Oleh : Arda Chandra
Proses penyebaran Al-Qur’an dijaman Rasulullah bisa diibaratkan
dengan memperbanyak copy-an album rekaman oleh produser kedalam kaset
atau CD. Selesai lagu diciptakan maka bunyi yang dihasilkan disimpan
dalam kaset/CD, digandakan lalu disebarkan ke masyarakat luas. Setiap
orang memiliki kaset/CD tersebut, kalaupun ada yang tidak punya, dia
bisa meminjam atau ‘numpang mendengar’ kaset/CD milik tetangga. Apabila
rusak, maka si pemilik bisa merujuk kepada kaset/CD yang lain yang tidak
rusak, jaman dulu tidak ada kaset/CD, yang ada otak manusia sebagai
sarana penyimpannya.
Selama proses perekaman kedalam kaset/CD, ada juga yang sekalian
menulis lirik lagunya pada lembaran kertas, ada yang menulis 1 lirik
lagu, ada yang 2 buah, ketika selesai seluruh album, ada juga yang
menulis keseluruhan lirik lagu tersebut. Sekalipun keseluruhan album
belum selesai namun lagu-lagu yang ada dalam album tersebut sudah
diperdengarkan pada khalayak umum, menjadi ‘top-hit’ dan sering
diperdengarkan di stasiun radio, tapi karena dulu belum ada statsiun
radio, maka ‘lagu’ tersebut diperdengarkan di mesjid, 5 kali sehari.
Orang-orang yang sudah hapal juga menyanyikannya dirumah-rumah,
dinyanyikan bersama-sama, kalau ada yang salah menyanyikannya, maka
pihak lain akan membetulkan.
Ketika Rasulullah wafat, otomatis ‘master kaset’nya sudah tidak ada,
namun album sudah selesai dan lagu-lagu yang terdapat didalamnya sudah
menyebar-luas dinyanyikan orang terus-menerus. lalu datang yang namanya
Usman bin Affan, kepingin mengumpulkan lirik lagu tersebut dalam satu
buku, bagaimana caranya..?? Usman membentuk panitia dipimpin oleh Zaid
bin Tsabit, Zaid terkenal ‘fans berat’ album Rasulullah tersebut, selalu
hadir dalam setiap ‘konser’ beliau, ikut menyanyikan bersama-sama semua
lagu karena dia juga hapal liriknya. Apa yang dilakukan Zaid dalam
menuliskan lirik lagu-lagu tersebut..?? ternyata tidak sembarangan,
pertama, dia minta sama orang yang dulunya menulis lirik ketika proses
album tersebut dibuat untuk menyerahkan tulisannya, yang cuma nulis 1
lagu menyetor 1 lagu, yang menuliskan 2 lagu, menyetor 2 lagu, yang
nulis semua juga tidak ketinggalan menyerahkan semua catatan lirik lagu
tersebut. Zaid tidak berhenti hanya sampai disini, sebelum menyalin ke
dalam buku tersebut, dia ‘menyetel kaset’ yang dimiliki oleh
orang-orang. Kaset milik si A dipedengarkan, di crosscheck dengan milik
si B, lalu dia melotot memperhatikan naskah lirik yang sudah diterima,
baru dia tulis dalam lembaran buku tersebut.
Selesai menyalin semua lirik lagu yang terdapat dalam album tersebut,
Usman kemudian memusnahkan semua naskah yang diterimanya dari
orang-orang, mengapa..?? karena ini merupakan tindakan yang lumrah saja,
semua lirik lagu sudah disalin dalam sebuah buku, tertulis dengan rapi,
tersusun berdasarkan halaman-halaman. Lalu buat apa lagi menyimpan
catatan-catatan yang bentuknya bermacam-macam tersebut…? kalau mau
menyanyikan lagu tersebut, baca saja salinan yang sudah rapi, lagipula
sudah banyak yang hapal lagu-lagu yang liriknya ditulis dalam buku
tersebut. Apakah terjadi perdebatan..?? logikanya kalau hasil salinan
yang terdapat dalam buku tersebut berbeda dengan ‘isi kaset/CD’ yang
dimiliki oleh seseorang, tentu saja orang tersebut bakalan ngamuk,
kalaupun tidak ngamuk karena takut sama Usman yang berkuasa, bunyi yang
ada dalam kaset/CD-nya tetap saja tidak berubah, dia akan membawanya
kemanapun dia pergi, lalu ketika dia memperdengarkan kepada orang lain
pastilah lagu yang disampaikannya tetap berbeda dengan apa yang ditulis
oleh Zaid dalam buku liriknya. Katakanlah misalnya Ibnu Mas’ud
menyerahkan tulisan lirik-nya, ternyata salinan yang dibuat berbeda,
tapi kaset/CD yang dimiliki tetap tidak berubah. mana mungkin isi
kaset/CD bisa otomatis berubah karena lirik yang ditulis berbeda..??
Ternyata Zaid tidak hanya menyalinnya ke dalam 1 buku saja, ada yang
bilang disalin dalam 6 buku, ada juga yang bilang jumlahnya 9 buku,
berapapun jumlahnya yang jelas lebih dari satu. Buku-buku lirik lagu
tersebut disebarkan ke wilayah sekitar yang membutuhkan, ada yang
dikirim ke Mesir, ada yang ke Suriah, Irak, Yordania, dll. Hebatnya,
untuk setiap tempat pengiriman tersebut, Usman mengirimkan ‘kaset/CD’
nya juga karena orang tidak bisa belajar bernyanyi hanya dari tulisan
lirik yang ada diatas kertas, tapi harus MENDENGAR bagaimana lirik
tersebut dinyanyikan. Jadi ketika seseorang mulai belajar menyanyikan
lagu-lagu yang terdapat dalam album tersebut, mereka memegang buku
liriknya sekaligus mendengarkan bunyi yang berasal dari ‘kaset/CD’ yang
sudah ada ditengah-tengah mereka. Nah..salah satu kaset/CD yang
disebarkan tersebut termasuk juga Ibnu Mas’ud tadi, dia dikirim ke Irak
untuk ‘bernyanyi’ disana.
Orang-orang lalu menggandakan kaset/CD tersebut berdasarkan cara
demikian, seperti biasanya, lagu-lagunya tetap menjadi ‘top-hit’ di
kalangan masyarakat, dinyanyikan terus-menerus, diperdengarkan secara
meluas, kalau ada yang salah menyanyikannya, diketawain anak kecil,
karena anak kecilpun hapal lagu-lagunya. Beberapa ratus tahun kemudian,
buku lirik yang ditulis Zaid tersebut sudah tidak ada lagi, tapi orang
dengan gampang menyalin kembali liriknya dalam buku yang baru karena
lagu-lagunya sudah dihapal dan dikenal luas. Ada yang salah menulis
lirik akan cepat diketahui. Lalu apa buktinya bahwa diperjalanan tidak
terjadi kesalahan yang membuat lagu-lagu tersebut berubah..?? Lihat saja
faktanya sekarang, semuanya menyanyikan lagu yang sama. Kalau ada
kesalahan dan dibiarkan, tentu saja akan terjadi di satu wilayah orang
akan menyanyikan lagu yang berbeda, lalu berdasarkan lagu tersebut dia
menulis lirik yang berbeda pula. Bisa dibayangkan kalau kesalahan
tersebut berasal dari waktu awalnya, sudah pasti perbedaan tersebut
makin luas terjadinya. Katakanlah Ibnu Mas’ud memang punya kaset/CD yang
bunyinya berbeda, pasti orang-orang yang mendengar dia bernyanyi juga
akan mendapatkan input yang berbeda, lalu menghapalkan lagu yang
berbeda, menyebar-luaskan lagu yang tidak sama. Alhasil sekarang pasti
di wilayah tempat dulunya Ibnu Mas’ud bernyanyi akan memiliki lagu yang
berbeda, tapi faktanya koq tetap sama…??
Sekarang, setelah ribuan tahun, ada yang bilang :”Ditemukan buku
lirik milik Ibnu Mas’ud yang mengakui judul yang sama, tapi memuat lagu
yang berbeda, buku tersebut ditulis oleh dia yang dekat dengan
Rasulullah, jadi ikut mendengar Rasulullah ‘bernyanyi’, pasti buku lirik
miliknya-lah yang lebih benar..”. Masalahnya omongan ini tidak ada
buktinya karena yang ngomong tersebut sama sekali tidak bisa menunjukkan
mana bukunya, apalagi diwilayah mana orang menyanyikan lagu yang
berbeda tersebut. Omongan ini hanya berdasarkan ‘katanya’. Lalu kita mau
bilang apa..?? Semua orang tetap saja menyanyikan lagu yang sama, yang
selalu populer di masyarakat, digemari secara lintas generasi, ketika
generasi tua menghilang, muncul generasi baru sesudahnya yang
menyanyikan lagu-lagu dari album tersebut.
Demikian penjelasan mengapa Al-Qur’an yang ada sekarang hanya ada 1 versi, kalau tidak ngerti juga, kebangetan……..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar