnya men-delete semua tulisan yang sempat tertuang karena merasa
bahwa tulisan tersebut kurang berbobot, terlalu berat, tidak cocok dan
sebagainya. Seandainya saat itu ia mau menyingkirkan sifat
perfectionist-nya, ia bisa tetap mengirik kontribusi lalu memberi
kesempatan kepada redaksi untuk mengedit, menyempurnakan atau memintanya
memperbaiki tulisan dan mengirimkannya kembali dengan beberapa saran
perbaikan.
Pelajaran Agar Kita Konsisten
1. Ikhlas
Meskipun kita tidak bisa menilai keikhlasan hati Dani, tetapi syarat
mutlak agar kita bisa konsisten adalah ikhlas. Tanpa keikhlasan, kita
akan merasa berat dan selalu mencari-cari alasan untuk meninggalkan
suatu amal. Dengan keikhlasan, kita akan mencintai suatu amal sehingga
tetap melaksanakannya dalam kondisi apa pun. Tanpa bosan, tanpa pernah
puas dan tanpa rasa malas atau enggan.
2. Membuat Skala Prioritas
Selain manajemen waktu, penting sekali untuk membuat skala prioritas.
Orang yang memiliki skala prioritas akan sukses dalam jangka panjang,
jangka menengah maupun jangka pendek. Skala prioritas itu seperti
menjadi penuntun baginya untuk mengiyakan atau menolak sebuah kegiatan.
Tanpa skala prioritas, orang akan terombang-ambing dalam banyak
kesibukan yang tidak efektif. Ia menyanggupi banyak hal, tidak berani
menolak banyak hal, atau mengiyakan hal-hal yang remeh sementara menolak
hal-hal yang justru strategis. Hal ini akan membuatnya gagal dalam
jangka panjang, jangka menengah, bahkan mungkin juga gagal dalam jangka
pendeknya.
3. Jangan Suka Menunda
Salah satu candaan yang sering kita dengar adalah, “Jangan lakukan
sekarang apa yang bisa ditunda besok”. Pada kenyataannya, kebiasaan
menunda memberi banyak efek negatif. Menunda membuat kita terbebani dua
kali karena pada saat menunda, pikiran kita tetap dihantui oleh
pekerjaan tersebut meskipun kita sedang melakukan kegiatan yang lain.
Tidak jarang juga menunda berarti menghilangkan kesempatan kita untuk
mengerjakannya sama sekali, karena ketika kita menunda sangat mungkin
pekerjaan tersebut akan diselesaikan oleh orang lain.
4. Realistis Dengan Tetap Memberikan yang Terbaik
Kita harus terbiasa memberikan hasil terbaik secara realistis, sesuai
dengan deadline yang ditetapkan. Memberi makan orang kelaparan tidak
boleh menunggu sampai kita berhasil menyajikan makanan yang lezat, dan
menyebarkan dakwah tidak boleh ditunda sampai orang tidak mempunyai
celah untuk mengkritik ucapan kita. Dalam perumpamaan lain, kita harus
mengumpulkan tugas kesenian meski kita belum sekelas maestro dan kita
boleh bernasyid ria meski kita bukan diva. Ketika mengemban sebuah
amanah, kita harus mengerjakannya sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasil
terbaik itu tanpa perlu menjadikan hasil tersebut sebagai yang paling
sempurna.
5. Beramal Bersama
Melibatkan teman apalagi banyak orang dalam sebuah aktifitas membuat
kita lebih bersemangat dan lebih konsisten dalam menjaga suatu amal.
Setiap manusia mengalami masa naik turunnya keimanan. Agar tetap
terjaga, Islam menganjurkan kita terikat dalam jamaah sehingga saudara
yang imannya sedang naik bisa mengingatkan saudaranya yang imannya
sedang turun, lalu bergantian pada kesempatan yang lain ketika
kondisinya berkebalikan dan seterusnya.
Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin…. [Fimadani]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar