Oleh :
Prof. Madya DR. Muhammad Asri Zainal Abidin
Banyak orang salah sangka jika membayangkan negara yang dipimpin
berdasarkan Al Quran dan As Sunnah itu sebagai negara yang agenda
utamanya memata-matai dan menghukum rakyat yang tidak mematuhi syariat.
Gambaran negara yang Islami sebagai negara yang sibuk mencari
terdakwa untuk dihukum dengan undang-undang hudud adalah gambaran yang
salah yang ada di pikiran sebagian pihak yang kurang memahami Islam.
Seperti yang saya jelaskan sebelum ini, hudud hanya mekanisme untuk
mengatasi
jinayah-jinayah (kriminalitas) tertentu, bukan gambaran keseluruhan negara Islam, bahkan bukan hudud juga undang-undang yang merangkum semua
jinayah (kejahatan).
Banyak lagi
jinayah (kejahatan) yang tidak tersenarai di bawah hudud. Sebagian besar
jinayah (kejahatan) bermacam-macam, terutama di zaman ini, berada di bawah
takzir (
discretionary punishment). Mekanisme ini juga memerlukan suasana yang kondusif untuk pelaksanaannya.
Seseorang Muslim jika berbicara tentang pemerintahan dan tanggungjawab pemerintahan bukanlah membayangkan mekanisme mengatasi
jinayah
(kejahatan) semata, tetapi membayangkan tanggungjawab keadilan dan
kebajikan yang menjadi asas tersebarnya kebaikan dan keamanan dalam
negara.
Karena itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz saat beliau dilantik menjadi
khalifah, beliau seakan tergumam dan begitu mengiba. Beliau terus
bersendirian bershalat dan menangis. Airmatanya bercucuran hingga ke
janggutnya. Bila isterinya Fatimah bertanya, dia berkata:
“Wahai Fatimah! Aku telah dikalungkan
urusan umat Muhammad ini yang meliputi berbagai bangsa. Maka aku
terpikir tentang orang fakir yang lapar, yang sakit lagi derita, orang
yang tidak berpakaian yang susah, orang yang dizhalimi lagi dipaksa,
tawanan perang yang jauh, orang tua yang udzur, orang yang mempunyai
keluarga yang banyak sedangkan hartanya sedikit dan seumpama mereka yang
berada di segala tempat dan penjuru negara. Aku tahu tuhanku akan
bertanya padaku mengenai mereka pada Hari Kiamat kelak. Aku bimbang
alasanku tidak cukup kukuh untuk menjawabnya, lalu aku pun menangis.”
(Adz Dzahabi, Tarikh Al Islam wa Wafayat Al Masyahir wa Al A’lam, 7/197.
Beirut: Dar Al Kitab Al ‘Arabi/1407H)
Demikianlah gambaran tanggungjawab pemerintahan yang ada dalam
pemikiran beliau. Tanggungjawab menyebarkan kebajikan, pembagian harta
yang adil dan amanah serta kebaikan untuk rakyat di segenap lapisan
masyarakat. Tanggungjawab inilah yang beliau takut dan bimbang Allah
hukum beliau di akhirat kelak. Inilah asas kerahmatan dalam kepimpinan
negara yang berdasarkan wahyu Allah. Tanggungjawab pemerintah di hadapan
Allah tentang kebajikan rakyat lebih ditakuti dibandingkan di hadapan
rakyat sendiri atau
‘Komisi Pemberantasan Korupsi’.
Itulah gambaran negara yang sepatutnya berada dalam pemikiran umat
Islam yang cintakan Islam. Para sarjana Islam telah lama mengatkan hal
ini. Muhammad bin Ka’ab Al Qurtubi jika diminta oleh ‘Umar bin Abdul
Aziz untuk menyifatkan keadilan pemerintah, katanya:
“Jadilah engkau ayah bagi yang muda, anak
kepada yang tua, saudara kepada yang sebaya. Demikian juga kepada
wanita. Hukumlah manusia dengan kadar kesalahan dan kemampuan mereka.
Jangan engkau pukul disebabkan kemarahanmu walaupun satu pukulan, nanti
engkau termasuk dalam golongan yang melampau.” ( Ibn Muflih, Al Adab Asy
Syar‘iyyah, 1/202. Beirut: Muassasah Ar Risalah/1417H).
Membedakan Jenis Jinayah (Kejahatan)
Dalam hudud ada dua jenis dosa yang dihukum;
pertama; dosa
yang melibatkan kesalahan individu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala
seperti berzina dan minum arak. Dosa bagian ini lebih kepada merusakkan
diri pelaku itu sendiri.
Kedua; dosa yang merusakkan atau
mengancam keselamatan masyarakat awam seperti merompak, memperkosa,
mencuri, memberontak, dan perkara yang berkaitan dengannya.
Dosa bagian pertama Islam melarang kita melakukan
tajassus ataupun memata-matai. Sementara dosa bagian kedua, oleh karena ia mengancam masyarakat dan fitnah lebih besar dari
tajassus, maka memata-matai boleh dilakukan. Ini seperti yang disebut oleh Al Imam Asy Syaukani (meninggal 1250H):
“Aku katakan; jika hanya semata-mata
sangkaan maka tidak mencukupi dalam hal ini. Bahkan mestilah dengan
pengetahuan, jika tidak, ia termasuk dalam tajassus yang dilarang
berdasarkan dalil Al Quran. Namun dibolehkan untuk suatu kemaslahatan
yang mana membantah kemungkaran itu lebih kukuh dibandingkan
meninggalkan tajassus dan kerusakan meninggalkan bantahan terhadap kemungkaran lebih dahsyat dari kerusakan tajassus. Atau mungkin boleh digabungkan bahawa pengharaman tajassus berkaitan dengan tanpa pengetahuan (sangkaan) karena tidak dinamakan tajassus jika perlaksananya benar-benar mengetahui.” (Asy Syaukani, As Sail Al Jarar, 4/591 Beirut: Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah/1405H)
Hudud dan Hak Privasi
Banyak akan menganggap, jika
hudud dilaksanakan berarti
privacy individu
akan terganggu. Memata-matai di sana-sini akan dibuat untuk mencari
orang yang berzina dan minum arak. Ini diburukkan lagi dengan gambaran
perlaksanaan sekarang yang dilakukan oleh pihak penegak agama di
sebagian tempat jika mereka seakan memasang ‘
spy’ dalam mencari pelaku maksiat pribadi. Hal ini amat salah dan bertentangan dengan firman Allah dalam Surah Al Hujurat ayat 12:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah
kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang
dilarang) karena sesungguhnya sebagian dari sangkaan itu adalah dosa;
dan janganlah kamu mengintip mencari-cari kesalahan orang..”
Dr Yusuf Al Qaradhawi menyebut:
“Aku ingin agar diberikan perhatian tentang perkara yang penting mengenai
hudud;
bahwa Islam tidak terkejar-kejar mencari bukti, tidak mengintai untuk
melaksanakan hukum ke atas pelaku kesalahan, tidak mencipta alat untuk
mencari rahasia pelaku maksiat atau memasang kamera tersembunyi
mengambil gambar ketika mereka melakukan
jinayah (kejahatan). Tidak pula membentuk polisi pencari
jinayah
(kejahatan) atau mata-amata untuk mengintip mereka yang menyalahi
syara’ sehingga dianggap yang terlibat. Bahkan kita dapati panduan Islam
dalam hal ini tegas setegas-tegasnya dalam memelihara kehormatan
peribadi manusia, pengharaman
tajassus (memata-matai) dan mencari keaiban manusia. Tidak boleh dilakukan oleh individu, tidak juga oleh pihak pemerintah.” (
http://www.qaradawi.net/library/53/2534.html.)
Kemudian beliau mengemukakan dalil riwayat Al Hakim daripada ‘Abd Ar Rahman bin ‘Auf:
“Bahwa dia berpatroli bersama Umar bin Al
Khattab Radhiyallahu ‘Anhumma pada suatu malam di Madinah. Ketika
mereka sedang berjalan, tiba-tiba nampak nyala api di sebuah rumah.
Mereka pun pergi menuju ke situ sehingga saat dihampiri didapati
pintunya terkunci, di dalamnya ada sekumpulan orang dengan suara yang
kuat.
Lalu Umar Radhiyallahu ‘Anh berkata -sambil memegang tangan ‘Abdur
Rahman-: “Kau tahukah ini rumah siapa?.” Jawab: “Tidak.” Kata Umar: “Ini
rumah Rabi’ah bin Umayyah bin Kalaf, mereka sekarang sedang mabuk arak,
apa pendapat kamu?” Kata ‘Abdur Rahman: “Aku berpendapat kita sekarang
telah melakukan apa yang Allah larang, Allah berfirman: “Jangan kamu
mengintip.” Kita telah mengintip. Maka Umar pun pergi dan meninggalkan
mereka.”( Riwayat Al Hakim dalam
Al Mustadrak, dinilai shahih serta didukung oleh Adz Dzahabi).
Akibat dari amalan yang salah memberikan gambaran yang salah tentang
hudud. Islam dalam urusan
jinayah
(kejahatan) atau maksiat peribadi tidak membongkar yang tertutup,
sebaliknya hanya mencegah yang nyata dan zahir saja. Seperti kata Al
Imam Al Ghazali (meninggal 505H):
“Hendaklah kemungkaran tersebut zahir
(jelas) kepada ahli hisbah (pencegahan) tanpa perlu melakukan
memata-matai. Barangsiapa yang menutup sesuatu kemaksiatan di dalam
rumahnya, dan mengunci pintunya maka tidak harus untuk kita
mengintipnya. Allah Ta’ala telah melarang hal ini.” (Al Ghazali, Ihya
‘Ulum Al Din, 3/28, Beirut: Dar Al Khair/1990).
Membina Masyarakat Yang Pemaaf
Dalam perlaksanaan hudud, pemerintah hendaklah mendidik rakyat agar
mengelakkan sikap suka mengangkat kasus hudud kepada pihak mahkamah atau
berkuasa. Sebaliknya, hendaklah digalakkan pemaafan antara rakyat dan
diselesaikan di luar mahkamah. Ini seperti hadis Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam:
“Sesungguhnya pencuri pertama dalam Islam dibawa kepada Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu diperintahkan agar dipotong tangan.
Wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seakan kecewa sedih.
Mereka berkata: “Wahai Rasulullah! Seakan engkau membenci hal ini.”
Jawab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Mengapa tidaknya aku benci,
kamu semua telah menjadi penolong syaitan menentang saudara kamu.
Sesungguhnya tidak wajar bagi pemerintah yang diangkat kepadanya hukuman
had melainkan dilaksanakan.”
Lalu baginda membaca firman Allah: “Hendaklah kamu maafkan dan
lupakan kesalahan, tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa
kamu?” (Surah An Nur: 22)” (Riwayat Ahmad dan Al Hakim dalam
Al Mustadrak. Dihasankan oleh Al Albani dalam
Silsilah Ash Shahihah).
Keinginan sebagian masyarakat awam yang tidak faham yang seakan ‘
mengidam’ untuk melihat tangan dipotong adalah tidak serasi dengan inspirasi
hudud bahkan itu menjadikan mereka ‘
penolong syaitan’.
Hudud Memerlukan Ijtihad Baru
Tiada siapa yang mukmin menafikan kewujudan nash-nash hudud dalam Al
Quran dan As Sunnah. Hanya saja, perincian hudud itu memerlukan ijtihad
yang mengambil perhitungan soal perubahan zaman dan tempat. Umpamanya
kadar barang curian memerlukan ijtihad yang baru karena fuqaha sejak
dahulu berbeda dalam hal ini. Cara potongan; penggunaan alat moden dan
obatan modern juga perlu diambil perhatian atas sifat ihsan Islam dalam
semua perkataan. Demikian juga suasana masyarakat juga hendaklah diambil
pemikiran.
Demikian ruangan taubat dalam
hudud juga hendaklah diluaskan
dengan memakai mazhab yang luas dalam hal ini. Mereka yang bertaubat
sebelum tangkapan patut digugurkan hukuman
hudud dan boleh diganti dengan
takzir (
discretionary punishment).